Senin, 13 April 2009

Nyeri Kepala Tipe Tegang

PENDAHULUAN
Nyeri kepala merupakan masalah umum yang sering di-
jumpai dalam praktek sehari-hari, meskipun sebenarnya ­ ter-
utama dari jenis menahun ­ jarang sekali disebabkan oleh
gangguan organik.
Penelitian yang dilakukan di Surabaya (1984) menunjukkan
bahwa di antara 6488 pasien baru, 1227 (18,9%) datang karena
keluhan nyeri kepala; 180 di antaranya didiagnosis sebagai
migren. Sedangkan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta(1986)
didapatkan 273 (17,4%) pasien baru dengan nyeri kepala di
antara 1298 pasien baru yang berkunjung selama Januari sd.
Mei 1986.
Di Amerika Serikat, dalam satu tahun lebih dari 70% pen-
duduknya (pernah) mengalami nyeri kepala, lebih dari 5% men-
cari/mengusahakan pengobatan, tetapi hanya ± 1% yang datang
ke dokter/rumah sakit khusus untuk keluhan nyeri kepalanya.
KLASIFIKASI
Mengingat nyeri kepala merupakan gejala yang dapat dise-
babkan oleh berbagai kelainan baik struktural maupun fungsional,
maka diperlukan klasifikasi dan kriteria diagnosis dan masing-
masingjenis nyeri kepala agar didapatkan kesamaan pengertian.
Usaha klasifikasi tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun,
melibatkan para pakar dari seluruh dunia, dan pada tahun 1988
dihasilkan klasifikasi nyeri kepala oleh International Headache
Society (IHS) (Tabel 1).
DIAGNOSIS
Mengingat diagnosis nyeri kepala sebagian besar didasar-
kan atas keluhan, maka anamnesis memegang peranan penting.
Dalam praktek sehari-hari, jenis yang paling sering dijumpai
ialah nyeri kepala tipe tegang (tension-type headache) dan
migren (migraine); baru kemudian nyeri kepala yang dikaitkan
dengan penyakit sistemik, atau gangguan di sekitar wajah,
telinga, mata, gigi dan sinus paranasal. Nyeri kepala akibat
radang, aneurisma, tumor atau abses otak jarang ditemukan,
meskipun harus tetap merupakan perhatian karena penatalak-
sanaan yang berbeda.
ANAMNESIS
Mula timbul
Nyeri kepala yang dimulai sejak masa kanak-kanak, masa
remaja atau dewasa muda biasanya migren; jenis ini umumnya
berhenti pada saat menopause, meskipun pada beberapa kasus
justru mulai dirasakan pada masa tersebut.
Nyeri kepala tipe tegang dapat mulai diderita setiap saat; Se
dangkan nyeri kepala yang baru mulai dirasakan pada usia yang
lebih lanjut harus diselidiki kemungkinan penyebab organiknya
seperti arteritis temporalis, gangguan peredaran darah otak atau
tumor.
Hati-hati terhadap nyeri kepala yang progresif memberat
karena mungkin didasari kelainan organik; makin lama nyeri
kepala diderita tanpaberubah sifat, makin besar kemungkinan-
nya disebabkan oleh faktor-faktor yang jinak (benign).
Lokasi
Nyeri kepala migren dapat dirasakan di manapun, paling
sering di daerah temporal (pelipis), bisa unilateral, bilateral atau
berganti-ganti. Nyeri kepala unilateral di sekitar orbita dapat
disebabkan oleh nyeri kepala klaster.
Nyeri kepala akibat gangguan gigi-geligi, sinus atau mata
biasanya dirasakan di daerah frontal, dapat menjalar ke oksipital
dan Jeher, sedangkan nyeri bitemporal dapat disebabkan oleh
tumor sella/parasella. Nyeri kepala akibat tumor, bergantung
letaknya, bila supratentorial umumnya dirasakan di frontal atau
vertex, sedangkan bila letaknya infratentorial/fossa posterior
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 41
background image
Tabel 1. New International Headache Society classification of headache
1. Migraine
1.1 Migraine without aura
1.2 Migraine with aura
1.3 Opthalmoplegic migraine
1.4 Retinal migraine
1.5 Chil periodic syndromes that may
be precursors to or associated with
migraine
1.6 Complications of migraine
1.7 Migrainous disorder not fulfill-
ing above criteria
2. Tension-type headache
2.1 Episodic tensic.r -type headache
2.2 Chronic tension-type headache
2.3 Headache of the tension-type not
fulfilling above criteria
3. Cluster headache and chronic
paroxysmal hemicrania
3.1 Cluster headache
3.2 Chronic paroxysmal hemicrania
3.3 Cluster headache-like disorder not
fulfilling above criteria
4.
Miscellaneous headaches un-
associated with structural lesion
4.1 Idiopathic stabbing headache
4.2 External compression headache
4.3 Cold stimulus headache
4.4 Benign cough headache
4.5 Benign exertional headache
4.6 Headache associated with sexual
activity
5. Headache associated with head
trauma
5.1 Acute post-traumatic headache
5.2 Chronic post-traumatic headache
6. Headache associated with vas-
cular disorders
6. 1 Acute ischemic cerebrovascular
disorder
6.2 Intracranial hematoma
6.3 Subarachnoid hemorrhage
6.4 Unruptured vascular malforma-
tion
6.5 Arteritis
6.6 Carotid or vertebral artery pain
6.7 Venous thrombosis
6.8 Arterial hypertension
6.9 Headache associated with other
vascular disorder
7. Headache associated with non-
vascular intracranial disorder
7.1 Highcerebrospinalfluidpressure
7.2 Low cerebrospinal fluid pressure
7.3 Intracranial infection
7.4 Intracranial sarcoidosis and other
noninfectious inflamma tory
diseases
7.5 Headache related to intrathecal
injections
7.6 Intracranial neoplasm
7.7
Headache associated with
other intracranial disorder
8. Headache associated with sub-
stances or their withdrawal
8.1 Headache induced by acute
sub stance use or exposure
8.2 Headache induced by chronic
substance use or exposure
8.3 Headache from substance with
drawal (acute use)
8.4 Headache from substance with
drawal (chronic use)
8.5 Headache associated with sub
stances but with uncertain me
chanism
9. Headache associated with non-
cephalic infection
9.1 Viral infection
9.2 Bacterial infection
9.3 Headache related to other in
fection
10. Headache associated with
metabolic disorder
10.1 Hypoxia
10.2 Hypercapnia
10.3 Mixed hypoxia and hypercapnia
10.4 Hypoglycemia
10.5 Dialysis
10.6 Headache related to other meta
bolic abnormality
11. Headache or facial pain asso-
ciated with disorder of cra-
nium, neck, eyes, ears, nose,
sinuses, teeth, mouth, or other
facial or cranial structures
11.1 Cranial bone
11.2 Neck
11.3 Eyes
11.4 Ears
11.5 Nose and sinuses
11.6 Teeth, jaws, and related struc
tures
11.7 Temporomandibular
joint
disease
12.
Cranial neuralgias, nerve
trunk pain, and deafferenta-
tion pain
12.1 Persistent (in Contrast to tic-like)
pain of cranial nerve origin
12.2 Trigeminal neuralgia
12.3 Glossopharyngeal neuralgia
12.4 Nervus intermedius neuralgia
12.5 Superior laryngeal neuralgia
12.6 Occipital neuralgia
12.7
Central causes of head and
facial pain other than tic
douloureux
12.8
Facial pain not fulfilling
criteria in groups 1 or 12
13. Headache not classifiable
Source : Headache Classification Committee of the International Headache
Society
(1988)
biasanya dirasakan di oksipital. Bila tumor itu melibatkan dura
atau tulang, maka nyerinya dirasakan setempat.
Hematoma subdural dapat menyebabkan nyeri kepala yang
sedang, dirasakan di sekitar lesi, umumnya di daerah fronto-
parietal; bersifat khronis, intermiten, dimulai sejak trauma ter-
jadi.
Meskipun nyeri kepala tipe tegang terutama dirasakan di
daerah oksipital, leher dan sekitar bahu, kadang-kadang juga
bisa dirasakan di frontal, bisa unilateral maupun bilateral. Nyeri
daerah leher dan/atau bahu harus dibedakan dengan yang di-
sebabkan oleh gangguan diafragma atau iskemi miokard.
Frekuensi
Pola serangan nyeri dapat merupakan petunjuk diagnosis,
terutama tipe klaster yang khas, berupa serangan-serangan singkat
antara 30­90 menit, berulang 2­6 kali sehari selama beberapa
hari, kemudian dapat remisi selama beberapa minggu sampai
beberapa tahun.
Migren juga dapat bersifat sporadik, sedangkan nyeri ke-
pala tipe tegang umumnya bersifat menetap, berangsur-angsur
memberat atau berfluktuasi selama berhari-hari.
Sifat
Nyeri berdenyut dapat disebabkan oleh demam, migren,
hipertensi atau tumor hemangioma. Nyeri kepala akibat tumor
atau meningitis biasanya menetap dan nyeri, kadang-kadang
juga terasa berdenyut. Nyeri kepala tipe tegang dirasakan me-
nekan, persisten dan kadang-kadang dirasakan seperti diikat.
Nyeri paling hebat disebabkan oleh pecahnya aneurisma,
meningitis, demam, migren atau yang berhubungan dengan
hipentensi maligna; nyeri hebat dan mendadak (thunderclap),
apalagi bila disusul dengan rasa lemah dan penurunan kesadaran
harus dicurigai disebabkan oleh aneunisma intrakranial yang
pecah; di lain pihak, perdarahan yang tenlokalisasi di parenkim
otak tidak akan menyebabkan nyeri kepala, kecuali bila bocor ke
ruang ventrikel atau subanakhnoid.
Nyeri kepala akibat tumor atau abses biasanya bersifat Se-
dang, demikian juga dengan nyeri yang disebabkan oleh proses
di daerah sinus, gigi geligi atau mata.
Nyeri kepala migren jarang berlangsung lebih dari 14 jam,
yang khas ialah adanya periode bebas keluhan di antara serangan;
sedangkan nyeri kepala tipe tegang dapat berlangsung berhari-
hari, bahkan bertahun-tahun.
Nyeri yang terutama dirasakan di pagi hari, selain yang
disebabkan oleh tumor, juga dapat ditimbulkan oleh hipertensi,
atau migren biasa.
Mignen timbul di saat ketegangan emosional, cuaca panas,
kesibukan yang meningkat; sedangkan nyeri kepala yang ber-
hubungan dengan sinus muncul saat infeksi saluran napas, di
saat pergantian musim atau berkaitan dengan alergi.
Gejala penyerta
Gejala prodromal berupa perubahan suasana hati atau nafsu
makan dapat dirasakan 1 ­ 2 hari sebelum serangan migren;
selain itu juga migren kadang-kadang didahului semacam aura
berupa skotoma dan/atau parestesi
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
42
background image
Pembengkakan mukosa hidung dan/atau injeksi konjung-
tiva, selain disebabkan oleh alergi juga dapat ditemukan pada
serangan migren; tetapi bila unilateral, umumnya berkaitan
dengan nyeri kepala klaster.
Keluhan gastrointestinal berupa anoreksia, mual, muntah
biasanya dikaitkan dengan migren; meskipun demikian Se-
benarnya dapat ditemukan pada setiap jenis nyeri kepala; makin
berat nyeri kepala, makin sering gejala-gejala tersebut dirasakan.
Muntah tanpa didahului mual dapat merupakan gejala tumor
intrakranial, terutama yang terletak di fossa posterior; pada
migren dapat ditemukan gejala mual dan/atau munt saja tanpa
nyeri kepala yang berarti; selain itu pernah dijumpai keluhan-
keluhan lain seperti diare, konstipasi dan rasa kembung.
Poliuri merupakan gejala yang berkaitan dengan migren,
sedangkan pada tipe tegang, yang meningkat adalah frekuensinya.
Gejala-gejala psikik seperti insomnia, rasa Ielah, anoreksi,
malaise dan gangguan libido merupakan gejala-gejala depresi
yang umum menyertai penyakit-penyakit kronis; perlu diwas-
padai adanya gangguan kebiasaan atau pola pikir yang dapat
berkaitan dengan tumor intrakranial, seperti apati, keadaan ge-
lisah atau euforia.
Pasien yang sedang menderita migren biasanya lebih suka
tidak diganggu, sedangkan nyeri kepala tipe tegang dapat di-
ringankan dengan massage.
Keluhan-keluhan neurologik yang mungkin ditemukan
berupa rasa lemah, parestesi, afasi, diplopi, gangguan visus,
vertigo; adanya gejala-gejala tersebut, selain dapat merupakan
bagian dari serangan migren, juga dapat menandakan adanya
lesi organik. Vertigo juga kadang-kadang dirasakan, dapat
menyertai nyeri kepala pasca trauma atau tipe tegang.
Faktor pencetus
Migren dapat dicetuskan oleh banyak ha!, seperti alkohol,
obat-obatan, cahaya terang, rasa lelah, kurang tidur, stres, hipo-
glikemi; selain itu juga sering berkaitan dengan menstruasi dan
dalam banyak kasus sembuh selama hamil.
Nyeri kepala yang dicetuskan oleh exercise atau orgasme
dapat disebabkan oleh pecahnya aneurisma.
Penderita migren lebih suka duduk tegak, berbeda dengan
nyeri kepala akibat tumor yang penderitanya lebih suka ber-
baring dan menghindari perubahan posisi, terutama bangkit dari
tidur.
Mengejan atau batuk dapat mencetuskan semuajenis nyeri
kepala, kecuali tipe tegang.
Pasien nyeri kepala kiaster tidak dapat tenang selama se-
rangan, bahkan dapat kelihatan panik; tanda ini khas karena tidak
ditemui pada nyeri kepala jenis lain. Guncangan kepala (head
jolt) memperberat nyeri kepala, terutama akibat tumor; kadang-
kadang dijumpai juga pada nyeri kepala di saat demam, pasca
trauma atau meningitis; nyeri kepala tipe tegang tidak banyak
dipengaruhi.
Gangguan tidur yang menyertai nyeri kepala biasanya di-
sebabkan oleh anxietas atau depresi. Riwayat keluarga umumnya
dijumpai di kalangan pasien migren.
KEADAAN DARURAT PASIEN NYERI KEPALA
Nyeri kepala dapat menandakan keadaan darurat pada bebe-
rapa kasus, yang tersering ialah yang berkaitan dengan penyakit
sistemik; biasanya bersifat akut disertai gejala penyakit yang
mendasarinya.
Keluhan yang sebaiknya diperhatikan lebih lanjut ialah yang
bersifat
* Nyeri kepala yang pertama atau terberat dirasakan selama
ini, apalagi bila bersifat akut dan disertai gangguan neurologik.
* Nyeri kepala subakut yang memberat secara progresif dalam
beberapa hari/minggu.
* Nyeri kepala yang disertai demam, mual dan muntah yang
tidak berkaitan dengan penyakit sistemik.
* Nyeri kepala disertai gangguan neurologik fokal, papil-
edema, gangguan/perubahan kesadaran dan/atau kaku kuduk.
PEMERIKSAAN FISIK
Meliputi pemeriksaan umum berupa pencatatan fungsi vital
­ tekanan darah, frekuensi nadi, pernapasan, suhu tubuh untuk
menyingkirkan penyakit-penyakit sistemik; funduskopi penting
untuk mendeteksi adanya papiledema dan/atau tanda-tanda hi-
pertensi. Palpasi daerah kepala dan leher dilakukan untuk men-
deteksi kelainan lokal.
Rasa nyeri di daerah kepala, sinus dan/atau gigi geligi bisa
menyertai serangan migren dan beberapa saat sesudahnya; otot-
ototjuga bisa terasa nyeri, baik pada migren maupun pada nyeri
kepala tipe tegang; kadang-kadang nyeri ditimbulkan saat menyisir
rambut. Rasa nyeri ini perlu dibedakan dengan yang disebabkan
oleh miositis.
Pada tumor atau hematoma subdural, kadang-kadang nyeri
dapat dibangkitkan o!eh perkusi di daerah yang terkena. Nyeri
fokal dapat dijumpai di daerah bekas luka kepala.
Penekanan daerah arteri seperti di daerah temporal, supra-
orbital atau oksipital dapat mengurangi nyeri kepala migren
atau yang berkaitan dengan hipertensi. Nyeri kepala tipe tegang
dapat dikurangi dengan massage dan/atau kompres hangat di
daerah otot-otot kepala/leher, sebaliknya memberat bila otot/
daerah tersebut dimanipulasi terlalu keras.
Pemeriksaan neurologik, selain funduskopi, meliputi pe-
meriksaan tanda rangsang meningeal (Kernig, Brudzinsky, kaku
kuduk), fungsi saraf otak (pupil, gerak bola mata, sensibilitas
wajah), kekuatan motorik dan refleks, fungsi sensorik/sensibi-
litas dan fungsi mental terutama perubahan tingkah laku dan
kebiasaan.
Ptosis dapat menyertai serangan migren (oftalmoplegik),
tetapi harus diwaspadai kemungkinan disebabkan oleh tumor,
aneurisma, terutama bila disertai midriasis dan refleks cahaya
melambat.
Nyeri kepala tipe kiaster kadang-kadang dapat menyebabkan
sindrom Homer (miosis, ptosis, enoftalmus), sedangkan foto-
fobia dapat disertai injeksi sklera/konjungtiva pada meningitis,
kelainan sinus/mata, tumor, migren atau nyeri kepala tipe tegang.
Papiledema merupakan tanda adanya massa intrakranial
(tumor, hematom), kadang-kadang ditemukan pada ensefalopati
nipertensif.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 43
background image
RINGKASAN
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Nyeri kepala merupakan keluhan yang sering dijumpai
dalam praktek sehari-hari; sekalipun demikian, jarang yang
disebabkan oleh kelainan struktural otak.
Bila anamnesis/riwayat penyakitnya sesuai dengan salah
satu jenis nyeri kepala, dan pemeriksaan fisik dan neurologik
tidak menemukan kelainan, umumnya tidak diperlukan peme-
riksaan tambahan. Pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan
radiologik (foto Röntgen kepala, CT scan), pemeriksaan elektro-
fisiologik (EEG, EMG, potensial cetusan) atau pemeriksaan
laboratorium lain dilakukan hanya bila terdapat kecurigaan ada-
nya penyakitlgangguan struktural otak atau penyakit sistemik
yang mendasarinya.
Diagnosis umumnya ditegakkan terutama berdasarkan
anainnesis; pemeriksaan fisik dan neurologik dilakukan untuk
mendeteksi adanya kelainan yang (mungkin) mendasari keluhan
tersebut.
Keluhan nyeri kepala yang perlu diwaspadai ialah yang
berubah sifatnya dan keluhan sebelumnya, yang progresif, di-
sertai dengan gejala (neurologik) lain dan yang disertai gejala-
gejala sistemik.
Dalam kaitan ini, perlu selalu diingat bahwa seseorang
yang telah diketahui menderita (salah satu jenis) nyeri kepala
selama bertahun-tahun, suatu saat dapat terkena gangguan lain
yang salah satu gejalanyajuga berupa nyeri kepala; oleh karena
itu harus diwaspadai, terutama pada orang-orang yang meng-
alami perubahan sifat nyeri kepalanya danlatau yang disertai
gangguan neurologik.
KEPUSTAKAAN
1. Kumpulan Naskah Simposium Nyeri Kepala, Surabaya, 23 November 1985.
2. Dalessio Di, Silberstein SD (eds.). Wolff's Headache and Other Head Pain.
6th ad. Oxford University Press, 1993.
3. Wreksoatmodjo BR. Karakteristik Penderita Nyeri Kepala Menahun/Ber-
Wang di Poliklinik SarafFKUI/RSCM. Skripsi Pasca Sarjana, 1987

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar