Senin, 13 April 2009

KARAKTERISTIK PENDERITA KATARAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLI MATA PERJAN RS DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR PERIODE 1 JANUARI – 30 JUNI 2008

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Katarak merupakan setiap keadaan kekeruhan lensa mata yang dapat terjadi akibat penambahan cairan lensa, pemecahan protein lensa atau keduanya, dan dapat menimbulkan gangguan penglihatan jika terbentuk pada aksis penglihatan. Meskipun perkembangan katarak yang perlahan dan progresif sehingga awalnya pasien kadang tidak menyadari penyakitnya, tetapi katarak dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Sebagian besar katarak timbul pada usia tua sebagai akibat pajanan terus menerus terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya seperti merokok, radiasi sinar ultraviolet, dan peningkatan kadar gula darah. 1-5
Katarak kini masih menjadi penyakit paling dominan pada mata dan merupakan penyebab utama dari kebutaan di seluruh dunia. Paling sedikit 50% dari semua kebutaan disebabkan oleh katarak, dan 90% diantaranya terdapat di negara berkembang. Tidak terkecuali di Indonesia, dimana berdasarkan hasil survey kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1995-1996 prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dan lebih dari separuhnya disebabkan oleh katarak yang belum dioperasi. 6
Besarnya jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini boleh dikatakan berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut tahun 2000, yaitu diperkirakan 15,3 juta jiwa atau 7,4% dari total penduduk di Indonesia. Jumlah ini bahkan cenderung bertambah besar. Insiden katarak sebesar 0,1% (210.000 orang) per tahun. Sedangkan yang dioperasi hanya kurang lebih 80.000 orang per tahun. Akibatnya timbul penumpukan jumlah penderita katarak yang cukup tinggi. 7-8
Pada penelitian mata yang dilakukan oleh Framingham (Framingham Eye Study), insiden katarak meningkat dari 2,2% pada umur 55-59 tahun menjadi 46% pada umur 80 dan 84 tahun, sehingga katarak merupakan kelainan mata yang paling sering terjadi pada orang tua. 2
Faktor risiko katarak antara lain umur tua, merokok, gangguan metabolik seperti Diabetes Mellitus, paparan sinar ultraviolet berlebihan, penggunaan steroid jangka panjang (topikal dan sistemik), beberapa kondisi dermatologik, trauma akibat benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata, dan defisiensi antioksidan. 2, 9-10
Katarak dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu katarak kongenital, katarak yang berhubungan dengan gangguan lainnya, dan katarak yang berhubungan dengan umur atau katarak senil yang terdiri dari katarak nuklear, katarak kortikal, dan katarak subkapsular posterior. Pada penelitian epidemiologi oleh 838 Chesapeake Bay watermen, Taylor et all pada tahun 1988 menemukan bahwa paparan kumulatif terhadap radiasi ultraviolet selama periode bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak kortikal. 1, 11
Manajemen terapi untuk mengatasi katarak adalah dengan operasi untuk mengeluarkan lensa mata. Penelitian clinical trial dari agen yang dapat memperlambat atau mencegah formasi katarak sedang dilakukan, tetapi saat ini tidak ada agen farmakologik yang tersedia untuk mencegah terjadinya katarak dan tidak ada terapi medis yang dapat memperlambat atau mengembalikan perubahan kimia yang mendasari terbentuknya katarak.1, 9
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana karakteristik penderita katarak pada pasien rawat jalan di Perjan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar ?
C. Batasan masalah
Seperti halnya penyakit mata pada umumnya, katarak merupakan masalah kesehatan yang masih dihadapi baik oleh negara maju maupun negara berkembang, dimana katarak merupakan penyebab utama terjadinya kebutaan di seluruh dunia.
Mengingat kompleksnya masalah mengenai katarak maka dalam penulisan ini hanya dibatasi mengenai karakteristik penderita katarak pada pasien rawat jalan di Poli Mata Perjan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.



D. Tujuan
Tujuan Umum :
Untuk memperoleh informasi tentang karakteristik penderita katarak pada pasien rawat jalan di Poli Mata Perjan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi penderita katarak menurut umur.
2. Untuk mengetahui distribusi penderita katarak menurut jenis kelamin.
3. Untuk mengetahui distribusi penderita katarak menurut jenis katarak.
4. Untuk mengetahui distribusi penderita katarak menurut riwayat merokok.
5. Untuk mengetahui distribusi penderita katarak menurut riwayat Diabetes Mellitus.
E. Manfaat Penelitian
1. Sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian dokter pada bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
2. Sebagai sumber informasi dan bahan yang diharapkan bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.
3. Sebagai bahan masukan bagi pihak instansi yang berwenang untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan terapi pengobatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Katarak merupakan setiap keadaan kekeruhan dari lensa mata yang normalnya jernih, dapat terjadi akibat penambahan cairan lensa, pemecahan protein lensa atau keduanya, dan dapat menimbulkan gangguan penglihatan jika terbentuk pada aksis penglihatan. Karena katarak cenderung berkembang secara perlahan maka umumnya pasien tidak sepenuhnya sadar mengenai gangguan penglihatan yang dialaminya, dan karena katarak sering terjadi pada umur tua maka tidak jarang katarak ditemukan bersamaan dengan gangguan penglihatan yang lain. 1-5
B. Epidemiologi
Katarak atau kekeruhan lensa kristalin merupakan penyebab utama dari kebutaan yang dapat diobati di seluruh dunia. Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Amerika Serikat. Prevalensi katarak di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 50% pada orang yang berumur lebih dari 75 tahun. Empat juta orang di Amerika Serikat mengalami gangguan penglihatan akibat katarak dan diantaranya, 40.000 menjadi buta. 1, 3, 5, 10
Pasien umumnya mengalami katarak pada umur 60 tahun. Pada suatu penelitian cross sectional, prevalensi katarak sebesar 50% pada umur 65-74 tahun, dan prevalensinya meningkat menjadi 70% pada umur lebih dari 75 tahun. Di beberapa negara, jumlah penderita perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hal ini berarti, secara epidemiologi, lebih banyak perempuan yang menderita katarak. Sperduto dan Hiller menyatakan bahwa katarak ditemukan lebih sering pada perempuan dibanding laki-laki. Pada penelitian lain oleh Nishikori dan Yamamoto, perbandingan penderita laki-laki dan perempuan adalah 1 : 8 dengan dominasi pasien wanita yang berusia lebih dari 65 tahun dan menjalani operasi katarak. Perkins (1984) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa katarak lebih sering dijumpai pada perempuan daripada laki-laki. 1,3, 9, 12-14
C. Etiologi
Meskipun penyebab primer dari katarak bervariasi, tetapi 90% diantaranya berhubungan dengan umur atau katarak senil. Kekeruhan lensa mata, sebagian besar merupakan akibat degenerasi sekunder akibat kerusakan oleh proliferasi radikal bebas. 2, 10
D. Faktor Risiko
Faktor risiko katarak antara lain : 2-3, 5, 10, 12, 15-16
 Umur (semakin tua umur, semakin tinggi risiko terkena katarak)
 Gangguan metabolik (Diabetes mellitus, paparan zat toksik seperti kadmium (2-3 kali lebih tinggi pada katarak dibandingkan pada lensa mata normal; tembakau merupakan sumber utama kadmium). Katarak sangat berhubungan erat dengan penderita Diabetes mellitus. Kekeruhan yang terjadi pada lensa mata dapat timbul pada usia muda dan pada tingkat awal diabetes. Patogenesis katarak pada penderita Diabetes Mellitus brhubungan dengan metabolisme sorbitol dalam lensa mata yang terjadi pada keadaan hiperglikemia. Akibat dari penimbunan sorbitol akan menyebabkan masuknya cairan ke dalam lensa dan menimbulkan kekeruhan pada lensa mata. Beberapa studi telah menunjukkan korelasi yang kuat antara progresifitas katarak dengan Diabetes Mellitus yang mendasari seperti yang telah dilakukan Kim, dkk. (2006) yang menyimpulkan bahwa durasi diabetes adalah faktor yang sangat signifikan untuk terjadinya katarak pada penderita diabetes. Efek yang terakumulasi dari hiperglikemia terkait dengan kejernihan lensa pada diabetes.
 Paparan sinar ultraviolet yang berlebihan telah terbukti bersifat kataraktogenik (2-3 kali meningkatkan risiko).
 Merokok (2-3 kali meningkatkan risiko). Hubungan antara katarak dengan merokok telah dibuktikan pada beberapa penelitian. Beberapa penelitian menunjukkan terjadinya katarak tipe nuklear 2,5 kali lebih sering diantara para perokok dibandingkan yang tidak merokok. Penelitian terbaru mengenai hubungan merokok dengan katarak dilakukan secara prospektif pada 21.000 perawat laki-laki dan hasilnya menunjukkan bahwa pada mereka yang merokok lebih dari 20 batang perhari akan meningkatkan risiko katarak dua kali dibanding tidak merokok. Penelitian yang sama yang dilakukan pada wanita dan hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang merokok lebih dari 35 batang perhari akan meningkatkan risiko untuk terjadinya katarak sebesar 63% dibanding mereka yang tidak merokok.
 Efek samping obat (penggunaan jangka panjang steroid baik topikal maupun sistemik dapat menimbulkan kekeruhan lensa). Obat lain yang berhubungan dengan katarak meliputi fenothiazin, amiodaron, dan obat miotik kuat seperti fosfolin iodide.
 Defisiensi antioksidan yaitu vitamin A dan E, carotenoid dan selenium (level selenium pada akuous humor 60% lebih rendah pada orang dengan katarak), level superoksid dismutase yang rendah (enzim antioksidan endogen mayor), defisiensi zinc (90% lebih rendah pada katarak dibanding pada lensa mata normal), tembaga (90% lebih rendah), dan mangan (50% lebih rendah),
 Trauma akibat benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata
 Beberapa kondisi dermatologik.
E. Patogenesis
Patogenesis katarak belum sepenuhnya dipahami. Tetapi lensa mata yang mengalami katarak memiliki karakteristik adanya agregat protein yang menutupi lewatnya cahaya dan mengurangi transparansi lensa. Faktor-faktor yang dikatakan memiliki peran pada terbentuknya katarak adalah kerusakan oksidatif (dari reaksi radikal bebas), kerusakan akibat sinar ultraviolet, dan malnutrisi. Lensa mata terdiri dari epitel subkapsular, subepitel, mengandung cairan yang kaya nutrien yang membasahi lensa, dan serat-serat lamelar yang terdapat pada subepitelium. Sepanjang waktu atau dengan proses iritan maka terjadi edema, nekrosis, dan disrupsi dari serat lamelar yang berlapis-lapis dan mengakibatkan kekeruhan lensa. Penyakit metabolik juga dapat mengganggu cairan lensa mata. Penyebab pasti dari kekeruhan lensa mata tidak diketahui, tetapi paparan sinar ultraviolet sepanjang waktu telah terbukti. Selain itu, lensa mata yang semula jernih dapat berubah menjadi keruh akibat dehidrasi dan adanya sintesis poliyol oleh enzim aldose reduktase. 3, 9-10
F. Klasifikasi
Ada tiga jenis katarak yaitu katarak kongenital, katarak yang berhubungan dengan gangguan lainnya, dan katarak yang berhubungan dengan umur (senil). Beberapa jenis katarak dapat bersifat progresif dengan cepat, sedangkan yang lain bersifat progresif lambat. 1
Katarak kongenital
Katarak kongenital dapat merupakan akibat dari genetik atau dapat disebabkan oleh faktor intauterin yang mengganggu perkembangan normal dari lensa mata. Tiga faktor predisposisi yang paling umum diterima sebagai penyebab katarak kongenital adalah irradiasi pelvik prenatal, infeksi prenatal khususnya TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex, atau Herpes Zoster), dan penggunaan beberapa obat oleh ibu (kotikosteroid, sulfonamid, dan klorpromazin). Infeksi virus intrauterin (yang paling sering adalah rubella) dapat berlanjut menjadi katarak kongenital. 1, 3
Katarak kongenital secara relatif sering ditemukan pada 1 dari 2000 kelahiran hidup. Kasus katarak kongenital dapat ditemukan dengan atau tanpa adanya gangguan okuler atau sistemik yang lain. Tingkat keseriusan bervariasi dan berhubungan dengan penyebab dan morfologi. 5
Katarak kongenital dapat unilateral atau bilateral dan komplit atau inkomplit. Katarak padat yang terjadi saat kelahiran merupakan indikasi untuk manajemen operasi yang dilakukan segera untuk mencegah ambliopia. Fakoemulsifikasi atau aspirasi sederhana dengan kapsulotomi posterior sentral dan vitrektomi anterior terbatas merupakan manajemen operasi yang direkomendasikan untuk katarak kongenital. Yang ditinggalkan adalah kapsul posterior bagian perifer dan zonula yang penting untuk implantasi lensa intraokuler pada masa depan. Jika lensa yang mengalami katarak telah diaspirasi dan meninggalkan kapsul posterior tetap intak, maka kapsul posterior juga dapat menjadi opak (mengalami kekeruhan) dan hal ini membutuhkan kapsulotomi pada stadium akhir. Koreksi dengan lensa kontak lunak dapat dimulai segera setelah operasi dilakukan. Bagian posterior dari lensa intraokuler dapat diimplantasikan saat umur anak sudah lebih tua, meskipun anak yang berumur dua tahun dapat diberikan implan lensa intraokuler primer. Restorasi atau perbaikan penglihatan binokular pada anak yang masih sangat muda sulit dilakukan setelah pemindahan katarak kongenital yang unilateral. 1, 3
Katarak yang berhubungan dengan gangguan lain
Banyak kondisi sistemik yang dapat berhubungan dengan katarak, meliputi Diabetes Melitus, galaktosemia, hipokalsemia, distrofi miotonik, sindrom Down, dan gangguan kulit seperti dermatitis atopik. Beberapa kondisi inborn error of metabolism telah terbukti, dimana katarak sering terjadi pada pasien sindrom Down (terjadi setelah onset pubertas), dan mereka dengan galaktosemia. Katarak pada bayi dengan galaktosemia besifat reversibel dengan manajemen terapi yang lebih awal. Beberapa obat sistemik dan tetes mata yang mengandung kortikosteroid juga dapat menimbulkan katarak. Gangguan mata yang lain seperti ablasi retina atau uveitis kronik juga dapat berhubungan dengan katarak. Cedera fisik, mekanik, termal atau radiasi ion juga dapat berlanjut menjadi katarak. Katarak traumatik sering disebabkan oleh peluru senapan mainan dan percikan kembang api. Sedangkan penyebab lainnya meliputi panah, batu, benturan, paparan berlebihan terhadap panas, dan radiasi ion. Terapi untuk katarak tersebut sama dengan terapi pada katarak senil. 1, 3
Katarak yang berhubungan dengan umur
Merupakan jenis katarak yang paling sering terjadi, dimana tingkat progresinya bervariasi. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan slitlamp. Perubahan pada bagian nukleus lensa menimbulkan warna kecoklatan (brunescent). Pada inspeksi penderita katarak kortikal stadium lanjut, opasitas putih dapat terlihat pada daerah pupil. Katarak yang berhubungan dengan umur terjadi akibat beberapa proses interaksi. Penambahan lapisan dari serat lensa mata terus terjadi sepanjang kehidupan, yang dapat berlanjut menjadi kekeruhan pada nukleus lensa akibat dehidrasi. Selanjutnya, lapisan luar dapat berair dan menjadi lebih opak sehingga menimbulkan gangguan penglihatan. Predisposisi genetik pada katarak senil telah menjadi hipotesis penelitian, tetapi tidak terbukti. 1-2, 5
Katarak yang berhubungan dengan umur dapat dibagi berdasarkan lokasi kekeruhan lensa menjadi katarak nuklear, kortikal, atau subkapsular posterior. 11
 Katarak nuklear
Merupakan kekeruhan dari bagian nukleus lensa mata. Katarak ini tidak hanya menyebabkan kaburnya penglihatan, tetapi melibatkan peningkatan indeks refraksi lensa mata yang menyebabkan kesalahan refraksi sampai perubahan ke arah peningkatan terjadinya miopi. Tidak jarang seseorang dengan penglihatan normal (emetrop) menjadi miopi sebesar 2 sampai 3 dioptri, atau mata hiperopi menjadi kurang hiperopi sebesar 2 sampai 3 dioptri, selama terjadinya perkembangan katarak nuklear. Selain itu, lensa mata menjadi berwarna kekuningan atau kecoklatan yang dikenal sebagai katarak brunescent yang mengakibatkan kurangnya penglihatan warna biru dan ungu secara perlahan. Hampir semua katarak nuklear adalah bilateral tetapi dapat pula asimetris. 9, 11
 Katarak Kortikal
Merupakan opasitas atau kekeruhan pada bagian luar dari lensa mata, yaitu bagian korteks. Jika dilihat menggunakan biomikroskop atau oftalmoskop, katarak kortikal memiliki penampakan seperti roji akibat adanya perubahan pada hidrasi dari serat lensa yang membentuk pola radial disekitar daerah tengah lensa. Karena ia melibatkan bagian luar dari lensa mata, maka katarak kortikal sepertinya tidak mengganggu penglihatan pada awal stadium meskipun pupil menjadi sangat besar pada pencahayaan yang rendah. Katarak kortikal cenderung bilateral, tetapi kadang-kadang asimetris. 9, 11
 Katarak subkapsular posterior
Merupakan opasitas kecil pada bagian posterior dari kapsul yang mengelilingi lensa mata. Karena ia menimbulkan hambatan cahaya yang datang melalui bagian tengah pupil, maka gejala katarak subkapsular posterior cenderung terjadi lebih awal dan disertai gangguan penglihatan pada kondisi cahaya terang dimana pupil menjadi mengecil. Kekeruhan pada lokasi ini juga dapat merupakan akibat dari trauma, penggunaan kortikosteroid (topikal atau sistemik), inflamasi, atau paparan terhadap radiasi ion. 9, 11
G. Manifestasi Klinis
Penglihatan kabur secara gradual, progresif, tidak nyeri, dan dapat dirasakan unilateral atau bilateral. Pada mulanya gejala dapat asimtomatik dalam beberapa bulan sampai tahun, tetapi selanjutnya gangguan penglihatan bervariasi dari ringan sampai sangat mengganggu kemampuan visual. Dunia tampaknya dilihat seakan dari balik air terjun, sehingga dinamakan katarak. Pasien mengeluhkan masalah penglihatan pada malam hari khususnya saat berkendara, kesulitan melihat cahaya yang terang, dan diplopia monokuler. Pasien juga dapat mengeluh menurunnya penglihatan warna, dan bahkan mengalami “second sight” dimana hal ini merupakan gejala awal pada katarak nuklear yaitu adanya kemajuan dari kemampuan penglihatan jarak dekat. Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan kekuatan fokus pada bagian tengah lensa mata. 2-3, 9, 16
H. Pemeriksaan
Deteksi dan diagnosis dari katarak yang berhubungan dengan umur, seperti pada gangguan penglihatan lain yang berhubungan dengan umur, berdasarkan pada keluhan pasien dan penemuan klinik. Pasien dapat mengeluh penglihatan kabur, kadang terjadi pada situasi khusus seperti saat iluminasi rendah dimana pupil berdilatasi lebar (katarak nuklear atau kortikal) atau saat melihat langit yang cerah dan terang dimana pupil berkonstriksi (katarak subkapsular posterior). Visualisasi katarak dengan menggunakan biomikroskop atau dengan oftalmoskopi binokular secara langsung atau tidak langsung merupakan salah satu dari cara yang sederhana yang dapat dilakukan oleh seorang ahli mata. Katarak paling mudah dideteksi melalui pupil yang berdilatasi dari jarak 20-30 cm menggunakan oftalmoskop dengn lensa +4 sampai +5 dioptri. Pada pemeriksaan oftalmoskopi secara langsung, katarak yang kecil nampak sebagai bintik hitam dengan reflex merah. Pemeriksaan funduskopi sulit bahkan tidak dapat dilakukan karena kekeruhan lensa mata. 2-3, 11
I. Penatalaksanaan
Terapi pada katarak meliputi penggunaan kacamata, lensa kontak dan operasi. Teknologi baru pada kacamata dan lensa kontak dapat memperlambat perkembangan katarak dan juga meningkatkan kemampuan penglihatan yang masih tersisa. Umumnya katarak tidak dioperasi sampai kemampuan penglihatan sudah tidak dapat diperbaiki dengan kacamata atau lensa kontak. 16
Operasi katarak merupakan operasi mata yang paling sering dilakukan dan merupakan prosedur operasi yang paling sering dilakukan di Amerika Serikat. Indikasi dari operasi pemindahan lensa adalah gangguan visual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien. Operasi katarak bertujuan untuk memperbaiki penglihatan dan kualitas hidup pasien dan untuk mencegah glaukoma atau uveitis sekunder. Tidak ada batasan yang jelas kapan saat yang tepat untuk pasien menjalani operasi katarak. Keputusan untuk melakukan operasi biasanya tergantung dari apakah pasien masih cukup mampu melihat aktivitas apa yang akan dilakukannya. Faktor yang harus dipertimbangkan antara lain harapan hidup pasien, level ketidakmampuan penglihatan saat ini, status atau penyakit medis yang lain, situasi keluarga dan sosial, dan harapan pasien. Sebelum operasi dilakukan, pemeriksaan yang penting dilakukan adalah mengukur fungsi retina, tekanan intraokuler dan kemungkinan adanya lesi lain pada mata seperti tumor. Manfaat dari evaluasi preoperatif sebelum dilakukannya operasi katarak telah diteliti. Schein et all mempublikasikan laporan yang menunjukkan bahwa pemeriksaan laboratorium rutin dan skrining elektrokardiogram tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil operasi. Pasien harus menjalani anamnesis dan pemeriksaan fisik rutin sebelum menjalani operasi, tetapi pemeriksaan tambahan hanya direkomendasikan jika dari kedua pemeriksaan tersebut didapatkan adanya kelainan. 2-3, 17
Operasi katarak dapat dilakukan dengan anastesi lokal dan teknik invasi yang minimal. Operasi katarak dapat dilakukan melalui tiga cara yang berbeda. Ketiga metode ini dapat memberian perbaikan kemampuan visual, meskipun di negara yang sudah maju, fakoemulsifikasi merupakan prosedur pilihan. Implan lensa merupakan cara yang disukai, meskipun pada kasus yang jarang dimana lensa intraokuler merupakan kontraindikasi seperti pada beberapa bentuk uveitis, maka koreksi visual dapat dicapai dengan menggunakan kacamata atau lensa kontak. 1-2
Ekstraksi lensa intrakapsular
Saat ini, ekstraksi lensa intrakapsular sudah jarang digunakan, dimana metode ini dilakukan dengan cara memindahkan seluruh lensa dengan kapsulnya melalui penggunaan forsep atau cryoprobe. Prosedur ini tidak dapat dilakukan pada anak-anak atau dewasa muda karena adanya adhesi antara lensa dan vitreus. 1

Ekstraksi ekstrakapsular
Metode ekstraksi katarak ekstrakapsular, dimana kapsul anterior dari lensa dipindahkan, bagian nukleus dari katarak dikeluarkan, dan sisa dari bagian kortikal diaspirasi dari mata melalui insisi sepanjang 9-11 mm. Bagian kapsul posterior ditinggalkan agar tetap intak dan sebuah lensa intraokuler ditempatkan pada bagian kapsul. Selanjutnya insisi disambung dengan menggunakan nilon 10-0. Pada 25-35% pasien yang menjalani ekstraksi katarak ekstrakapsular, bagian kapsul posterior lensa dapat mengalami kekeruhan. Jika hal ini terjadi, maka dilakukan terapi dengan kapsulotomi menggunakan laser Nd:YAG. Jika tidak tersedia laser, maka dibutuhkan tindakan operasi insisi kapsul posterior yang mengalami kekeruhan. 1
Fakoemulsifikasi
Sekarang ini, fakoemulsifikasi merupakan metode yang sering digunakan pada ekstraksi katarak ekstrakapsular. Fakoemulsifikasi merupakan teknik modern dari ekstraksi lensa mata yang melibatkan emulsifikasi lensa mata di dalam kapsul dan hanya membutuhkan insisi berukuran kecil pada bagian atas sklera yaitu tepat di atas limbus, dimana akan sembuh dengan cepat tanpa membutuhkan sutura untuk perlekatan. Fakoemulsifikasi hanya membutuhkan anastesi lokal. Setelah dibuat insisi, maka probe ultrasonografi digunakan untuk memecahkan materi lensa, yang selanjutnya akan dikeluarkan melalui lubang insisi. Lensa intraokuler selanjutnya diinsersikan melalui lubang insisi dan ditempatkan pada bagian depan kapsul posterior lensa mata. Prosedur ini memberikan perbaikan penglihatan yang sangat baik dan kemungkinan terjadinya komplikasi yang sangat kecil. 1-2, 11
J. Prognosis
Prognosis katarak adalah baik dengan lebih dari 95% pasien mengalami perbaikan visual setelah dilakukan operasi. Prognosis visual pada pasien anak yang mengalami katarak dan menjalani operasi tidak sebaik pada pasien dengan katarak yang berhubungan dengan umur. Prognosis untuk perbaikan kemampuan visual paling buruk pada katarak kongenital unilateral yang dioperasi dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang bersifat progresif lambat. 2, 9
K. Pencegahan
Pencegahan katarak ditujukan pada faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Dokter harus menggunakan steroid pada dosis terapeutik yang paling kecil dan dihentikan saat keadaan pasien sudah memungkinkan. Pasien yang menggunakan steroid jangka panjang (topikal atau sistemik) harus diskrining untuk katarak. Pasien disarankan untuk berhenti merokok, menghindari paparan sinar ultraviolet dengan menggunakan kacamata saat berada diluar ruangan, dan menghindari trauma pada mata dengan cara menggunakan kacamata atau alat pelindung mata pada pekerja industri. Kemungkinan dari penggunaan antioksidan untuk memberikan efek proteksi terhadap katarak telah diteliti, tetapi hasilnya tidak bersifat konklusif. 2-3, 9

BAB III
KERANGKA KONSEP

Berdasarkan tinjauan kepustakaan dan maksud serta tujuan penelitian maka dapat ditemukan beberapa faktor yang berkaitan dengan katarak seperti umur, jenis kelamin, jenis katarak, riwayat merokok, Diabetes mellitus, paparan sinar ultraviolet berlebihan, penggunaan steroid jangka panjang, trauma akibat benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata, defisiensi antioksidan, dan beberapa kondisi dermatologik. .
Pada penelitian ini, yang akan diteliti meliputi :
1. Umur
Perkembangan fisik manusia sejalan dengan peningkatan umur dalam hal ini berkaitan dengan proses degeneratif yang menyebabkan terjadinya perubahan perubahan protein lensa menjadi tidak larut. Hal ini sejalan dengan prevalensi katarak yang sering terjadi pada umur 60 tahun.
2. Jenis kelamin
Tidak ada perbedaan jenis kelamin pada terjadinya katarak, dimana laki-laki maupun perempuan dapat terkena katarak. Tetapi secara epidemiologis, jumlah penderita perempuan lebih banyak dibandingkan penderita laki-laki.
3. Jenis katarak
Jenis katarak berdasarkan klasifikasi katarak terdiri dari katarak kongenital, katarak yang berhubungan dengan gangguan lain, dan katarak yang berhubungan dengan umur. Yang paling sering ditemukan adalah katarak yang berhubungan dengan umur atau katarak senil yaitu sekitar 90%.
4. Riwayat merokok
Merokok merupakan salah satu faktor risiko katarak, dimana merokok dapat meningkatkan risiko katarak menjadi 2-3 kali lebih tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan terjadinya katarak tipe nuklear 2,5 kali lebih sering diantara para perokok dibandingkan yang tidak merokok. Penelitian lain menyatakan bahwa mereka yang merokok lebih dari 20 batang perhari akan meningkatkan risiko katarak dua kali dibanding tidak merokok.
5. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor risiko katarak. Penelitian oleh Kim, dkk. (2006) menyimpulkan bahwa durasi diabetes adalah faktor yang sangat signifikan untuk terjadinya katarak pada penderita diabetes. Efek yang terakumulasi dari hiperglikemia terkait dengan kejernihan lensa pada diabetes.
DAFTAR PUSTAKA

1. Doherty GM, Way LW. Current Surgical Diagnosis & Treatment 12th Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. New York. 2006. p. 982-83.
2. South-Paul JE, Matheny SC, Lewis EL. Current Diagnosis & Treatment in Family Medicine. The McGraw-Hill Companies, Inc. New York. 2004. p. 580-83.
3. Labus JB. The Physician Assistant Medical Handbook. Second Edition. Elsevier Inc. Philadelphia. 2004. p. 708-11.
4. Kuswaya. Katarak. Last Updated on March 6, 2008. Available at : http://www.klikdokter.com/
5. Goldman L, Ausiello D. Cecil Medicine 23rd Edition. Elsevier Inc. Philadelphia. 2008. p. 1639, 2842, 2854.
6. Depkes RI. Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas. Hasil Survei Kesehatan Indonesia Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996. Jakarta.
7. Anonim. Global Regional Blindness and Vision 2020. Direktorat Kesehatan Komunitas Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes RI bekerjasama dengan WHO. Jakarta. 2004. p. 1-11.
8. Limburg H, Schein OD. The Evaluation of Cataract Programs. The Epidemiology of Eye Disease Second Edition. Arnold Publisher. London. 2003. p. 120-36.
9. Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan & Asbury’s General Ophtalmology 16th Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. Singapore. 2004. p. 173-80.
10. Anderson RA. Clinician’s Guide to Holistic Medicine. The McGraw-Hill Companies, Inc. Singapore. 2001. p. 346-49.
11. Grosvenor T. Primary Care Optometry Fifth Edition. Butterworth-Heinemann. China. 2007. p. 61, 430-32.
12. Yanto. Penurunan Visus pada Katarak dengan DM. Last Updated on August 26, 2007. Available at : http://fktrisaktiforumcircle.com/
13. Sulastri. Katarak. Last updated on September 12, 2006. Available at : http://www.epid.com/
14. Lewallen S. Gender and Use of Cataract surgical Services in Developing Countries. Bulletin of The World Health Organization. 2002. p. 300-02.
15. Waslan K. Sehat Bugar : Rokok Sebabkan Katarak. Last updated September 27, 2008. Available at : http://www.jambi-independent.co.id/
16. Falk K. Eyecare Practice Tool Kit. Mosby, Inc. Missouri. 2007. p. 11-12.
17. Gould BE. Pathophysiology for the Health Professions Third Edition. Elsevier Inc. Philadelphia. 2006. p. 603.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar