Jumat, 22 Mei 2009

ARTHROLOGI
bahan kuliah
asrul mappiwali

PENDAHULUAN

Tubuh manusia dibentuk oleh sejumlah tulang (206 buah), yang saling berhubungan membentuk articulus, memungkinkan manusia dapat berdiri dan duduk dengan stabil, dan bergerak dengan leluasa sesuai keinginannya.
Manusia adalah makhluk bipedal yang berdiri dan berjalan dengan menggunakan extremitas inferior, dan extremitas superior dipakai untuk memasukkan makanan ke dalam cavus oris.

BAB I
ARTHROLOGI UMUM

Atas dasar struktur dan fungsi articulus dibagi menjadi:
I. SYNARTHOSIS
II. DIARTHOSIS

Ad.I. SYNARTHOSIS
Diantara kedua ujung tulang yang membentuk articulus terdapat suatu jaringan. Terdiri dari :
1. SYNDESMOSIS, jaringan penghubung adalah jaringan ikat.
a. SUTURA, tepi-tepi tulang yang bertemu diperhubungkan oleh suatu jaringan ikat yang tipis, misalnya sutura pada calvaria cranii.
b. SCHINDYLISIS, suatu tulang yang terjepit di dalam celah pada tulang lainnya, misalnya antara rostrum sphenoidale dan vomer.
c. GOMPHOSIS, suatu tulang yang berbentuk kerucut masuk ke dalam lekuk, alveolus, yang sesuai pada tulang yang lain, misalnya dentes pada maxilla dan mandibula.
d. SYNDESMOSIS ELASTICA, jaringan ikat penghubung terdiri dari serabut-serabut elastis, misalnya ligamentum flavum di antara arcus vertebrae.
e. SYNDESMOSIS FIBROSA, jaringan ikat penghubung terdiri dari serabut-serabut kolagen, misalnya membrana interossea antebrachii, di antara radius dan ulna.
2. SYNCHONDROSIS, jaringan penghubung dan diaphyse sebelum penulangan selesai atau symphysis osseum pubis pada usia dewasa.
3. SYNOSTOSIS, jaringan penghubung ialah tulang, misalnya di antara epiphyse dan diaphise sesudah penulangan atau di antara os ilium, os pubis dan os ischium pada usia dewasa.



Ad.II. DIARTOSIS

Ujung-ujung tulang yang membentuk articulus bebas, tidak ada jaringan di antaranya. Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Salah satu ujung tulang membentuk caput articulare dan ujung tulang yang lain membentuk cavitas glenoidas.
2. Kedua ujung tulang dibungkus oleh capsula articularis, yang terdiri dari stratum fibrosum di sebelah superficialis dan statum synoviale di sebelah profunda; stratum synoviale menghasilkan synovia (filtrasi plasma darah) yang membuat licin permukaan kedua ujung tulang.
3. Cavum articulare ialah rongga potensil yang terdapat di antara ujung-ujung tulang, dan berisi synovia.
4. Alat-alat khusus yang meliputi :
a. labium articulare ;
b. discus dan menicus articularis sebagai alat untuk menahan tumbukan, penyangga dan mengurangi discongruentio di antara ujung-ujung tulang yang bersendi ;
c. bursa mucosa di sekitar sendi atau kadang-kadang berhubungan dengan cavum articulare untuk memudahkan gerakan ;
d. ligamentum, yang sebenarnya adalah bagian dari capsula articularis dan selanjutnya terpisah dari capsula itu.

Berdasarkan kemungkinan gerak Diartrosis dibagi menjadi :
A. AMPHIARTHROSIS, kemungkianan gerak sedikit sekali.
B. ARTICULATIONES, kemungkinan gerak yang luas.

Luas gerakan pada articulationes ditentukan oleh jumlah axis, sebagai berikut:
1. Mono axial
a. GINGLYMUS, sumbu gerak terak lurus pada arah panjang tulang, misalnya artic.interphalangealis, artic.humero-ulnaris, artic.talocruralis.
b. ARTULATIO TROCHOIDEA, sumbu gerak kira-kira sesuai dengan arah panjang tulang, misalnya art.radio-ulnaris, art.atlanto-dentalis.
2. Biaxial, kedua garis berpotongan tegak lurus.
a. ARTICULATIO ELLIPSOIDEA, caput articulare berbentuk ellipsoid dalam arah sumbu panjang dan sumbu pendek, mis.art.radiocarpea.
b. ARTULATIO SELLARIS, permukaan sendi berbentuk pelana artinya dalam arah sumbu yang satu permukaan itu cembung, dalam arah sumbu yang lain cekung (concave-convex), mis. Art.carvo-metacarpea.
3. Multi axial (tri axial), kemungkinan gerak sangat luas. Caput articularea berbentuk bola.
a. ARTICULATIO GLOBOIDEA, cavitas glenoidalis mencakup kurang dari setengah caput articulare, mis. Art.humeri ;
b. ENARTHROSIS, cavitas glenoidalis mencakup lebih dari setengah caput articulare, kemungkinan gerak lebih daripada art.globoidea, mis. Art.coxae.

Pembagian lain :
I. SKULL TYPE, tidak dapat bergerak atau persendian yang bersifat sementara.
1. SUTURA
2. SYNCHONDROSIS
3. SYNOSTOSIS
II. VERTEBRAL TYPE, hanya dapat bergerak sedikit.
1. SYMPHYSIS, dibentuk oleh dua buah tulang yang ujung-ujungnya dilapisi oleh cartilago (hyaline) dan dipersatukan oleh fibrocartilago, di bagian ventral dan dorsal diperkuat oleh ligamentum. Pada persendian ini tidak terdapat cavum articulare, melainkan suatu celah saja. Berada pada linea mediana.
Symphysis terdapat diantara :
a. corpus vertebrae
b. facies symphyseos ossis pubis
c. manubrium sterni dan corpus sterni.
2. SYNDESMOSIS, di antara kedua ujung tulang yang berbentuk persendian terdapat jaringan ikat, misalnya antara arcus vertebrae, antara processus coracoideus dan clavicula, antara radius dan ulna.
III. LIMB TYPE, disebut juga SYNOVIAL JOINT atau ARTICULATIO, mempunyai kemungkinan gerak yang luas. Tipe sendi ini mempunyai empat ciri dasar :
1. kedua ujung tulang terpisah satu sama lain;
2. kedua ujung tulang berada di dalam capsula articularis;
3. capsula articularis dilapisi oleh membrana synovialis ;
4. kedua ujung tulang dilapisi oelh cartilago (hyaline).
Membrana synovialis melekat pada tepi cartilago articularis sehingga cavum articulare dibatasi oleh membrana synovialis dan cartilago articularis.

INNERVASI
Synovial joint mendapat banyak persarafan, tetapi terbatas pada capsula articularis, ligamentum dan permukaan superficial membrana synovialis. Permukaan profunda membrana synovialis, cartilago articularis dan discus articularis tidak diperlengkapi dengan serabut-serabut saraf. Di dalam capsula articularis dan ligamentum capsulare terdapat ujung-ujung saraf yang berupa mechanoreceptor, yang berfungsi memberi informasi mengenai statika dan dinamila persendian, yaitu mengenai posisi dan gerakan; serabut-serabut saraf ini bermyelin. Serabut-serabut saraf lainnya yang tidak bermyelin berperan sebagai receptor dan melayani pembuluh-pembuluh darah.

VASCULARISASI
Pada cartilago articularis tidak diketemukan pembuluh darah. Nutrisi persendian dilakukan oleh synovia (synovial fluid). Pembuluh-pembuluh arteria utama berada pada sisi flexor dan terlindung terhadap trauma, tetapi sebaliknya selama gerakan fleksi arteri tersebut dapat terlipat sehingga tersumbat, oleh karena itu terbentuk system collateral di sekitar articulus cubiti, wrist joint, articulatio genu, anke joint (berfungsi sebagai by pass).

NOMENCLATUR GERAKAN
Arah dan luas gerakan ditentukan oleh permukaan dari kedua ujung tulang yang membentuk articulus dan kedudukan dari capsula articularis serta ligamentum articulare. Luas gerakan berbeda secara individual. Nomenclatur gerakan didasarkan pada Posisi Anatomi (awal atau akhir dari suatu gerakan), dan gerakan-gerakan yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
 FLEXION (flexi) adalah gerakan yang terjadi terhadap axis transversal dan membentuk sudut yang lebih kecil antara kedua tulang bersangkutan.
 EXTENSION (Extensi) adalah gerakan yang berlawanan dengan gerakan Flexi, yaitu membentuk sudut yang lebih besar (tulang saling menjauhi satu sama lain).

Terminologi khusus digunakan pada gerakan badan (= truncus), articulatio humeri, ankle joint dan gerakan ibu jari (articulatio metacarpo-phalangea I). Badan yang digerakkan ke arah tungkai dinamakan Flexi badan terhadap tungkai dan gerakan tungkai ke ventral mendekati badan disebut Flexi tungkai terhadap badan. Gerakan sebaliknya ke arah dorsal disebut Extensi. Gerakan truncus ke lateral disebut Latero-fleksi.
Flexi pada ankle joint adalah gerakan dorsum pedis ke arah permukaan ventralis cruris (disebut juga Dorso-flexion atau Dorso-flexi; gerakan yang berlawanaan disebut Extension (= Plantar-Flexion).
Pada articulatio humeri gerakan fleksi disebut Anteflexi, yaitu gerakan lengan ke arah ventral; gerakan sebaliknya disebut Retroflexi (= Extensi).
 ABDUKSI adalah gerakan yang menjauhi sumbu badan; gerakan yang mendekati sumbu badan disebut ADDUKSI.
 ROTASI merupakan gerakan yang terjadi terhadap sumbu longitudinal; ada Rotasi Medial dan Rotasi Lateral. Rotasi ke kanan atau ke kiri terdapat pada columna vertabralis.
 CIRCUMDUCTION merupakan kombinasi dari gerakan flexi, abduksi, extensi, adduksi dan rotasi, yang menghasilkan suatu bentuk kerucut dengan puncaknya berada pada pusat sendi berangkutan.
 PRONASI adalah gerakan rotasi antebrachium ke arah medial.
 SUPINASI adalah gerakan rotasi antebrachium ke arah lateral.
Kedua gerakan terakhir ini gerakan yang terjadi pada articulatio radio-ulnaris proximalis (radius berputar terhadap ulna).
 EVERSION adalah gerakan pronasi pada pedis yang dikombinasi dengan gerakan abduksi.
 INVERSION adalah kombinasi gerakan adduksi dengan supinasi pada pedis.
 DOWNWARD ROTATION adalah gerakan rotasi ke caudal dari scapula terhadap axis tegak lurus pada permukaan scapula, dalam hal ini acromion berpindah ke caudal dan medial, angulus inferior bergerak ke medial dan lateral.
 UPWARD ROTATION adalah rotasi ke cranial dari scapula.
 Gerakan Flexi dan Extensi ibu jari terjadi pada articulatio carpo-metacarpalis pollicis, yaitu pada bidang yang sama dengan gerakan abduksi-adduksi jari-jari lainnya; jadi gerakan Extensi pollicis adalah gerakan ke arah lateral yang sesuai dengan gerakan abduksi jari-jari lainnya, dan gerakan sebaliknya adalah Flexi.
 Gerakan Abduksi dan Adduksi pollicis terjadi pada bidang yang sama dengan gerakan Flexi dan Extensi jari-jari lainnya.
Abduksi pollicis adalah gerakan yang menjauhi sisi manus, berlangsung pada bidang yang tegak lurus pada vola manus (sama dengan flexi jari-jari lainnya) dan sebaliknya adalah Adduksi (sama dengan extensi jari-jari lainnya).
 OPPOSISI adalah gerakan ibu jari yang mencapai ujung jari-jari lainnya, yaitu kombinasi gerakan Abduksi pollicis dan Hyperflexi pollicis.


ASPEK FUNGSIONAL KONTRAKSI OTOT
Suatu gerakan dapat dihasilkan oleh kontraksi otot skelet, yang disebut gerakan Aktif, sedangkan gerakan Pasif dihasilkan oeh pengaruh luar. Luas gerakan aktif dapat ditingkatkan oleh pengaruh dari luar.
Efektifitas suatu otot dalam menggerakkan persendian dipengaruhi oleh axis longitudional dari otot itu dan jarak antara titik insertio dengan axis gerakan pada articulatio bersangkutan.
Atas dasar letak otot terhadap articulus dapat ditentukan:
a) Otot uni-articularis, yaitu otot yang melewati dan berperan pada satu articulus, misalnya m.brachialis;
b) Otot bi-artichulus, mesalnya m.semitendinosus, yang melewati dua buah persendian dan dapat menggerakkan kedua buah persendian bersangkutan;
c) Otot multi-articularis, misalnya m.flexor digitorum superficialis yang melewati dan berfungsi pada art.cubiti, art.radiocarpius, art.intercarpalis, art.metacarpophalangea dan art.interphalangea.
Suatu otot tidak bisa berkontraksi melampaui batas minimal (menjadi lebih pendek) dan batas maksimalnya (menjasi lebih panjang). Bilamana otot telah mencapai batas kemampuannya berkontraksi, maka gerakan selanjutnya tidak dapat dilakukan lagi, keadaan ini disebut Insufisiensi Aktif, sebagai contoh m.flexor digitorum superficialis tidak mampu menghasilkan gerakan flexi maksimum pada saat yang sama pada persendian tersebut tadi, yaitu art.interphalangea, art.metacarpophalangealis, art.radiocarpicus dan art.cubiti.
Otot yang telah mencapai panjang maksimal akan menghalangi gerakan pada persendian yang dilewatinya misalnya kalau articulatio genu berada dalam posisi extensi maka gerakan flexi pada articulatio coxae menjadi sangat terbatas, oleh karena otot hamstring tidak dapat ditarik melampaui batas maksimalnya, keadaan ini dinamakan Insufisiensi Pasif.
Stimulus pada suatu myofibril menghasilkan kontraksi yang maksimal dan kontraksi otot terjadi apabila seluruh myofibril mendapatkan stimulus yang cukup. Sekalipun stimulus ditambah namun otot tidak dapat berkontraksi selanjutnya, keadaan ini yang dinamakan “all or none” contraction.

BAB II
ARTHROLOGI KHUSUS

ARTICULUC CINGULU MEMBRI SUPERIORIS

1. ARTICULATIO STERNOCLAVICULARIS
Dibentuk oleh ujung pars sternalis calviculare, manubrium sterni dan ujung pars cartilaginis costa I. Ujung clavicula terletak menonjol di cranialis menubrium sterni. Cavum articulare dibagi menjadi dua bagian oleh suatu discus articularis, yang di satu pihak melekat pada ujung clavicula di bagian cranialis dan di pihak lain melekat pada ujung costa I. Discus articularis berfungsi untuk membuat kedua permukaan sendi lebih serasi dan juga berfungsi untuk menahan dorongan clavicula ke arah medial.
Capsula articularis diperkuat oleh ligamentum sternoclavicularis anterius dan ligamentum sternoclavicularis posterius. Ligamentum lainnya yang juga memperkuat capsula articularis adalah ligamentum interclaviculare, yang melekat pada kedua ujung clavicula, dan ligamentum costoclaviculare (=rhomboid ligament) yang mengikat osta I pada clavicula, dan berada di sebelah lateral capsula articularis.
Ligamentum costoclavicularis sangat kuat, merupakan faktor stabilisasi yang kuat bagi articulus bersangkutan. Pada posisi protraksi dan hyperabduksi ligamentum ini menjadi tegang.
Di bagian ventral dari articulatio ini terdapat tendo caput sternalis m.sternocleidomastoideus; di bagian dorsal terdapat tendo m.sternohyoideus dan m.sternothyreoideus.

INNERVASI
Nervi supraclaviculares ( C3 –4 ), dipercabangkan oleh plexus cervicalis.

PERGERAKAN
Titik tumpu dari gerakan pada articulus ini berada pada ligamentum costoclaviculare, yang menyebabkan gerakan dari kedua ujung clavicula saling berlawanan. Apabila pars acromialis claviculae diangkat ke atas maka pars sternalis claviculare akan bergerak turun, demikian sebaliknya pula.
a. ROTASI dari clavicula adalah gerakan yang pasif, oleh karena tidak ada otot rotator yang bekerja pada articulus ini. Gerakan ini merupakan hasil dari gerakan rotasi scapula yang diteruskan kepada clavisula oleh ligamentum coracoclaviculare. Pada gerakan anteflexi humerus, dilanjutkan dengan hyperanteflexi dan kemudian extensi, maka terjadi gerakan pada clavicula sebesar 40 derajat. Pada gerakan rotasi ini ujung clavicula bersama-sama dengan discus articularis berputar pada manabium sterni.
b. ELEVASI dan DEPRESI pars acromialis claviculae merupakan akibat daripada gerakan pars sternalis claviculae ke arah caudal dan cranial, dan gerakan ini terjadi antara ujung clavicula dengan discus articularis; axisnya adalah axis sagitalis.
c. Gerakan ke ventral dan dorsal terjadi pada bidang horizontalis terhadap sumbu vertikal, dan dilakukan oleh ujung clavicula bersama dengan discus articularis terhadap manubrium sterni.

2. ARTICULATIO ACROMIOCLAVICULARIS
Dibentuk oleh facies articularis acromialis claviculae dengan vacies articularis acromii. Capsula articularis tipis dan kurang berperan dalam memfiksasi clavicula pada scapula. Pada articulus ini terdapat discus articularis. Yang berperan dalam stabilisasi articulus ini adalah ligamentum coracoclaviculare, yang memfiksir clavidula pada prosessus coracoideus, jadi merupakan suatu syndesmosis. Ligamentum ini terdiri atas dua bagian, yaitu (1) ligamentum trapexoideum dan (2) ligamentum conoideum. Ligamentum conoideum berbentuk konus terbalik dengan apexnya melekat pada processus coracoideus dan basisnya melekat pada tuberculum conoideum claviculae. Ligamentum trapezoideum berada di sebelah antero-lateral ligamentum conoideum, dan letaknya hampir horizontal.

INNERVASI
Nervi supraclaviculares laterales yang dipercabangkan oleh plexus cervicallis (C4).

PERGERAKAN
Gerakan pada articulus ini adalah pasif, oleh karena tidak ada otot yang melekat pada kedua ujung tulang bersangkutan yang bekerja langsung pada persendian ini.
Gerakan pada clavicula merupakan akibat daripada gerakan scapula. Gerakan scapula terhadap dinding thorax dapat dibagi menjadi 3 jenis, sebagai berikut :
a. PROTRAKSI dan RETRAKSI
b. ROTASI
c. ELEVASI dan DEPRESI
Dapat juga terjadi gerakan kombinasi. Dan semua gerakan-gerakan tersebut diteruskan melalui/oleh ligamentum kepada clavicula.
Gerakan PROTRAKSI scapula dilakukan oleh m.serratus anterior dan m.pectoralis minor.
Gerakan RETRAKSI dilakukan oleh m.trapezius dan mm.rhomboidei. pada gerakan ini acromion bergerak terhadap discus articularis dengan axis vertikal yang berjalan melalui ligamentum conoideum.
Gerakan Abduksi lengan maka scapula berputar (rotasi) terhadap ligamentum conoideum, dan gerakan ini terjadi antara discus articularis dengan clavicula. Sumbu dari gerakan scapula berjalan melalui ligamentum conoideum dan articulatio acromioclavicularis, sehingga scapula bergerak bagaikan pendulum terhadap clavicula. Rotasi ini dapat berlangsung sebesar 60 derajat, tetapi hanya 20 derajat yang terjadi antara scapula dan clavicula. Ligamentum coracoclaviculare menjadi tegang dan meneruskan gaya rotasi tersebut kepada clavicula. Titik tumpu dari articulus ini adalah ligamentum coracoclaviculare.
ELEVASI dihasilkan oleh kontraki m.trapezius pars descendens, m.levator scapulae dan mm.rhomboidei, dan gerakan DEPRESI dilakukan oleh m.trapezius pars ascendens, m.latissimus dorsi pars lateralis dan gaya gravitasi.
Gerakan dari scapula pada dinding thorax meliputi gerakan clavicula pada articulatio acromioclavicularis dan articulatio sternoclavicularis, dan banyak kali disertai gerakan articulatio humeri, namun scapula dapat bergerak tersendiri.
Pars lateralis clavicula dapat diangkat (elevasi) sampi 50 derajat (=inklinasi 50 derajat) yang dibatasi oleh ketegangan ligamentum costoclaviculare. Depresi dapat terjadi hanya beberapa derajat saja, yang dihalangi oleh bagian cranialis capsula articularis articulatio sternoclavicularis.

3. ARTICULATIO HUMERI
Tipe articuluc ini adalah Ball and Socket, mempunyai gerakan yang sangat luas. Dibentuk oleh caput humeri dengan cavitas glenoidalis, dilengkapi dengan labrum glenoidale (suatu fibrocartilago yang berbentuk cincin). Capsula articularis melekat pada tepi labrum glenoidale, dan di pihak humerus pada tepi caput humeri, kecuali di bagian inferior perlekatannya berada 2 – 3 cm di caudalis dari tepi permukaan persendian. Capsula articularis ini longgar sehingga memungkinkan gerakan menjadi luas (tampak jelas pada posisi adduksi humerus). Bagian anterior dari capsula articularis menebal dan membentuk Ligamentum glenohumeral.
Caput longum m.biceps brachii berjalan di dalam sulcus intertubercularis, dan menembusi capsula articularis.
Ligamentum corachohumerale, suatu ligamentum extra capsularis, berjalan ke arah lateral dari processus coracoideus dan bercampur dengan bagian cranialis capsula articularis beserta dengan tendo m.suprapinatus, mengadakan perlekatan pada tuberculum majus et minus. Ligamentum ini menghalangi gerakan rotasi lateral dan adduksi.
Pada umumnya kekuatan suatu articulus ditentukan oleh bentuk tulang, ligamenta dan otot-otot; pada articulus humeri terutama tergantung dari otot.
Otot-otot yang berada di sekitar articulatio humeri terdiri dari otot-otot yang bertendo panjang, berperan untuk gerakan, dan yang bertendo pendek dengan fungsi utamanya mempertahankan caput articulare agar tetap berada di dalam cavitas articularisnya. Keadaan ini dibantu oleh arcus coraco-acromialis yang menghalangi dislokasi humerus ke arah cranialis. Arcus coraco-acromialis dibentuk oleh prosessus coracoideus, ligamentum coraco-acromiale dan acromion. Ligamentum coraco-acromiale berbentuk segitiga dengan apexnya melekat pada ujung acromion di sebelah anterior articulatio acromioclavicularis dan basisnya melekat pada tepi lateral processus coracoideus.
Di antara acromion dan tendo m.supraspinatus terdapat bursa subacromialis, yang meluas ke caudal dan berada di antara m.deltoideus dan tuberculum majus humeri. Bursa ini bersama-sama dengan arcus coraco-acromialis menghalangi dislokasi humerus ke arah cranialis.
Ada empat buah otot yang tendo-tendonya memperkuat capsula articularis, membentuk Rotator Cuff, terdiri dari (1) m.supraspinatus di sebelah cranial, (2) m.infraspinatus, (3) m.teres minor, kedua otot terakhir ini berada di bagian dorsal, dan (4) m.subscapularis berada di sebelah ventral.
Di bagian caudal capsula articularis tidak diperkuat sama sekali.
Pada posisi abduksi humerus maka tendo-tendo dari m.triceps brachii caput longum dan m.teres major menempel pada capsula articularis di bagian caudal, sehingga memberi stabilitas pada posisi ini.

INNERVASI
Capsula articularis dipersarafi oleh cabang-cabang dari nervus axillaries, nervus musculocutaneus dan nervus supraclavicularis, yang ketiga-tiganya mengikuti Hilton’ law (= suatu saraf yang melayani persendian, memberi percabangannya kepada kulit yang menutupi articulus tersebut serta memberi ramus muscularisnya kepada otot-otot yang bekerja pada articulus bersangkutan).

PERGERAKAN
Banyak kali gerakan pada articulus ini diikuti oleh gerakan scapula pada dinding thorax serta gerakan clavicula. Ada tiga gerakan dasar, yaitu: (1) Flexi dan Extensi, (2) Abduksi dan Adduksi dan (3) Rotasi. Gerakan circumductio adalah kombinasi dari gerakan-gerakan tersebut tadi.
Facies articularis caput humeri mempunyai luas yang empat kali lebih besar daripada permukaan cavitas glenoidalis. Untuk kepentingan klinik dapat dicatat bahwa epicondylus medialis humeri letaknya searah dengan caput humeri (medio-caudal).
Luas pergerakan pada articuluc ini selain ditentukan oleh ligamentum yang menjadi tegang dan kontraksi otot, dipengaruhi juga oleh facies articularis yang saling bertemu. Bilamana tepi permukaan persendian daripada kedua ujung tulang bersangkutan sudah saling bertemu, maka gerakan selanjutnya tidak dimungkinkan lagi, terkecuali kalau disertai dengan dislokasi.
Melakukan gerakan Abduksi dari Posisi Anatomi hanya dapat dilakukan sampai 90 derajat, gerakan selebihnya dihambat oleh:
1) tertumbuknya tuberculum majus humeri pada acromion )=Arcus coracoacromialis)
2) facies articularis caput humeri tidak mendapatkan ruang gerak lagi pada cavitas glenoidalis.
Bilamana gerakan Abduksi dipaksakan, maka dapat terjadi dislokasi dari humerus.
Gerakan hyperabduksi dapat dilakukan kalau disertai dengan gerakan rotasi lateral dari humerus. Menempatkan humerus tegak lurus disamping kepala dapat dicapai melalui gerakan flexi – hyperflexi, tanpa rotasi dari humerus, dan melalui gerakan abduksi – hyperflexi, tetapi disini disertai dengan rotasi dengan rotasi lateral dari humerus. Sebenarnya gerakan abduksi sampai 120 derajat adalah semata-mata terjadi pada articulatio humeri, dan selanjutnya abduksi 60 derajat berikutnya (mencapai 180 derajat) adalah akibat dari berputarnya scapula.
Gerakan abduksi terutama dilakukan oleh m.deltoideus, dibantu oleh m.supraspinatus (kedua-duanya bertindak sebagai prime mover). Bertindak sebagai antagonist adalah m.subcapularis, m.infrapinatus dan m.teres minor, yang mencegah caput humeri tertarik ke cranial dan bahkan mempertahankan posisi facies articularis caput humeri agar tetap berkontak dengan cavitas glenoidalis.
Gerakan Adduksi yang dilakukan dari posisi abduksi kembali kepada posisi Anatomi dipengaruhi oleh gaya gravitasi, relaksasi otot-otot abductor dan kontraksi m.deltoideus pars posterior, m.pectoralis major, m.coracobrachialis, m.teres major, m.latissimus dorsi dan m.triceps brachiio caput longum.
Gerakan flexi terjadi terhadap axis transversalis dan dapat mencapai 180 derajat tanpa kesulitan; otot-otot yang berperan adalah m.deltoideus pars clavicularis, m.pectoralis major pars clavicularis, m.coracobrachialis dan m.biceps brachii.
Gerakan extensi dilakukan oleh m.deltodeus pars posterior, m.teres major, m.latissimus dorsi, m.triceps brachii caput longum dan dibantu oleh m.pectoralis major pars sternocostalis.
Gerakan Rotasi dari humerus dapat dilakukan pada setiap posisi, dilakukan terhadap axis longitudinalis; gerakan ini dihambat oleh capsula articularis yang menjadi tegang dan keadaan permukaan persendian yang saling bertemu (luas permukaan persendian yang semakin berkurang). Terdiri dari Rotasi lateral dan Rotasi Medial. Gerakan Rotasi Lateral dilakukan oleh m.infraspinatus, m.teres minor dan m.deltoideus pars posterior. Gerakan Rotasi Medial dikerjakan oleh m.pectoralis major, m.deltoideus pars anterior, m.subscapularis, m.teres major dan m.latissimus dorsi.

4. ARTICULATIO CUBITI
Articulus ini termasuk tipe Ginglymus, yang hanya memberi kemungkinan gerakan Flexi dan Extensi. Articulus ini dibentuk oleh tiga buah tulang, yaitu (a) ujung distal humerus, (b) ujung proximal radius dan (c) ujung proximal ulna.
Secara structural terbentuk tiga buah articulus, masing-masing (1) articulatio humeroradialis, (2) articulatio humeroulnaris dan (3) articulatio radioulnaris proximalis. Ketiga-tiganya berada dalam satu capsula articularis.
Articulatio humeroradialis dibentuk oleh capitulum humeri dengan fovea capituli radii.
Articulatio humeroulnaris dibentuk oleh trochlea humeri dengan incisura semilunaris ulnea. Articulatio radioulnaris proximalis dibentuk oleh capitulum radii (circumferentia articularis) dengan incisura radialis ulnea.
Capsula articularis dari persendian ini bentuknya tipis di bagian anterior dan di bagian posterior, ditutupi oleh m.brachialis dan m.triceps brachii, mengadakan perlekatan di bagian anterior pada humerus di sebelah cranialis dai fossa radialis dan fossa coronoidea, dan di bagian caudal melekat pada ligamentum anulare radii dan pada processus coronoideus. Di bagian dorsal capsula articuralis melekat pada tepi cranialis olecranon. Di bagian medial dan lateral capsula articularis diperkuat oleh ligamentum collateral ulnare (mediale) dan ligamentum collaterale radiale (laterale).
Ligamentum collaterale ulnare berbentuk segitiga, pars anterior adalah bagian yang paling kuat, melekat dari epicondylus humeri menuju ke tepi medialis processus coronoudeus, sedangkan pars posterior melekat pada processus coronoideus dan pada tepi medialis olecranon; bagian ke tiga atau pars intermedia menghubungi kedua bagian tersebut tadi satu sama lain, terletak agak ke profundus dan menutupi (melindungi) nervus ulnaris.
Ligamentum collaterale radiale berbentuk datar, melekat pada humerus di bagian distalis dari tempat origo otot-otot “common extensor” dan di pihak lain melekat (bergabung) dengan ligamentum anulare radii.
Ligamentum anulare radii melekat pada tepi inicura radialis ulnae, membungkus capitulum radii dan collum radii; ligamentum ini tidak melekat pada radius sehingga memberi kebebasan bagi radius untuk bergerak di dalamnya.

INNERVASI
N.musculocutaneus, n.medianus, n.ulanaris dan n.radialis (Hilton’s Law).

PERGERAKAN
Gerakan yang mungkin hanyalah Flexi dan Extensi. Gerakan Flexi dibatasi oleh tebalnya otot-otot brachium. Gerakan extensi dibatasi oleh tertumbuknya olecranon pada fossa olecranii.
Gerakan Flexi dihasilkan oleh kontraksi m.brachialis, m.biceps brachii dan m.brachioradialis.
Gerakan Extensi dilakukan oleh m.triceps brachii dan m.anconeus.
Pada Posisi Anatomi sumbu antebrachium membentuk sudut sebesar 165 derajat pada wanita dengan sumbu longitudinal brachium, sehingga pada wanita kelihatannya antebrachium lebih bengkok ke lateral daripada pria. Sudut ini dinamakan “carrying angle”. Apabila dilakukan gerakan flexi dari posisi Extensi, maka antebrachium bergerak ke cranial dan medial.
“Bringing the Hand to the Mouth” berarti terjadi flexi penuh pada articulatio cubiti disertai rotasi medial humerus pada articulatio cubiti dan pronasi pada articulatio radio-ulnaris proximalis.

5. ARTICULATIO RADIO-ULNARIS
Antara radius dan ulna terbentuk tiga buah articulus, yaitu (a) articulatio radio-ulnaris proximalis, (b) articulatio radio-ulnaris distalis dan (c) syndesmosis, di bagian tengah (membrana interossea antebrachii).
Articulatio radio-ulnaris proximalis dibentuk oleh capitulum radii dengan incisura radialis ulnae. Capitulum radii berada di dalam ligamentum anularea radii (dilingkari) sehingga capitulum radii dapat berputar dengan bebas. Incisura radialis ulnae merupakan ¼ bagian dari sebuah lingkaran dan ligamentum tersebut membentuk ¾ bagian selanjutnya.
Ligamentum ulnarea radii berbentuk corong yang membesar di bagian proximal dan mengecil di bagian distal, sehingga dengan demikian capitulum radii tidak dapat terlepas daripadanya.
Articulatio radio-ulnaris proximalis termasuk di dalam articulatio cubiti dengan alasan
1) Berada di dalam satu cavum articulare yang sama;
2) Ligamentum collaterale laterale melekat pada ligamentum anulare radii;
3) Baik pada flexi-extensi maupun pada gerakan pronasi-supinasi capitulum radii berputar terhadap dan pada capitulum humeri.
Antara corpus radii dan corpus ulnae terdapat Chorda obliqua dan Membrana Interossea Antebrachii, membentuk persendian berupa syndesmosis. Chorda obliqua melekat pada tuberositas ulnea, menuju ke arah infero-lateral dan melekat di bagian caudalis tuberositas radii.
Membrana interossea antebrachii melekat pada crista interossea radii dan pada crista interossea ulnea, arahnya dari cranio-lateral menuju ke infero-medial. Pada membrana interossea ini terdapat perlekatan dari otot-otot flexor dan extensor lapisan profunda antebrachium.
Articulatio radio-ulnaris distalis (inferior) dibentuk oleh capitulum ulnea dengan circumferentia articularisnya di satu pihak dengan incisura ulnaris radii di pihak lain.
Mempunyai capsula articularis yang tipis. Pada articulus ini terdapat sebuah discus articularis yang berbentuk segitiga, memisahkan ujung ulna daripada ossa carpalia. Apex dari discus articularis melekat pada sisi lateral processus styloideus ulnae, dan basisnya melekat pada margo distalis incisura ulnaris radii. Fungsi discus articularis adalah menghindari pemisahan ujung radius daripada ujung ulna. Dibagian ventral dan dorsal discus articularis mengadakan perlekatan pada capsula articularis dari Wrist Joint.

INNERVASI
Nervus medianus (Hilton’ Law)

PERGERAKAN
Gerakan radius terhadap ulna menghasilkan gerakan rotasi dari antebrachium, yang terjadi pada axis longitudinalis. Pada gerakan rotasi ini radius berputar terhadap ulna dan humerus, gerakan yang dimaksud adalah pronasi dan supinasi. Kedua gerakan ini berada di antara 135 – 180 derajat, dan bervariasi secara individual. Axis dari gerakan ini dinamakan axis pronasi-supinasi, yang letaknya miring (oblique) melalui capitulum radii dan processus syloideus ulnae.
Gerakan Pronasi dilakukan oleh m.pronator teres dan m.pronator quadratus. Gerakan Supinasi dilakukan oleh m.biceps brachii dan m.supinator. manus mengikuti gerakan dari radius.

6. ARTICULATIO RADIOCARPALIS (= WRIST JOINT)
Articulus ini bertipe Ellipsoidea, dibentuk oleh os naviculare manus, os lunatum dan os triquetrum yang membentuk permukaan konveks dan di pihak lain adalah ujung distal radius bersama-sama dengan discus articularis yang membentuk permukaan konkaf. Capsula articularis melekat pada ujung distal radius dan ulna, dan di pihak lain melekat pada permukaan anterior dan posterior ossa carpalia deretan proximal. Ligamentum collaterale carpi ulnare meluas dari ujung processus styloideus ulnae sampai pada os pisiforme dam os triquetrum. Ligamentum collaterale carpi radiale melekat pada processus styloideus radii dan pada os naviculare manus.

PERGERAKAN
Gerakan Flexi dan Extensi terjadi pada transversalis. Gerakan Abduksi (=deviasi radialis) dan Adduksi (=deviasi ulnaris) terjadi terhadap axis antero-posterior. Abduksi ulnaris lebih luas daripada Abduksi radialis oleh karena processus styloideus radii lebih jauh menjulang ke distal daripada processus styloideus ulnae.
Gerakan Extensi pada wrist joint biasanya kurang luas daripada gerakan Flexi (extensi sebesar 60 derajat dan flexi sebesar 80 derajat) dan disertai dengan gerakan ke ventral dari os scaphoideum, os trapezium dan os trapezoideum sehingga tuberculum ossis navicularis lebih mudah dapat dipalpasi.
Otot-otot yang berperan pada Extensi adalah m.extensor carpi radialis longus, m.extensor carpi radialis brevis dan m.extensor carvi ulnaris.
Gerakan Abduksi lebih terbatas daripada gerakan Adduksi, oleh karena processus styloideus radii terletak lebih ke arah distal daripada processus styloideus ulnae, sehingga celah yang berada di antara processus styloideus ulnae dan os triquetrum adalah lebih besar daripada celah yang terbentuk di antara processus styloideus radii dengan os naviculare.
Gerakan Abduksi dilakukan oleh m.flexor carpi radialis, m.extensor carpi radialis longus dan m.extensor carpi radialis brevis.
Gerakan Adduksi dilakukan oleh m.flexor carpi ulnaris dan m.extensor carpi ulnaris.

7. ARTICULATIO INTERCARPALIS
Ossa carpalia deretan proximalis membentuk articulus dengan ossa carpalia deretan distalis membentuk ARTICULATIO MEDIOCARPALIS. Pada articulus ini permukaan persendian yang konveks dibentuk oleh os hamatum dan os capitatum, permukaan yang cekung dibentuk oleh os scaphoideum, os lunatum dan os triquetrum, sementara itu permukaann yang konveks dari bagian distal os scaphoideum membentuk persendian dengan permukaan yang konkaf yang dibentuk oleh os trapexium dan os trapezoideum.

PERGERAKAN
Gerakan pada articulatio intercarpalis selalu dikombinasikan dengan gerakan pada Wrist Joint. Gerakan yng dimaksud terjadi antara ossa carpalia deretan distalis dengan ossa carpalia deretan proximalis, yang terjadi pada articulatio mediocarpalis.
Pada posisi flexi jari-jari, maka kemungkinan flexi pada wrist joint menjadi terbatas, yang disebabkan oleh insufficiensi pasif dari otot-otot extensor dari jari-jari.

8. ARTICULATIO CARPOMETACARPALIS
Ada lima buah articulatio carpometacarpalis. Yang pertama dibentuk oleh basis ossis metacarpalis dengan os multangulum majus. Basis metacarpalis II membentuk persendian dengan os multangulum majus, os multangulum minus dan os capitatum. Basis metacarpalis III membentuk articulus dengan os capitatum. Basis metacarpalis IV membentuk articulus dengan os capitatum dan os hamatum. Selanjutnya terbentuk persendian antara basis metacarpalis II,III dan IV satu sama lainnya.
Articulatio carpometacarpalis I mempunyai bentuk (tipe) Saddle (=pelana), yang dapat melakukan gerakan flexi-extensi, abduksi-adduksi dan gerakan opposisi-reposisi. Capsula articularis dari articulus ini terpisah daripada articulatio carpometacarplis lainnya.
Gerakan Flexi-Extensi dari ibu jari terjadi pada bidang yang sama dengan gerakan Abduksi-Adduksi jari-jari lainnya. Extensi adalah gerakan jari I ke arah lateral, sedangkan gerakan Flexi adalah sebaliknya. Gerakan Abduksi-Adduksi dari jari I terjadi pada bidang yang sama dengan gerakan flexi-extensi dari jari-jari lainya. Gerakan Abduksi jari I dapat juga disebut Abduksi plamaris dan gerakan Extensi adalah sama dengan gerakan Abduksi radialis.
Gerakan Abduksi dilakukan oleh m.abduktor pollicis longus dan m.abductor pollicis brevis.
Gerakan Adduksi dilakukan oleh m.adduktor pollicis.
Gerakan Flexi dan Rotasi Medial dilakukan oleh kontraksi m.flexor pollicis longus, m.flexor pollicis brevis dan m.opponens pollicis.
Yang dimaksud dengan gerakan Opposisi adalah gabungan gerakan flexi, rotasi medial dan adduksi sehingga ujung jari I dapat berpindah-pindah (bertemu) dengan ujung-ujung jari lainnya.
Articulatio carpometacarpalis II dan III pada dasarnya kurang bergerak, sedangkan articulatio carpometacarpalis V mempunyai kemampuan gerakan flexi yang lebih baik sehingga dapat mempertahankan benda-benda dalam genggaman dengan sempurna.

9. ARTICULATIO METACARPOPHALANGEALIS
Dibentuk oleh basis phalanx I (proximalis) yang mempunyai permukaan konkaf dengan capitulum metacarpalis yang berbentuk bola.

10. ARTICULATIO INTERPHALANGEALIS
Dibentuk antara caput phalangis pada satu phalanx (proximalis) dengan basis phalangis dari phalanx berikutnya (distalis).
Pergerakan pada articulatio metacarpophalangealis dan articulatio interphalangealis pada keempat jari yang mesial adalah gerakan flexi dan extensi.
Gerakan Flexi jari-jari yang dilakukan secara lambat dan tidak begitu kuat adalah hasil dari kontraksi m.flexor digitorum profundus pada kedua persendian tersebut tadi. Dan apabila gerakan Flexi dilakukan secara cepat dan kuat maka m.flexor digitorum superficialis turut ambil bagian. Pada kontraksi yang kuat m.lumbricalis turut berperan.
Gerakan Extensi jari-jari yang dilakukan dari posisi fleksi dikerjakan oleh m.extensor digitorum communis, m.extensor indicis proprius, m.extensor digiti quinti minimi dan mm.lumbricales.

ARTICULATIO MEMBRI INFERIORIS
1. ARTICULATIO COXAE
Dibentuk oleh caput femoris dengan acetabulum. Articulus ini termasuk tipe Ball and Socket. Facies articularis caput femoris berbentuk 2/3 bagian dari suatu bulatan, dan facies articularis dari acetabulum berbentuk tapak kuda (horseshoeshaped). Capsula articularisnya kuat sekali, mengadakan perlekatan pada tepi acetabulum di bagian proximal dan di bagian distal melekat pada linea intertrochanterica dan sepanjang collum femoris, di sebelah proximal dari crista intertrochanterica. Jadi sebagian besar dari collum femoris berada di dalam cavum articulare. Capsula articularis menebal pada beberapa tempat membentuk ligamentum iliofemorale, ligamentum pubofemorale dan ligamentum ischiofemorale.
Ligamentum iliofemorale berbentuk besar, kuat dan menyerupai huruf “Y” terbalik, di bagian cranial melekat pada spina iliaca anterior inferior dan pada tepi acetabulum, di bagian caudal melekat pada linea intertrochanterica (yang memisahkan collum femoris daripada corpus femoris). Pada pria ligamentum ini lebih panjang daripada wanita.
Ligamentum pubofemurale di bagian medial melekat pada pars anterior tepi acetabulum dan pada rumus superior ossis pubis, serabut-serabut berjalan transversal pada permukaan inferior dari capsula articularis, dan selanjutnya melekat pada permukaan inferior collum femoris di cranialis trochanter minor.
Ligamentum ischiofemorale adalah yang paling lemah apabila dibandingkan dengan kedua ligamenta lainnya, melekat pada tepi postero-inferior dari acetabulum, berjalan ke lateral, melingkar ke cranialis dan melanjutkan diri pada zona orbicularis, yang berjalan melingkari collum femoris.
Pada fovea capitis femoris terdapat Ligamentum teres femoris, yang ke arah distal melekat pada ligamentum acetabuli dan di dalamnya berjalan serabut saraf dan pembuluh darah yang menuju ke caput femoris.

INNERVASI
Nervus femoralis, nervus ischiadicus dan nervus obturatorius (Hilton’ Law).

PERGERAKAN
Gerakan terjadi terhadap axis transversal, axis antero-posterior dan axis longitudinal. Terhadap axis transversal terjadi gerakan Flexi. Gerakan Flexi dari Posisi Anatomi dengan articulatio genu dalam posisi extensi hanya dapat dilakukan sampai 60 derajat saja, hal mana disebabkan oleh tension (= ketegangan) dari otot hamstring. Apabila articulatio genu berada dalam posisi flexi maka flexi pada articulatio coxae dapat ditingkatkan sampai 90 derajat. Sebagai penggerak utama adalah m.iliacus dan m.psoas major, dibantu oleh m.rectus femoris, m.tensor fasciae latae, m.sartorius dan m.pectineus.
Gerakan extensi dilakukan oleh otot hamstring dan m.gluteus maximus. Gerakan ini sangat terbatas, hanya kira-kira 15 derajat saja. Gerakan ini dibatasi oleh ketegangan dari ligamentum iliofemorale dan ligamentum pubofemorale.
Gerakan Abduksi adalah gerakan ke arah lateral terhadap axis postero-anterior sebesar 60 derajat. Sebagai abduktor utama adalah m.gluteus medius, dibantu oleh m.tensor fasciae latae, m.gluteus minimus dan m.gluteus maximus. Gerakan ini dibatasi oleh ketegangan otot adductor dan tertumbuknya trochanter major pada acetabulum.
Gerakan Adduksi dilakukan oleh m.petineus, m.adductor longus, m.adductor brevis, m.adductor magnus dan m.gracilis.
Gerakan Rotasi lateral (=exorotasi) terjadi terhadap axis longitudinal, yaitu permukaan bagian ventral berputar ke arah medial, berlangsung sebesar 30 derajat, dibatasi oleh bagian posterior capsula articularis. Otot yang berperan adalah m.gluteus medius dan m.gluteus minimus

Gerakan pelvis terhadap articulatio coxae merupakan gerakan yang terjadi setiap saat, baik pada waktu berdiri maupun pada waktu berjalan. Berdiri pada satu kaki (misalnya kaki kanan) berarti gaya gravitasi berpindah pada kaki yang bertumpu itu (kaki kanan) dan pelvis bagian kiri dihalangi kejatuhannya oleh kontraksi m.gluteus medius dexter. Apabila gluteus medius dexter lumpuh maka pelvis akan turun di sebelah kiri, tetapi hal ini dihindari dengan berdiri miring ke arah kanan, dan orang bersangkutan akan berjalan dengan miring ke arah kanan (pincang).

Articulatio coxae sangat stabil, yang disebabkan oleh karena fossa acetabuli membentuk lekukan yang dalam dan membungkus caput femoris dengan baik; selain itu stabilitas diberikan juga oleh ligamentum yang kuat, yang berada di bagian anterior coxae. Pada articulus ini dapat dilakukan gerakan circumductio.

2. ARTICULATIO GENUS
Dibentuk oleh ujung distal condylus femoris dengan ujung proximal condylus tibiae dan dengan facies dorsalis patella. Tipe : Condiloidea.
Permukaan persendian dari condylus femoris yang berhadapan dengan tibia berbentuk konveks; bentuk facies articulus pada ujung condylus tibiae datar dan dilengkapi dengan suatu fibrocartilago, yang dinamakan meniscus, yaitu meniscus lateralis dan meniscus medialis. Stabilitas articulus ini tergantung pada ligamentum yang terdapat di situ.
Capsula articularis kuat di bagian dorsal. Di bagian anterior dibentuk oleh tendo m.quadriceps femoris, yang melekat pada tepi cranial patella dan ligamentum patellae yang melekat pada tepi caudal patella dan pada tubberositas tibiae. Pada setiap sisi patella capsula articularis terdiri dari retinaculum patellae mediale at laterate, yang merupakan perluasan dari m.vastus medialis dan m.vastus lateralis. Retinaculum laterale diperkuat oleh serabut-serabut dari tractus iliotibialis. Pada kontraksi m.quadriceps femoris capsula articularis dibagian anterior dan ligamentum patellae menjadi tegang. Ligamentum capsulare pada sisi articulatio genus meluas (melekat) dari condylus femoris sampai di condylus tibiae.
Ligamentum collaterale tibiale (medial) berbentuk datar dan berada pada bagian medial capsula articularis. Di bagian cranialis ligamentum ini melekat pada epicondylus medialis femoris, dan di sebelah caudalis berbentuk lebar, melekat pada condylus medialis tibiae dan pada bagian cranialis corpus tubiae. Serabut-serabut bagian profunda melekat pada tepi luar meniscus medialis.
Ligamentum collaterale fibulare (laterale) terletak terpisah daripada capsula articularis, berbentuk bulat tali dan meluas dari epicondylus lateralis femoris menuju sisi laterale capitulum fibulae. Bagian posterior capsula articularis mengadakan perlekatan pada bagian cranial condylus femoris dan fossa intercondyloidea femoris dan pada bagian proximal tibiae. Suatu perluasan dari capsula articularis, yang dinamakan ligamentum popliteum arcuatum, mengadakan perlekatan pada capitulum fibulae. Bagian sentral dari capsula articularis diperkuat oleh ligamentum popliteum obliquum, yang merupakan perluasan dari tendo m.semimembranosus, dan arahnya cranio-lateral, melekat pada condylus lateralis tibiae. Bagian tepi dari facies posterior capsula articularis tipis dan ditutupi oleh capus medial dan caput lateral m.gastrocnemius.
Ligamentum cruciatum terdiri atas sepasang ligamentum yang sangat kuat, melekat pada tibia dan fibula, berada di dalam capsula articularis, tetapi tetap berada di sebelah superficialis dari membrana synovialis. Ligamentum ini diberikan nama yang sesuai dengan tempat origonya pada tibia. Ligametum cruciatum anterius melekat di sebelah ventral eminentia intercondyloidea tibia, di antara kedua buah meniscus, dan menuju kepada facies medialis condylus lateralis femoris serta mengadakan perlekatan di tempat ini. Ligamentum cruciatum posterior mengadakan perlekatan pada tepi posterior permukaan ujung proximal tibia, berada di antara kedua meniscus, berjalan ke ventral mengadakan perlekatan pada fecies lateralis condylus medialis femoris.
Meniscus medialis dan meniscus lateralis adalah dua buah fibrocartilago yang berbentuk cresentic (sebagian dari lingkaran), mengadakan perlekatan pada fecies cranialis ujung proximal tibia. Pada penampang melintang meniscus berbentuk segitiga. Meniscus medialis bentuknya lebih besar daripada meniscus lateralis, dengan bagian yang terbuka meliputi (kaki huruf “C”) meniscus lateralis.

INNERVASI
Berasal dari tga sumber, yaitu:
1) n.femoralis, melalui ramus muscularis yang menuju ke m.vastus medialis;
2) ramus genicularis yang dipercabangkan oleh n.tibialis dan n.peroneus communis (n.ischiadicus);
3) n.obturatorius yang memberikan cabang-cabang yang mengikuti arteria femoralis menuju ke fossa poplitea.
Persarafan ini terikat pada Hilton’s Law.

PERGERAKAN
Gerakan utama pada persendian ini adalah Flexi dan Extensi, yang terjadi terhadap axis trasversal. Axis ini tidak tetap, melainkan berpindah ke dorsal selama (mengikuti) gerakan Flexi dan keadaan ini disebabkan oleh karena bentuk condylus femoris (bagian postrior yang makin melengkung). Luas gerakan dari Extensi penuh sampai Flexi penuh kira-kira 130 derajat, dibatasi oleh otot-otot di bagian dorsal regio femoris dan regio cruralis yang saling bertemu.
Pada Flexi penuh (maksimal) bagian posterior facies articulus condylus femoris bertemu dengan bagian dorsal facies articulus condylus tibiae.
Pada gerakan Extensi dengan tibia yang difiksasi maka condylus femoris berputar ke ventral (roll forward) sambil berpindah ke dorsal (glide backwards) pada facies articularis tibiae.
Gerakan dari condylus lateralis berakhir sebelum gerakan Extensi selesai, sedangkan gerakan dari conylus medialis masih berlangsung karena facies articularis pada condylus medialis bentuknya lebih panjang daripada yang ada pada condylus lateralis. Dengan demikian maka terjadi gerakan Endorotasi. Pada akhir dari gerakan Extensi ini ligamentum collaterale tibiale dan ligamentum collaterale fibulare serta ligamentum popliteum obiquum menjadi tegang.
Pada full extension ligamentum cruciatum anterius menjasi tegang; pada full Flexion ligamentum cruciatum posterius menjadi tegang.
Selama berlangsungnya gerakan extensi dan flexi patella menggelincir pada area intercondyloidea femoris, dan jarak antara tibia dan patella tetap konstan. Pada full Extension facies patella bagian distal berhadapan (kontak) dengan bagian proximal condylus femoris. Pada gerakan Flexi patella bergerak ke distal terhadap femur; semakin diflexi maka bagian proximal patella berhadapan (kontak) dengan bagian distal facies articularis femoris.
Gerakan Extensi dihasilkan oleh kontraksi m.quadriceps femoris.
Gerakan Flexi dilakukan oleh m.semimembranosus, m.semitendinosus, m.biceps femoris dan m.popliteus. M.gastrocnemus adalah otot flexor yang lemah.
Otot hamstring bekerja juga sebagai extensor bagi articulatio coxae.
Pada waktu berdiri (extensi) gaya berat badan berada di sebelah ventral articulus genus, ini adalah salah satu factor penyebab extensi pada articulatio genu. Keadaan ini diimbangi oleh capsula articularis dan ligamentum yang terdapat di bagian posterior dari articulus ini. Pada posisi ini peranan otot sangat minim.
M.popliteus berperan pada gerakan exorotasi femur terhadap tibia, yaitu pada awal gerakan.

3. ARTICULATIO TIBIOFIBULARIS
Antara tibia dan fibula terbetuk articulus pada ujung proximal, ujung distal dan di sepanjang corpus kedua tulang tersebut. Persendian pada ujung proximal berupa suatu articulatio (diarthrosis) yang memberi kemungkinan gerakan menggelincir. Capsula articularisnya kuat di bagain ventral, melebihi yang di bagain dorsal. Di antara tendo m.popliteus dan capsula articularis terdapat bursa m.popliteus. Persendian ini disebut ARTICULATIO TIBIOFIBULARIS.
Antara corpus tibiae dan corpus fibulae terdapat membran interossea, yang melekat pada crista interossea tibiae dan crista interossea fibulae dengan arahnya ke caudal-lateral, membentuk suatu Syndesmosis. Fungsi membrana interossea selain memfiksir tibia pada fibula juga tempat melekat beberapa otot cruris.
Ujung distal tibia dan fibula membentuk suatu Syndesmosis, dan dihubungi satu sama lain oleh ligamentum interosseum, yang membentuk membrana interossea. Hubungan ini diperkuat di bagian anterior oleh ligamentum malleoli lateralis anterius, dan di bagian posterior terdapat ligamentum malleoli lateralis posterius yang lebih kuat. Nama lain dari kedua ligamenta tersebut adalah ligamentum tibiofibulare anterius dan ligamentum tibiofibularis posterius. Fungsi ligamenta tersebut tadi adalah menghalangi tertariknya fibula ke arah caudal.

4. ARTICULATIO TALOCRURALIS (= ANKLE JOINT)
Persendian ini adalah suatu Hinge Joit yang terbentuk oleh os talus di satu pihak dan facies distalis tibia, facies articularis malleoli lateralis et medialis serta ligamentum tibiofibularis transversus di pihak lain, yang membentuk cavitas articularis. Ligamentum tibiofibularis transversus adalah bagian dari ligamentum malleoli lateralis posterius (= ligamentum tibiofibularis posterior inferior) yang berada di bagian caudal dan profunda.
Permukaan yang menampung berat badan (gaya berat) adalah permukaan cranialis talus, yang diteruskan oleh permukaan inferior dari tibia. Os talus difiksir oleh malleolus medialis dan malleolus lateralis.
Capsula articularis melekat pada tepi facies articularis dari ketiga buah tulang tadi kecuali di bagian anterior dari os talus, yang melekat agak jauh ke anterior pada collum tali. Di bagian dorsal capsula articularis melekat juga pada ligamentum tibiofibularis posterior. Capsula ini tipis di bagian anterior dan posterios, menebal di bagian medial dan lateral membentuk ligamentum mediale (= ligamentum deltoideum) dan ligamentum laterale.
Ligamentum deltoideum berbentum segitiga dan tebal, melekat pada ujung malleolus medidalis, terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan superficialis dan lapisan profundus. Lapisan superficialis disebut pars tibiocalcaneus (=ligamentum calcaneotiboale), berjalan ke caudo-dorsal dan melekat pada bagian cranialis dari sisi sustenta culum tali. Lapisan profundus atau pars deltoidea mengadakan perlekatan pada facies medialis talus (di luar facies articularis), ada serabut-serabut di bagian anterior yang mencapai (melekat) os nviculare.
Ligamentum laterale terdiri atas tiga bagian, sebagai berikut:
1) Ligamentum calcaneofibulare yang berjalan ke arah caudo-dorsal, mulai dari ujung malleolus lateralis sampai pada sisi calcaneus;
2) Ligamentum talofibulare posterius yang melekat pada sisi medial malleolus lateralis, berjalan ke arah medio-dorsal, dan di pihak lain melekat pada processus lateralis tali;
3) Ligamentum talofibulare anterius yang melekat pada tepi anterior malleolus lateralis dan di lain lihak melekat pada collum tali.

PERGERAKAN
Pada persendian ini terdapat axis transversalis yang melewati corpus tali, tetapi arahnya miring (oblique), yaitu arah caudo-lateral. Mengangkat dorsum pedis disebut Dorsiflexion (=Extension), menurunkan planta pedis disebut Plantar flexion (=Flexi).
Gerakan dorsoflexi (= 50 derajat) lebih terbatas daripada Plantar flexi (=50 derajat). Otot-otot yang berperan pada Dorsiflexion adalah m.tibialis anterior, m.extensor hallucis longus, m.extensor digitorum longus dan m.peroneus tertius.
Gerakan Plantar flexi dilakukan oleh m.gastrocnemius dan m.soleus, dibantu oleh m.peroneus longus, m.peroneus brevis, m.flexor hallucis longus, m.flexor digitorum longus dan m.tibialis posterior.

5. ARTICULATIO TALOCALCANEA
Persendian ini terdiri atas : (a) ARTICULATIO TALONAVICULARIS, yang dibentuk oleh facis articularis navicularis tali dengan facies proximalis ossis navicularis dan (b) ARTICULATIO TALOCALCANEA ANTERIOR ET MEDIA ET POSTERIOR, yang dibentuk oleh facies articularis calcanea anterior et media et posterior dengan facies articularis anterior et media et posterior calcanei.
Articulatio TALANAVICULARIS bersama dengan articulatio TALOCALCANEA ANTERIOR ET MEDIA berada dalam satu cavum articulare, dan membentuk Articulatio TALOCALCANEONAVICULARE.
Articulatio TALOCALCANEA POSTERIOR (= ARTICULATIO SUBTALARIS) dibentuk oleh facies articularis posterior calcanei yang berbentuk konveks dengan facies articularis calcanea posterior tali yang berbentuk konkaf. Capsula articularis melekat pada tepi facies articularis dari kedua buah tulang bersangkutan.
Gerakan talus terjadi secara bersamaan pada articulatio subtalaris dan pada articulatio talocalcaneonavicularis, gerakan yang dimaksud adalah gerakan Inversion dan Eversion.
Pada gerakan Inversion pedis berputar terhadap axis longitudinalis sedemikian rupa sehingga bagian medial kaki terangkat ke cranial dan bersamaan dengan itu terjadi juga gerakan Adduksi, sehingga planta pedis menghadap ke arah medialis.
Pada gerakan Eversion tepi lateral pedis bergerak ke arah cranial dan lateral sehingga planta pedis menghadap ke arah lateral.
Gerakan Inversion dapat dianggap sebagai gabungan dari gerakan adduksi dan supinasi pedis, sedangkan gerakan Eversion adalah gabungan dari gerakan abduksi dan pronasi. Inversion maksimal dapat dicapai apabila pedis berada dalam posisi planta flexi, dan Eversion maksimal dapat dilakukan pada posisi pedis yang dorsoflexi. Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan Inversion dan eversion adalah :
a. bentuk
b. ligamentum calcaneofibulare dan ligamentum deltoideum.
Axis pronationis et supinationis melewati os talus dan os naviculare dengan arah yang miring dari caudo-lateral ke cranio-medial.
Otot yang berperan pada gerakan Inversion adalah m.tibialis anterior dan m.tibialis posterior.
Gerakan Eversion dilakukan oleh m.peroneus longus, m.peroneus brevis dan m.peroneus tertius.
Kedua gerakan tadi penting artinya bilamana berjalan pada lantai yang tidak datar (bergelombang).

6. MIDTARSAL JOINT
Articulus ini terdiri dari dua bagian, yang pertama dibentuk oleh os cubeideum dengan os calcaneus, yang kedua dibentuk oleh os talus dengan os naviculare.
Articulatio CALCANEOCUBOIDEA terletak transversal menyilang pedis dan berada pada satu garis dengan Articulatio TALONAVICULARIS. Kedua articulus ini membantu gerakan inversi, eversi, plantar flexi dan dorsoflexi. Pada persendian ini terdapat 4 buah ligamenta, yaitu (a) ligamentum calcaneo naviculare plantare, (b) ligamentum bifurcatum, (c) ligamentum plantare longum dan (d) ligamentum calcaneocuboideum plantare.

7. PERSENDIAN INTERTARSALIS LAINNYA, ARTICULATIO TARSOMETATARSALES dan ARTICULATIO INTERTARSALIS
Persendian antara os naviculare dengan ketiga buah os cuneiforme, persendian antara sesama os cuneiforme, persendian antara os cuniforme intermedia dan os cuneiforme laterate dengan basis ossis metatarsalis II dan III, persendian antara sesama basis ossis metatarsalis II – IV dan persendian antara os cuneiforme laterate dengan os cuboideum, masing-masing persendian tersebut mempunyai cavum articulare tersendiri.
Terdapat sebuah cavum articularis bagi persendian antara os cuboideum dengan basis ossis metatarsalis IV – V dan bagi persendian antara basis metatarsalis IV – V. Juga terdapat sebuah cavum articularis lainnya bagi persendian antara os cuneiforme mediale dengan basis metatarsalis I.
Semua persendian tersebut tadi mempunyai ligamentum plantaris dan ligamentum dorsalis serta ligamentum interosseus.
Ligamentum plantaris adalah lebih tebal daripada ligamentum dorsalis. Ligamentum interosseum terdapat di antara sesama os cuneiforme, di antara basis ossis metatarsalis satu sama lainnya dan di antara os cuneiforme I – II – III dengan basis ossis metatarsalis. Ligamentum interosseum letaknya lebih dekat ke arah plantaris daripada ke arah dorsalis, dan membantu mempertahankan arcus pedis.
Gerakan yang ada hanya gerakan menggelincir yang sangat terbatas.

8. ARTICULATIO METATARSOPHALANGEALIS dan ARTICULATIO INTERPHALANGEALIS
Articulatio METATARSOPHALANGEALIS berbentuk ellipsoidea dan berkaitan dengan gerakan plantar flexi dan dorsiflexi.
Articulatio INTERPHALANGEALIS mempunyai bentuk condyloidea.
Gerakan dorsiflexi pada Articulatio METATARSOPHALANGEALIS adalah lebih luas daripada gerakan plantar flexi. Hal yang sebaliknya terjadi pada Articulatio INTERPHALANGEALIS.
M.extensor hallucis longus, m.extensor difitorum longus dan m.extensor digitorum brevis berperan pada Articulatio Metatarsophalangealis yang menghasilkan gerakan Dorsi Flexi.
Gerakan Dorsiflexi di mana jari I kaki difiksasi dan badan seluruhnya bergerak pada Articulatio Metatarsophalangealis adalah sangat penting dalam berjalan.
Gerakan Plantarflexi dilakukan oleh mm.lumbricales dan mm.interossei, dan dibantu oleh m.flexor digitorum longus, m.quadratus plantae (=m.flexor accessories) dan m.flexor digitorum brevis.
Gerakan Abduksi dan Adduksi pada articulatio metatarsophalangealis terjadi pada axis longitudinalis jari II. Pada gerakan Adduksi ibu jari bergerak mendekati jari II, dilakukan oleh m.adduktor hallucis, dan gerakan Abduksi ibu jari dilakukan oleh m.abductor hallucis.
Gerakan Dorsiflexi pada Articulatio INTERPHALANGEALIS jari I dilakukan oleh m.extensor hallucis longus.
Flexi jari I pada articulatio INTERPHALANGEALIS dilakukan oleh m.flexor hallucis longus.


ARTICULATIONES VERTEBRALIS

1. ARTICULATIO INTERVERTEBRALIS
Terdiri atas dua tipe, yaitu (a) tipe Vertebralis dan (b) the Limb type (= synovial Joint)

a. Tipe Vertebralis terdiri atas bentuk Symphysis dan Syndesmosis.
Bentuk SYMPHISIS
Berada pada linea mediana, seperti symphysis osseum pubis, antara manubrium sterni dan corpus sterni. Berada di antara corpus vertebrae, dipisahkan antar corpus vertebrae (difiksasi) oleh Discus intervertebralis, dan juga difiksasi oleh ligamentum longitudinale anterius dan ligamentum longitudinale posterius, berada mulai dari Sacrum sampai di Basi-occiput.
Discus intervertebralis dibentuk oleh anulus fibrosus yang berada di bagian superficial dan nucleus pulposus di bagian profunda (membentuk inti). Berada di sepanjang columna vertebralis, mulai dari (antara) vertebra cervicalis 2 – 3. Bentuknya paling tipis di regio Thorax dan paling tebal pada regio Lumbal. Bagian anterior dari discus intervertebralis adalah tebal di bagian anterior pada regio Cervical dan Lumbal. Struktur berubah mengikuti usia. Secara keseluruhan panjang discus intervertebralis adalah ¼ dari columna vertebralis. Discus intervertebralis berfungsi sebagai shock-absorbing dan memfiksasi corpus vertebrae.
Ligamentum longitudinale anterius melekat pada tepi anterior corpus vertebrae dan discus intervertebralis. Bentuk lebar besar dan kuat.
Ligamentum longitudinal posterius melekat pada tepi dorsal corpus vertebrae, yaitu pada permukaan canalis vertebralis. Bentuk kecil, lemah dan ujung cranial menjadi membrana tectoria.

Syndesmosis Vertebralis
Terdapat empat buah ligamenta:
a) Ligamentum FLAVUM, terdapat antar lamina vertebralis, membantu gerakan (extensi sesudah flexi), kuat di regio lumbalis.
b) Ligamentum INTERSPINALE, terdapat antar processus spinosus.
c) Ligamentum SUPRASPINALE, terdapat antar ujung processus spinosus, di regio cervicalis menjadi Ligamentum Nuchae.
d) Ligamentum INTERTRANSVERSUM, terdapat antar processus transversum, lemah.

b. SYNOVIAL JOINT
Dibentuk antar processus articularis. Menghasilkan gerakan flexi, extensi, lateroflexi dan rotasi. Gerakan yang paling luas berada pada regio cervicalis dan lumbalis.
FUNGSI COLUMNA VERTEBRALIS :
1) Transmisi Gaya Berat Badan
2) Tempat melekat otot-otot truncus dan extremitas
3) Gerakan tubuh

2. JUNCTURA COSTOVERTEBRALIS
Articulus antara costa dengan vertebra thoracalis terdapat pada dua tempat, yaitu (1) antara capitulum costae dan corpus vertebrae dan (2) antara tuberculum costae dan processus transversus.
1) ARTICULATIO COSTOVERTEBRALIS merupakan suatu articulus yang dibentuk oleh capitulum costae dengan corpus vertebrae. Pada umumnya setiap capitulum costae membentuk articulus dengan dua buah corpus vertebrae, dan pada articulus ini terdapat discus articulus, kecuali costa I, X, XI dan XII (masing-masing ini hanya dengan sebuah corpus vertebrae).
Pada articulus ini terdapat (a) ligamentum capituli costae radiatum, meluas dari capitulum costae menuju ke corpus vertebrae dan (b) ligamentum capituli costae interarticulare, yang membagi cavum articulare menjadi dua bagian.
2) ARTICULATIO COSTOTRANSVERSARIA dibentuk oleh tuberculum costae dengan processus transversus vertebrae thoracalis. Pada articulus ini terdapat beberapa ligamentum, yaitu:
a) Ligamentum tuberculi costae, pendek, tebal dan kuat, berada di antara ujung processus transversus vertebrae dan tuberculum costae.
b) Ligamentum costotransversarium anterius, meluas dari collum costae menuju ke arah cranial dan lateral, melekat pada processus transversus vertebrae di sebelah cranialisnya.
c) Ligamentum costotransversarium posteriu, lemah, berada di antara collum costae dan basis processus transversus vertebrae, arah serabut adalah cranio-medial.
d) Ligamentum colli costae, pendek, kuat, menghubungkan collum costae dengan processus transversus di sebelah caudalnya.

JUNCTURA COSTOSTERNALIS
Dari ketujuh pasang costae verae hanya costa I yang berhubungan dengan sternum secara synarthrosis, yaitu Synchondrosis sternocotalis costae I, sedangkan yang lain berhubungan secara diarthrosis pada articulations sternocostales. Articulatio sternocostalis costa II biasanya mempunyai dua buah cavum articularis yang terpisahkan oleh ligamentum interarticulare, yang menghubungkan ujung cartilago costae II dengan synchondrosis sternalis yang terdapat di antara manubrium sterni dan corpus sterni.
Articulationes interchondralis adalah hubungan secara diarthrosis antara tepi costa VI, VII dan VIII dan kadang-kadang costa IX dan X yang bersentuhan. Articulationes ini diperkuat oleh ligamentum interchondrales.
Vertebrae spuriae membentuk articulus dengan sternum secara synchondrosis.



BAB III
STABILITAS TUBUH

KERJA PENGUNGKIT (= LEVER) PADA ALAT GERAK
Mempunyai tiga buah komponen, yaitu (1) articulus merupakan Titik Penyokong, (2) otot sebagai Gaya dan (3) Beban adalah berat bagian yang digerakkan.
a) Titik penyokong terdapat di antara Gaya dan Beban. Gaya dan Beban mempunyai arah yang sama, misalnya artic.atlanto-occipitalis, Gaya adalah otot-otot tengkuk yang berada di sebelah posterior axis transversalis. Beban adalah berat kepala dengan titik beratnya terdapat di depan sumbu gerak tersebut.
b) Beban dan Gaya terdapat pada sisi yang sama terhadap Titik Penyokong, tetapi arah berlawanan, lengan Gaya lebih panjang daripada lengan beban. Contohnya adalah ketika menginjak lantai, Titik Penyokong adalah ujung pedis, Gaya adalah m.triceps surae yang berinsersi pada tubercalcanei sedangkan beban adalah berat badan yang menekan talus.
c) Beban dan Gaya terdapat pada sisi yang sama terhadap Titik Penyokong dengan arah yang bertentangan. Lengan Gaya lebih pendek daripada lengan Beban. Pengungkit macam ini terdapat banyak pada tubuh, misalnya art.humero-ulnaris, dalam hal ini Gaya adalah m.brachialis dan beban adalah berat antebrachium.

KESEIMBANGAN BADAN
Pada sikap biasa titik berat badan berada di atas axis transversal yang melalui kedua articulatio coxae. Jadi badan berada dalam Keseimbangan Labil karena titik berat terdapat di atas titik penyokong. Pada sikap ini panggul letaknya sedemikian rupa sehingga spina iliaca anterior superior dan tuberculum pubicum terdapat dalam satu bidang frontal, incisura acetabuli menghadap ke caudal, dan bidang yang melalui adirus pelvis membentuk sudut 60 derajat dengan bidang datar (= inclinatio pelvis = miring pelvis ).
Karena badan berada dalam keseimbangan labil maka keseimbangan itu mudah terganggu, dalam hal ini panggul dapat berputar ke ventral atau ke dorsal, artinya inclinatio pelvis membesar atau mengecil. Karena panggul melekat erat pada os sacrum, maka tiap gerak panggul bertambah miring ke ventral, inclinatio pelvis bertambah besar, maka columna verteblaris juga akan bergerak ke ventral. Dengan majunya columna verteblaris ke ventral maka keseimbangan badan terganggu dan badan akan terjatuh ventral. Untuk menghindari hal tersebut, badan melakukan koreksi dengan menambah pelengkungan lordosis lumbalis, artinya mengecilkan angulus lumbosacralis sehingga titik berat badan dipindahkan kembali ke dorsal. Sebaliknya jika miring panggul mengecil, jadi jika panggul memutar ke dorsal, maka columna vertebralis sebenarnya akan bergerak ke dorsal, tetapi hal itu dicegah oleh karena lordosis lumbalis merata, artinya angulus lumbodorsalis membesar. Jadi tiap pembesaran miring panggul mengakibatkan pengecilan angulus lumbodorsalis dan sebalaiknya tiap pengecilan miring panggul disertai dengan pembesaran angulus lumbodorsalis.


STATIK DAN MEKANIK GELANG PANGGUL
Lengkung-lengkung penerus gaya.
Berat badan yang membebani os sacrum dari cranial melalui articulatio sacroiliaca diteruskan kepada kedua ossa coxae dan pada sikap berdiri beban itu dilanjutkan kepada os femur melalui articulatio coxae. Lengkung gaya ini dinamakan Acus sacrofemoralis. Gaya yang berjalan melalui arcus ini mencoba untuk mendorong acetabulum dan dinding lateral pelvis ke arah lateral, jadi mencoba untuk merenggangkan kedua ossa coxae. Namun gaya ini dilawan oleh sebuah gaya yang berjalan melalui ramus superior ossis pubis (= Arcus pubis) dan oleh ligamentum pada symphysis osseum pubis.
Pada sikap duduk beban berat badan diteruskan dari os sacrum melalui articulatio sacroiliaca kepada kedua ossa coxae dan selanjutnya kepada kedua tuber ischiadicum. Lengkung gaya ini disebut Arcus sacroischius. Gaya ini pun berhasrat untuk merenggangkan ossa coxae, tetapi medapat perlawanan dari gaya yang berjalan melalui ramus inferior ossis pubis dan ramus inferior ossis ischii, lengkung gaya ini disebut Arcus ishiopubicus.

PERASAT THOMAS
Gerakan pada articulatio coxae dapat disembunyikan oleh gerak panggul. Misalnya pada appendicitis acuta m.ilipsoas berkontraksi yang menyebabkan antefleksi articulatio coxae dexter, dan jika orang tersebut berbaring maka antefleksi itu menghilang yang disebabkan oleh karena panggulnya berputar ke anterior. Dengan demikian angulus lumbodorsalis mengecil (lordosis lumbalis bertambah melengkung) sehingga di daerah lumbal akan terbentuk suatu celah di antara columna vertebralis dan tempat tidur; tangan dapat dimasukkan di dalam celah tersebut (pada keadaan normal tangan tidak bisa disisipkan di antara pinggang dengan tempat tidur).

GEJALA TRENDELENBURG
Apabila salah satu extremitas diangkat (misalnya yang dexter) maka pelvis di bagian tersebut (dexter) berhasrat akan turun oleh karena tidak ada sandarannya, namun hal itu tidak terjadi. Keadaan tersebut diatasi oleh berkontraksinya m.gluteus medius dan m.gluteus minimus pada pihak lain (pihak sinister). Bila pada suatu keadaan ada gangguan pada m.gluteus medius dan m.gluteus minimus (sinister) maka pelvis orang tadi akan turun dan segera diantisipasi oleh gerakan lateroflexi columna vertebralis ke arah yang sakit sehingga extremitas bagian yang sehat (dexter) tampak seolah-olah lebih panjang, dan orang tersebut akan jalan miring ke arah extremitas yang sakit.

ARCUS PEDIS
Pedis tidak merupakan suatu bidang datar, melainkan melengkung membentuk suatu arcus dengan titik tumpu di bagian dorsal dan anterior. Arcus tersebut mengarah ke arah longitudinal dan transversal, dan disebut Arcus Pedis Longitudinalis dan Arcus Pedis Transversalis. Arcus pedis transversalis berbentuk setengah arcus dan menjadi arcus penuh apabila kedua pedia diletakkan berdampingan. Titik tumpu di bagian dorsal adalah processus medialis tuberis calcanei dan di bagian aterior dibentuk oleh kedua ossa sesamoidea pada capitulum ossis metatarsalis I serta capituli ossium metatarsalium II – V. Dengan demikian pada bekas tapak kaki pada lantai akan tampak bahwa hanya tumit, daerah capituli ossium metatarsalium, jari-jari dan bagian lateral tapak kaki mengenai lantai. Bagian lateral pedis juga mengenai lantai oleh karena lengkung longitudinalis lateralis letaknya lebih rendah. Bagian medial tapak kaki tidak menyentuh lantai sebab arcus medial letaknya lebih tinggi. Pada Pes Planus sisi medial pedis menyentuh lantai.
Ada tiga factor yan mempengaruhi bentuk arcus pedis, yaitu:
1. Ligamentum intersegmentalis, memfiksir tulang-tulang yang membentuk arcus pedis.
2. Ligamentum interpillaris, yang menghubungkan (memfiksir) ujung-ujung arcus pedis
3. Sengkang (strap) yang berada di bagian inferior dari puncak arcus pedis dan melekat pada bangunan di luar arcus pedis.

Suatu gaya yang menekan arcus pedis akan menghasilkan gaya tangential yang arahnya mendatar pada kedua ujung arcus. Pada gaya tangential yang sama besarnya, maka gaya tangential itu akan lebih besar pada arcus yang rendah daripada yang tinggi. Gaya tangential ini mencoba untuk memperbesar jarak antara kedua ujung arcus, tetapi hal ini dilawan oleh ligamentum intersegmentalis dan ligamentum interpillaris. Ligamentum intersegmentalis dan ligamentum interpillaris yang berada di bagian yan cekung dari arcus (inferior) lebih kuat daripada yang berada di bagian yang cembung (superior).

Arcus Pedis Longitudinalis dibagi menjadi (1) Arcus Pedis Longitudinalis Medialis dan (2) Arcus Pedis Longitudinalis Lateralis.

Arcus Pedis Longitudinalis Medialis
Dibentuk oleh os calcaneus, os talus, os naviculare, ossa cuneiformia I – III dan ossa metatarsalia I – III (dan phalanges jari I – III). Bagian yang tertinggi (puncak) dari arcus berada pada batas 1/3 bagian dorsal dan 2/3 bagian anterior arcus, yaitu di antara os calcaneus dan os naviculare. Sebagai ligamentum intersegmentalis ialah ligamentum calcaneonaviculare, ligamentum cuneonaviculare dan ligamentum cuneometatarsalia. Bertindak sebagai ligamentum interpillaris adalah aponeurosis plantaris dan m.abductor hallucis dan m.digitorum brevis. Aponeurosis palmaris adalah suatu fascia yang kuat yang terletak pada permukaan tapak kaki menutupi otot-otot pada planta pedis, terbentang diantara calcaneus dan articulatio metatarsophalangealis. Sengkang pada arcus ini adalah tendo m.tibialis posterior, yang berjalan di sebelah profunda ligamentum calcaneonaviculare pada puncak arcus.

Arcus Pedis Longitudinalis Lateralis
Dibentuk oleh os calcaneus, os cuboideum, dan ossa metatarsalia IV – V (dan phalanges jari IV – V). puncak arcus dibentuk oleh os cuboideum dan pada tempat ini berjalan tendo m.peroneus longus. Ligamentum intersegmentalis dibentuk oleh ligamentum plantare longum dan ligamentum calcaneocuboideum plantare. Sebagai ligamentum interpillaris ialah aponeurosis plantaris, m.abductor digiti quinti dan m.flexor digitorum brevis. Sengkangnya adalah tendo m.peroneus longus yang berjalan di bagian inferior puncak arcus, di caudalis os cuboideum.

Arcus Pedis Transversalis
Arcus ini hanya dipertahankan oleh ligamentum intersegmrntalis dan ligamentum interpillaris, sedangkan tidak ada sengkang. Ligamentum intersegmentalis dibentuk oleh ligamentum yag memfiksir os naviculare pedis, os cuboideum, ossa cuneiformia dan basis ossium metatarsalium. Ligamentum interpillaris dibentuk tendo m.tibialis posteror dan m.peroneus longus, dan merupakan faktor yang paling utama untuk mempertahankan arcus pedis transversalis.

SIKAP BADAN
Ada tiga macam Sikap Badan, sebagai berikut:
1. SIKAP BIASA, pada sikap ini miring panggul adalah 60 derajat dan badan berada dalam keseimbangan labil oleh karena titik berat badan terletak di atas sumbu lintang yang melalui kedua articulatio coxae yang merupakan titik penyokong badan. Titik berat badan dan axis lintang itu terletak dalam satu bidang frontal bersama-sama dengan pertengahan sendi kepala, articulatio humeri, articulatio genu dan articulatio talocruralis. Pada sikap ini tidak ada otot yan bekerja karena badan sudah berada dalam keadaan keseimbangan.
2. SIKAP ISTIRAHAT, pada sikap ini panggul diputar kedorsal sebanyak kira-kira 25 derajat sehingga ligamentum iliofemorale menjadi tegang. Titik berat badan terletak di sebelah dorsal sumbu lintang pangkal paha. Garis berat badan berjalan di sebelah dorsal articulatio coxae, disebelah anterior articulatio genu dan memotong pedis pada tempat yang tertinggi dari talus. Pada sikap ini juga tidak ada otot yan berkontraksi oleh karena berat badan digantungkan pada ligamentum iliofemorale, jadi ligamentum ini yang menahan berat badan.
3. SIKAP MILITER, pada sikap ini pelvis diputar ke anterior dan angulus lombosacalis mengecil. Titik berat badan terdapat di sebelah anterior sumbu lintang pangkal paha. Garis berat berjalan di anterior articulatio coxae, articulatio genu dan articulatio talocruralis. Keseimbangan tercapai oleh kontraksi mm.erector trunci, m.gluteus maximus, mm.ischiocrurales, m.gastrocnemius dan m.soleus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar