Jumat, 22 Mei 2009

EMBRYOLOGY VISCERA ABDOMINIS
BAHAN KULIAH
ASRUL MAPPIWALI
Pada perkembangan embryo akan terjadi pelipatan baik ke arah antero posterior maupun lipatan ke arah cephalo caudal, akibatnya terbentuk rongga yang dibatasi oleh lapisan entoderm. Rongga tersebut dibagi menjadi: bagian intra embryonal yaitu primitive gut, dan bagian extra embryonal yang terdiri dari: yolk sac dan allantois. Pada ujung cranial, primitive gut akan membentuk tabung buntu yang disebut foregut, dan pada ujung caudal akan membentuk hindgut. Pertemuan lapisan ectoderm dan entoderm pada pada ujung cranial membentuk suatu membran yang disebut membrana buccopharyngealis. Demikian pula halnya pada ujung distal hindgut akan terbentuk membrana cloaca. Bagian tengah membentuk midgut, yang sementara tetap berhubungan dengan yok sac melalui ductus vitellinus (ductus omphaloentericus).
Pada perkembangan selanjutnya foregut akan terbagi menjadi dua daerah yaitu:
1. Bagian cranial yang dikenal sebagai pharyngeal gut (yang akan membentuk Pharynx). Bagian ini membentang mulai dari membarana buccopharyngealis sampai diverticulum tracheobronchialis.
2. Bagian caudal, mulai dari diverticulum tracheobronchialis sampai midgut.
Bagian cranial forgut ( pharynx) akan dibicarakan di bagian lain.

Bagian caudal foregut.
OESOPHAGUS
Oesophagus terbentang mulai dari diverticulum trachebronchialis hingga pelebaran yang bakal menjadi gaster. Mula-mula oesophagus masih sangat pendek tetapi dengan turunnya cor dan pulmo, bagian foregut akan memanjang dengan cepat. Otot-otot yang mengelilinginya adalah otot-otot corak pada 2/3 bagian cranial. Bagian ini diinnervasi oleh n.X (n. Vagus). 1/3 bagian distal dibentuk oleh otot-otot polos yang diinnervasi oleh saraf otonom dari plexus splanchnicus.
GASTER
Gaster terbentuk sebagai suatu pelebaran foregut yang berbentuk fusiform. Dengan terdapatnya perbedaan kecepatan pertumbuhan pada berbagai bagian dindingnya serta adanya perubahan-perubahan letak terhadap organ-organ sekitarnya maka bentuk dan kedudukan gaster sangat berubah. Perputaran gaster terjadi terhadap axis(sumbu), yaitu sumbu memanjang (sumbu longitudinalis) dan sumbu anteroposterior. Terhadap sumbu memanjang, gaster berputar ke kanan sesuai arah jarum jam sebesar 90 derajat, sehingga sisi sebelah kiri akan berpindah menjadi ke depan, dan sisi kanan akan berpindah ke belakang. Oleh karena itu N. Vagus sinistra yang semula menginnervasi gaster di sebelah kiri, setelah terjadi perputaran akan terletak di sebelah ventral. Demikian pula N. vagus dextra terletak di bagian dorsal gaster. Selama perputaran gaster berlangsung, bagian gaster yang semula terletak di bagian belakang mengalami perkembangan lebih cepat dibanding dengan bagian depan, sehingga terbentuk lengkungan yang besar di bagian dorsal yang disebut curvatura major, dan di bagian ventral terbentuk curvatura minor.
Pada tingkat perkembangan ini gaster terikat pada dinding tubuh melalui mesogastrium ventrale (sebelah depan) dan mesogastrium dorsale (sebelah belakang). Akibat perputaran pada sumbu memanjang ini gaster akan menarik mesogastrium dorsale ke kiri sehingga membantu pembentukan bursa omentalis. Ujung cranial dan caudal gaster pada mulanya terletak di garis tengah, tetapi pada perkembangan selanjutnya terjadi pula perputaran pada sumbu anteroposterior sehingga bagian caudal (yaitu bagian pylorus) bergerak ke kanan dan ke cranial, dan bagian craial (yaitu cardia) akan bergerak ke kiri dan sedikit ke caudal. Dengan demikian gaster akan mencapai kedudukan akhir dengan posisi sumbu memanjangnya berjalan dari arah laterocranial ke arah medio caudal.
DUODENUM
Duodenum dibentuk oleh bagian caudal foregut dan bagian cranial midgut. Titik pertemuan ke dua bagian ini terletak tepat di sebelah distal diverticulum hepatis. Sementara gaster mengalami perputaran, duodenum mengambil bentuk huruf C memutar ke kanan dan akhirnya terletak retroperitoneal.
HEPAR DAN VESICA FELLEA
Pada pertengahan minggu ketiga timbul tonjolan dari entoderm pada ujung distal foregut yang disebut diverticulum hepatis, yang terdiri dari sel-sel yang bertumbuh sangat cepat dan menembus masuk ke dalam septum transversum. Sementara sel-sel tadi menembus septum transversum, hubungan antara diverticulum hepatis dengan duodenum menyempit sehingga terbentuk saluran empedu, yang kelak akan menjadi ductus hepatis. Selanjutnya saluran empedu membentuk tonjolan kecil ke arah ventral yang akan membentuk vesica fellea dan ductus cysticus. Selanjutnya sel-sel hepar membentuk parenchym hepar dan jaringan ikat dibentuk oleh mesoderm septum transversum. Sebagai akibat pertumbuhan cepat yang berlangsung terus, hepar menjadi terlampau besar pada septum transversum akhirnya menonjol ke dalam cavum abdominis. Mesoderm septum transversum yang terletak antara dinding ventral abdomen dan hepar teregang dan menjadi sangat tipis sehingga membentuk selaput tipis yang dikenal sebagai ligamentum falciforme hepatis.
Mesoderm pada permukaan hepar berdiferensiasi menjadi peritoneum viscerale, kecuali pada permukaan cranialnya. Pada daerah ini hepar tetap bersentuhan dengan septum transversum. Septum transversum kelak akan menjadi diaphragma thoracis. Permukaan hepar yang tadinya bersentuhan dengan septum transversum tetap tidak dilapisi peritoneum dan dikenal sebagai pars afixa hepatis. Setelah vesica fellea dan ductus cysticus telah berkembang secara sempurna, ductus cysticus telah bersatu dengan ductus hepaticus membentuk ductus choledochus. Sebagai akibat perubahan-perubahan letak duodenum, muara ductus choledochus berangsur-angsur bergeser dari yang tadinya berada di depan menjadi ke belakang dan akibatnya ductus choledochus menyilang di belakang duodenum.

PANCREAS
Pancreas dibentuk oleh dua tonjolan yang berasal dari entoderm duodenum. Di bagian ventral, terletak di sudut bawah diverticulum hepatis yang berhubungan erat dengan ductus choledochus. Di bagian dorsal terletak berseberangan dan sedikit di cranial dari diverticulum hepatis. Ketika duodenum berputar ke kanan dan membentuk huruf C, tonjolan pancreas ventralis bergeser ke dorsal dan pancreas ventralis terletak tepat di caudal pancreas dorsalis. Perkembangan selanjutnya pancreas dorsalis dan pancreas ventralis bersatu (baik parenchym maupun saluran keluarnya).

Ductus Pancreaticus
Ke dua ductus excretorius dari ke dua pancreas akan menyatu. Bagian distal ductus excretorius pancreas dorsalis akan menyatu dengan seluruh ductus dari pancreas ventralis membentuk ductus pancreaticus major (Wirsungi). Ductus ini merupakan saluran utama pancreas. Di bagian proximal ductus pancreaticus dorsalis akan menutup atau tetap sebagai saluran kecil yang disebut ductus pancreaticus accessorius (Santorini). Ductus pancreaticus major bersama-sama ductus choledochus bermuara pada duodenum pada papilla duodeni major. Sedangkan ductus accessorius akan bermuara pada papilla duodeni minor.
MIDGUT
Pada embryo 5 mm midgut yang terbentang antara foregut dan hindgut tergantung pada dinding dorsal abdomen melalui mesenterium yang pendek, dan berhubungan dengan yolk sac melalui ductus vitellinus. Sekalipun pada embryo batas cranial dan caudal midgut tidak jelas, pada orang dewasa pada umumnya dapat dikenal dimana batas cranialnya ialah pada muara ductus choledochus dan batas caudalnya adalah 1/3 bagian distal colon transversum. Perkembangan midgut ditandai dengan memanjangnya dengan cepat intestinum bersama dengan mesenteriumnya yang mengakibatkan terbentuknya loop intestinalis primer. Pada puncak loop tetap berhubungan dengan ductus vitellinus. Bagian cranial loop berkembang menjadi bagian distal duodenum, jejenum, dan sebagian ileum. Bagian caudalnya menjadi: sebagian ileum, caecum,appendix, colon ascendens, dan 2/3 colon transversum. Pada orang dewasa kadang-kadang ditemukan ductus vitellinus yang menetap yang disebut diverticulum Meckeli.
Pada perkembangan selanjutnya loop intestinalis terutama bagian cranialnya memanjang dengan cepat ditambah dengan perluasan hepar yang terjadi serentak sehingga cavum abdomen menjadi relatif sempit untuk menampung semua, sehingga intestinum akan keluar dari cav. Abdomen dan masuk ke dalam coeloma extra embryonal di dalam umbilical cord. Keadaan ini disebut sebagai hernia umbilicalis fisiologis. Bersamaan dengan pertumbuhan memanjang, loop intestinalis primer berputar melalui sumbu yang dibentuk oleh a. mesenterica superior. Apabila dilihat dari arah depan, arah putarnya berlawanan dengan arah jarum jam (counter clock wise) dengan putaran 270 derajat. Kira-kira pada akhir minggu ke3, loop intestinalis yang menonjol ke dalam umbilical cord akan kembali masuk ke dalam cav. Abdominis, dan yang paling duluan masuk adalah bagian proximal jejenum dan mengambil tempat di daerah sisi kiri, sedangkan bagian lainnya akan mengambil tempat di daerah sebelah kanan. Tonjolan caecum yang muncul di bagian caudal loop intestinalis primer merupakan bagian terakhir yang masuk kembali ke dalam cav. Abdominis.
Pada mulanya bagian caecum terletak pada sisi latero cranial kanan kemudian bergerak turun ke dalam fossa iliaca dextra, sambil membentuk colon ascendens dan flexura hepatica. Sementara itu tonjolan caecum membentuk appendix primitivum.
HINDGUT
Hindgut terbentuk di bagian caudal yang akan membentuk 1/3 bagian distal colon transversum, colon descendens, colon sigmoideum, rectum dan sebagian canalis analis. Bagian akhir hindgut bermuara ke dalam cloaca, suatu rongga yang dilapisi ectoderm.
Pada daerah pertemuan ectoderm dan entoderm ini terbentuk membrana cloaca. Pada perkembangan selanjutnya timbullah suatu sekat yang disebut septum urorectale yang terletak antara allantois dan hindgut. Septum ini tumbuh terus ke arah caudal sambil membagi cloaca menjadi sinus urogenitalis primitivum di bagian depan, dan canalis anorectalis di bagian belakang. Setelah septum urorectale mencapai membrana cloaca akan terbentuk perineum primitivum sehingga membarana cloaca terbagi 2 yang bagian depan menjadi membrana urogenitalia dan bagian belakang menjadi membrana analis yang ditutupi oleh tonjolan mesenchym. Pada minggu ke9 membrana analis akan pecah dan terbentuk anus.
LIEN
Lien mula-mula nampak pada waktu embryo berumur 4 minggu, yang berasal dari condensasi sel-sel mesoderm yang berada di dalam mesogastrium dorsale. Selanjutnya penebalan mesoderm tadi mengadakan penonjolan mulai dari permukaan sebelah kiri mesogastrium dorsale menuju ke dalam cav. Peritonei. Akhirnya mesogastrium dorsale terbagi 2 bagian yaitu: bagian dorsal, yang menmghubungkan antara dinding dorsal abdomen dengan lien, dan bagian depan yang menghubungkan antara lien dengan curvatura major gaster. Tonjolan pancreas dorsalis bertumbuh ke dalam bagian dorsal mesogastrium dorsale dan ujungnya berkembang sampai ke pada lien, dan bagian ini kemudian akan bersatu dengan peritoneum pada bagian posterior dinding abdomen, di sebelah depan ren. Bagian yang menghubungkan lien dengan ginjal dan supra renalis sinistra dikenal sebagai ligamentum lieno renalis. Arteri lienalis yang merupakan cabang dari a. coeliaca akan berjalan di dalam mesogastrium dorsale menuju ke dalam lien. Bagian anterior mesogastrium dorsale menghubungkan antara lien dengan gaster yang dikenal sebagai ligamentum gastro lienalis.
KELAINAN-KELAINAN CONGENITAL
1. Stenosis pyloricum, keadaan di mana terjadi penyempitan pada daerah pylorus. Kelainan ini merupakan salah satu kelainan gaster yang paling sering ditemukan pada anak-anak.
2. Atresia vesica fellea dan ductus choledochus, yaitu tidak terbentuk vesica fellea dan
ductus choledochus.
3. Terdapat dua vesica fellea (double vesica fellea)
4. Pancreas annularis, yaitu duodenum dikelilingi seluruhnya oleh jaringan pancreas, hal ini disebabkan karena bagian kanan pancreas ventralis tetap berputar sebagaimana mestinya, tetapi bagian kiri berputar ke arah sebaliknya.
5. Heteretopic pancreas, yaitu letak pancreas yang tidak pada tempatnya
6. Terdapat sisa-sisa ductus vitellinus berupa:
a. Diverticulum Meckeli
b. Fistula Vitellina= fistula umbilicalis
c. Kista vitellina (Enterocystoma)
7. Omphalocele
8. Hernia umbilicalis congenitalis
9. Tractus intestinalis yang ganda
10. Atresia dan stenosis ani.

SYSTEMA UROGENITALIA
Secara fungsional, systema urogenitalia dapat dibagi dalam dua bagian terpisah yaitu: 1. Systema urinaria = Systema uropoetica
2. Systema genitalia
Secara embryologis, ke dua systema ini saling bertautan, dimana ke duanya berasal dari mesoderm yang membentuk rigi genitalia, dan saluran-saluran keluarnya pada mulanya bermuara ke dalam rongga cloaca. Pada perkembangan selanjutnya, pertautan ke dua system ini terutama nyata sekali pada pria. Di sini saluran keluarnya pada mulanya berfungsi sebagai saluran kemih, tetapi kemudian berubah menjadi saluran kelamin utama. Selain itu pada orang dewasa pria, alat-alat genitalia maupun alat urinaria menyalurkan hasilnya melalui saluran yang sama yaitu melalui urethra pars cavernosa.

SYSTEMA URINARIA
SUSUNAN GINJAL
Pada mulanya terbentuk tiga susunan ginjal yang berbeda yang saling tumpang tindih selama kehidupan di dalam kandungan. Mula-mula terbentuk banguanan yang sederhana yang sifatnya sementara yang disebut pronephros. Pada perkembangan selanjutnya pronephros akan digantikan oleh bangunan yang lebih sempurna yang disebut mesonephros, yang meluas dari segmen cervical bawah hingga ke lumbal atas. Selanjutnya mesonephros akan digantikan oleh metanephros (ren permanen) yang tumbuh pada daerah lumbal bawah dan sacral..
Pronephros
Pada perkembangan minggu ketiga, mesoderm intra embryonal berdiferensiasi menjadi tiga bagian yaitu;
1. mesoderm paraxiale
2. mesoderm pars lateralis
3. mesoderm pars intermedius
Dari mesoderm pars intermedius akan terbentuk organ-organ dari system urogenitalia. Pada daerah cervical, mesoderm intermedius membentuk kelompok-kelompok sel yang tersusun secara segmental yang disebut nephrotome. Pronephros dibentuk oleh 7 – 10 kelompok nephrotome. Nephrotome akan bertumbuh ke lateral dan membentuk saluran-saluran kecil yang disebut tubulus pronephridicus. Selanjutnya ujung lateral akan tumbuh ke arah caudal. Selama pertumbuhannya ke caudal, saluran-saluran ini sksn bersatu dengan segmen yang terletak di bawahnya membentuk ductus pronephridicus. Di bagian medial, aorta dorsalis memberikan cabang-cabangnya menuju pronephros membentuk glomerulus internus, sedangkan cabang lainnya menuju ke rongga coeloma membentuk glomerulus externus. Nephrotome-nephrotome terbentuk tidak bersamaan waktunya. Sebelum nephrotome terakhir terbentuk, nephrotome yang pertama terbentuk sudah menghilang. Pada akhir minggu ke4 semua susunan pronephros telah menghilang.
Mesonephros
Pada pertengahan bulan ke2, mesonephros yang mempunyai bentuk lebih besar dari pronephros, terbentuk dari mesoderm intermedius yang tidak bersegmen. Mesonephros ini terletak di sebelah caudal pronephros, di sebelah kiri kanan linea mediana anterior. Selama menghilangnya pronephros, saluran mesonephros (tubulus mesonephridicus) mulai terbentuk. Tubuli ini berkembang dengan cepat membentuk jerat berbentuk S membentuk capsula Bowman. Ujung medialnya bergabung dengan glomeruli dan ujung lateralnya bermuara ke dalam ductus mesonephridicus (ductus Wolffi). Pada pria ductus mesonephridicus akan menetap dan akan mengalami perkembangan lebih lanjut. Sementara mesonephros berkembang, di sebelah medialnya terbentuk kelenjar kelamin (gonade) . Akibat perkembangan tubulus mesonephridicus dan bersama-sama gonade menyebabkan tonjolan ke ventral yang disebut rigi urogenitalia. Ductus mesonephridicus bagian cranial akan berdegenerasi, sementara bagian caudalnya tetap berdiferensiasi.
Metanephros.
Sementara terjadi penyusutan mesonephros, terbentuklah metanephros. Terjadinya metanephros yang letaknya lebih ke caudal dari mesonephros berkembang dari blastema metanephrogenica, yang akan membentuk saluran-saluran excretorius. Sementara itu pada bagian distal ductus mesonephridicus terbentuk suatu penonjolan yang disebut tunas ureter. Tonjolan ini akan menyusut masuk ke dalam blastema meta nephrogenica. Tunas ureter ini makin lama makin panjang dan berkelok-kelok mendesak jaringan metanephros. Desakan ini sedemikan rupa sehingga terbentuk bola-bola metanephridica yang seolah-olah sebagai penutup kepala meliputi ujung distal tunas ureter. Ujung distal selanjutnya melebar membentuk pelvis renis sederhana dan bagian pangkalnya membentuk ureter. Pada perkembangan selanjutnya ujung distal akan bercabang-cabang membentuk tubulus collectivus primer yang akan menjadi calyx major. Selanjutnya tubulus collectivus primer bercabang membentuk tubulus collectivus secunder yang akan menjadi calyx minor, dan berjuta ductuli collectivus. Tunas ureter ini disamping mengadakan pendesakan, pada ujungnya memberikan cabang-cabang sehingga tiap cabang terakhir bertemu dengan satu bola metanephridica. Jaringan metanephros yang mula-mula berbentuk sebagai bola kemudian berubah bentuk seperti cavum yang kemudian berkelok-kelok membentuk nephron. Ujung proximal nephron terdesak ke dalam oleh sebuah lengkung kapiler (glomerulus) membentuk capsula Bowman. Ujung distal nephron bermuara ke dalam salah satu ductus collectivus sehingga terbentuk hubungan antara glomerulus dengan ductus collectivus. Perkembangan nephron bertambah panjang terus menerus sehingga terbentuk tubulus contortius proximalis, loop Henle, tubulus contortius distalis. Meta nephros yang mula-mula terletak di daerah pelvis, kemudian bergeser ke cranial. Hal ini dinamakan ascensus renis. Di dalam pelvis, metanephros mendapat vascularisasi dari aorta. Ketika berpindah ke cranial ke daerah abdomen, metanephros menerima aliran darah dari cabang-cabang aorta pada tempat yang makin tinggi, pembuluh darah di bagian caudal akan berdegenerasi.

VESICA URINARIA
Pada perkembanan hindgut terjadi pembentukan septum urorectale, sehingga cloaca terbagi dua, bagian depan disebut sinus urogenitalia sederhana dan bagian belakang menjadi canalis anorectalis. Kemudian membran cloacalis akan terbagi juga menjadi membrana urogenitalia di bagian anterior, dan membrana analis di bagian posterior.
Selanjutnya sinus urogenitalia sederhana terbagi tiga bagian yaitu:
1. bagian paling besar di sebelah cranial akan menjadi vesica urinaria.
2. Bagian tengan merupakan salura agak sempit yang pada pria akan membentuk urethra pars prostatica dan pars membranacea.
3. Yang paling caudal merupakan sinus urogenitalia defenitiva.
Pada mulanya vesica urinaria berhubungan dengan allantois, tetapi setelah rongga allantois menutup sisanya akan menjadi urachus, dan pada orang dewasa dikenal sebagai ligamentum vesico-umbilicale mediale = lig. Umbilicale medialis.
Perkembangan sinus urogenitalia definitiva sangat berbeda pada pria dan wanita. Pada pria sinus urogenitalia akan membentuk urethra pars cavernosa & pada wanita membentuk vestibulum dan sebagian kecil urethra .
Selama pembagian cloaca kedudukan ductus mesonephridicus terhadap ureter banyak berubah. Bagian caudal ductus mesonephridicus berangsur-angsur diserap ke dalam dinding vesica urinaria, akibatnya ureter yang tadinya tumbuh sebagai tonjolan ductus mesonephridicus, memasuki vesica urinaria secara terpisah. Kemudian muara ureter bergerak lebih jauh ke cranial, sedangkan muara ductus mesonephridicus bergerak saling mendekati untuk masuk ke urethra pars prostatica (pria). Olehkarena baik ductus mesonephridicus maupun ureter berasal dari mesoderm, maka bagian selaput lendir dari trigonum vesicae Lieutaudi berasal dari mesoderm. Sedangkan bagian lain vesica urinaria berasal dari sinus urogenitalia dari entoderm.
Pada akhir bulan ke3 epithel urethra pars prostatica mengadakan pertumbuhan dan membentuk glandula prostat pada pria dan pada wanita membentuk gld. Urethrallis.
Kelainan bawaan:
1. Congenital cystic kindey
2. Ren pelvicus
3. Horshoe Kidney
4. Agenesis ren
5. Double urter, dan ectopia ureter
6. Fistu kla, cysta, dan sinus urachus.


SYSTEMA GENITALIA
GONADE = Kelenjar kelamin
Gonade mulai nampak pada embryo empat minggu merupakan sepasang penonjolan yang memanjang di sisi kiri kanan linea mediana di sebelah ventral mesonephros. Tonjolan-tonjolan ini disebut genital ridge. Tonjolan ini dibentuk oleh pertumbuhan epithel coeloma dan condensasi mesenchym di sekitarnya. Sel-sel benih primordial (primordial germ cells = PGC) pada mulanya terletak di dinding yolk sac. Dari sini PGC bermigrasi dengan gerakan amuboid sepanjang mesenterium dorsale menuju ke genital ridge. Pada tahap perkembangan dini gonade belum mempunyai ciri-ciri bentuk pria atau wanita. Oleh karena itu pada saat ini disebut kelenjar kelamin indiferen.

TESTIS
Pada tingkat awal perkembanan, epithel coeloma dari genital ridge akan berproliferasi dan membentuk sejumlah tali-tali yang tidak teratur yang disebut Primitive sex cord. Apabila embryo mempunyai sifat genetik pria maka primitive sex cord akan bertumbuh terus dan menembus masuk ke bagian dalam gonade. Primitive sex cord semakin nyata dan berhubungan satu dengan lainnya membentuk testis cord. Ke arah hilus testis, testis cord terpecah-pecah membentuk jala-jala sel yang halus yang kelak membentuk rete testis. Pada perkembangan selanjutnya testis cord terlepas dari epithel permukaan dan dipisahkan oleh jaringan ikat padat disebut tunica albugenia. Selama kehidupan janin, testis cord terdiri dari PGC dan sel-sel epithel. Sel-sel epithel tersebut akan berkembang menjadi sel sertoli. Selanjutnya testis cord mengalami canalisasi membentuk tubulus seminiferous. Setelah tubuli seminiferous mempunyai saluran, segera bersatu dengan saluran-saluran rete testis dan bermuara ke dalam ductus efferens. Ductus efferens ini adalah sisa-sisa tubulus mesonephros yang berfungsi menghubungkan antara rete testis dengan ductus mesonephridicus yang pada pria dikenal sebagai ductus deferens. Sel-sel interstitial Leydig berkembang dari mesenchym yang terletak di antara tubuli seminiferi.

OVARIUM
Pada pria primitive sex cord berkembang dengan jelas, tetapi pada wanita terpotong-potong oleh mesenchym yang menyelinap masuk ke dalamnya, membentuk kelompok sel yang tidak teratur bentuknya. Kelompok sel ini mengandung PGC terutama yang letaknya di bagian medulla ovarium. Epithel permukaan gonade pada wanita tetap tebal dan terus mengadakan pertumbuhan. Pada minggu ketujuh epithel ini menghasilkan sex cord secunder yang disebut cortical cord. Cortical cord ini menembus mesenchym di bawahnya, akan tetapi tetap berdekatan dengan permukaan.
Pada bulan keempat cortical cord akan pecah menjadi kelompok-kelompok sel yang terpisah dan masing-masing mengelilingi sebuah PGC atau lebih. Sel-sel PGC selanjutnya berkembang menjadi oogonia, sedangkan sel-sel epithel di sekitarnya yang berasal dari epithel permukaan membentuk sel-sel follicle. Tubulus mesonephros pada wanita tetap terbentuk seperti pada pria (ductus efferent), tetapi tubuli seminiferi dan rete ovarii tidak terbentuk.

Ductus genitalia
Pada perkembangan minggu ke6, baik embryo pria maupun wanita mempunyai dua pasang ductus genitalia.
1. Ductus mesonephridicus (ductus Wolffi). Ductus ini memanjang dari mesonephros hingga cloaca.
2. Ductus paramesonephridicus (ductus Mulleri). Saluran ini berjalan di samping dan sejajar dengan ductus Wolffi.
Ductus Mulleri merupakan suat invaginasi epithel coeloma pada permukaan antero lateral genital ridge. Di sebelah cranial ductus ini bermuara pada rongga coeloma, sedangkan di sebelah caudal bermuara pada sinus urogenitalia. Pada permukaan dalam sinus urogenitalia ductus Mulleri menyebabkan suatu penonjolan kecil yang disebut tuberculum mulleri. Ductus Woffi bermuara ke dalam sinus urogenitalia di sebelah kiri dan kanan tuberculum Mulleri. Pada pria ductus Wolffi akan berkembang secara sempurna, sedangkan pada wanita ductus ini akan menghilang dan hanya akan meninggalkan beberapa sisa-sisa perkembangan.

Ductus mesonephridicus (Ductus Wolffi)
Pada pria, ductus mesonephridicus akan berkembang penuh. Ketika mesonephros mengalami regresi, tubulus mesonephros yang letaknya di sebelah cranial testis akan menghilang seluruhnya. Yang terletak pada daerah testis akan berkebang membentuk ductus epigenitalis, yang akan berhubungan dengan rete testis dan akhirnya akan membentuk ductus efferens. Saluran saluran yang terletak di sebelah caudal testis disebut ductus paragenitalis. Saluran ini tidak berhubungan dengan rete testis dan kemudian akan terpisah pula dari ductus Wolffi dan akhirnya menghilang, kecuali sisa-sisa yang tertinggal yang dikenal sebagai paradidymis. Dalam perkembangan selanjutnya ductus Wolffi akan membentuk saluran kelamin utama pria. Di Ujung cranial akan berdegenerasi, dan meninggalkan sisa yang disebut appendix epididymis. Di sebelah caudal dari ductus efferens, ductus Wolffi sangat memanjang dan berkelok-kelok membentuk epididymis. Di ujung distal ductus Wolffi dekat muaranya pada sinus urogenitalia terdapat tonjolan yang kelak akan menjadi glandula vesiculosa (vesicula seminalis). Ductus Wolffi yang terletak antara epididymis hingga tonjolan vesicula seminalis akan memperoleh lapisan otot yang tebal dikenal sebagai ductus deferens.
Pada wanita susunan mesonephros tidak berfungsi sama sekali dan beberapa sisa-sisa ductus excretoriusnya akan menjadi Epoophoron. Sisa-sisa ductus Wolffi dikenal sebagai paroophoron.

Ductus paramesonephridicus (ductus Mulleri)
Ductus Mulleri akan berkembang secara sempurna pada wanita. Pada mulanya dapat dikenali tiga bagian:
1. Bagian cranial, letaknya vertical, bermuara ke dalam rongga coeloma.
2. Bagian tengah, letaknya horizontal, menyilang ductus Wolffi
3. Bagian caudal, letaknya vertical bersatu dengan pasangannya dari sisi yang berlawanan.
Bebarengan dengan descensus ovarii, bagian cranial ductus Mulleri berkembang menjadi tuba Fallopii yang muaranya pada coeloma dikenal sebagai Ostium Abdominalis Tubae Fallopii.
Bagian tengah ductus Mulleri berpengaruh terhadap letak dan susunan alat alat di dalam pelvis. Setelah ductus Mulleri kiri dan kanan bersatu pada linea mediana, terbentuklah lipatan-lipatan melintang yang lebar yang meluas dari sisi lateral ductus Mulleri yang bersatu menuju dinding pelvis dan dikenal sebagai ligamentum latum uteri. Ujung caudal dari ke dua ductus Mulleri akan bertemu membentuk corpus uteri. Pada sinus urogenitalia pars pelvina terdapat suatu tonjolan yang disebut bulbus sinovaginalis. Tonjolan ini bertumbuh dengan cepat dan membentuk lempeng padat yang disebut vaginal plate, yang kelak akan berongga dan menjadi Vagina. Perluasan-perluasan vaginal plate menyerupai sayap mengelilingi ujung uterus membentuk fornix vaginae. Rongga vagina tetap terpisah dari sinus urogenitalia oleh jaringan tipis yang disebut Hymen. Hymen ini terdiri dari epithel yang melapisi sinus urogenitalia dan lapisan mesoderm yang tipis.

Organa Genitalia Externa
Pada stadium indiferen, di sebelah cranial membrana cloaca terbentuk suatu tonjolan yang disebut tuberculum genitale. Dengan terbentuknya septum urorectale, plica cloaca terbagi dua menjadi plica urethralis di bagian ventral dan plica analis di bagian dorsal. Setelah itu terdapat pula sepasang tonjolan kelamin pada sisi kiri dan kanan plica urethralis. Pada pria, tonjolan ini berkembang menjadi scrotum, dan pada wanita akan menjadi labia majora. Pada pria, perkembangan organ genitalia ditandai dengan perkembangan tuberculum genitale yang bertambah panjang dengan cepat yang selanjutnya akan menjadi penis. Perkembangan tuberculum genitalia pada wanita tidak begitu menonjol seperti pada pria, tetapi hanya memanjang sedikit membentuk clitoris. Selama pemanjangan ini, penis menarik plica urethralis ke depan sehingga terbentuk alur genitalia (urogenital groove) yang dalam. Selanjutnya plica urethralis menyatu dan membentuk urethra pars cavernosa. Mula-mula urethra ini tidak berjalan sampai pada ujung penis. Bagian urethra yang paling distal terbentuk akibat adanya sel-sel ectoderm pada ujung glans penis yang menembus ke dalam membentuk tali yang pendek yang meluas ke arah urethra. Tali ini kemudian menjadi berongga sehingga terbentuklah muara urthra pada ujung glans penis yang disebut orificium urthrae externa. Pada wanita plica urehtralis tidak menyatu seperti pada pria sehingga tetapi berkembang menjadi labia minora. Urogenital groove tetap terbuka membentuk vestibulum.

Descensus testis.
Menjelang akhir bulan kedua testis dan bagian-bagian sisa mesonephros melekat pada dinding belakang abdomen melalui mesenterium urogenitalia. Ke arah cranial mesenterium ini akan membentang dari polus superior testis dan mesonephros menuju diaphragma. Tetapi dengan menghilangnya mesonephros selaput ini akhirnya menghilang. Ke arah caudal akan menjadi ligamentum genitale caudale. Di daerah inguinal ligamentum ini akan bersambungan dengan gubernaculum testis yaitu suatu pita mesenchym yang merupakan patokan letaknya canalis inguinalis. Gubernaculum testis membentang dari polus caudalis testis hingga ke scrotum.
Sebagai akibat pertumbuhan badan yang cepat yang tidak diikuti dengan pertumbuhan gubernaculum testis, maka testis terletak lebih rendah dari tempat yang semestinya dan berdekatan dengan daerah inguinal. Dengan demikian terjadi penurunan letak testis (descensus testis). Akan tetapi descensus testis di sini bukanlah suatu gerakan menurun yang aktif dari testis, akan tetapi terjadi perubahan letak relatif terhadap dinding badan. Pada perkembangan bulan ketiga, peritoneum rongga coeloma menonjol ke luar mengikuti perjalanan gubernaculum testis melalui canalis ingunalis. Perluasan rongga coeloma ke dalam scrotum dikenal sebagai processus vaginalis.
Setelah kira-kira bulan ketujuh testis yang tadinya terletak pada daerah inguinal akan bergerak turun melalui canalis inguinalis ke dalam scrotum. Keadaan ini disebut descensus testis. Peritoneum yang melapisi processus vaginalis akan menjadi tunica vaginalis testis lamina visceralis, dan bagian peritoneum lainnya akan menjadi lamina parietalis. Processus vaginalis di sebelah cranial testis akan berobliterasi dan saluran yang sempit yang menghubungkan processus vaginalis dengan rongga peritoneum akan menutup pada saat lahir, atau segera sesudah lahir. Gerakan testis yang terakhir ini disertai dengan pemendekan gubernaculum testis. Apakah pemendekan ini yang menyebabkan gerakan turun testis, tidak jelas. Yang pasti bahwa descensus di sini dipengaruhi oleh hormon gonadothropin dan hormon androgen.
Pada wanita descensus ovarium sangat jarang dibanding dengan descensus testis pada pria. Ovarium akhirnya terletak di dalam pelvis minor. Ligamentum genitale cranialis membentuk ligamentum suspensorium ovarii. Sedangkan legamentum genitale caudalis membentuk ligamentum ovarii proprium dan ligamentum teres uteri. Ligamentum teres uteri membentang masuk ke dalam labia majora.

Kelainan bawaan
1. Hyposplasia ovarii
2. dysgenesis gonade sejati
3. pseudo hermaphrodit
4. epispadia
5. ectopia vesica urinaria
6. hypospadia
7. cryptorchysmus
8. hydrocele
9. uterus duplex, uterus bicornis
10. hernia inguinalis congenital
11. uterus bicornis unicolis
12. vagina duplex
13. atresia cervicalis
14. atresia vaginalis
15. atresia hymenalis

ONTOGENI COR
Pada tingkat permulaan diferensiasi, mesoderm akan terbagi menjadi 3 bagian yaitu :
1. mesodrm paraxiale
2. mesoderm intermedia
3. mesoderm laterale
Mesoderm laterale terbagi dua lembaran yaitu: lamina visceralis dan lamina parietalis. Dari lamina visceralis akan terlepas sel-sel yang akan membentuk kelompok-kelompok sel mesenchym yang disebut angiogenetic cell cluster. Sel-sel ini akan menyusun diri sedemikian rupa sehingga menjadi pipa yang disebut endocardial tube. Dengan terjadinya lengkungan-lengkungan dan lipatan-lipatan embryo maka ke dua lamina visceralis kiri dan kanan akan saling mendekati sehingga ke dua endocardfial tube menjadi satu. Lipatan mesoderm yang terletak di sebelah dorsal merupakan penggantung yang disebut mesocardium dorsale. Lapisan yang menyelubungi endocardial tube berangsur-angsur menebal dan akan menjadi lapisan yang disebut lamina myoepicardiaum. Lapisan ini mula-mula terpisah dari endocardial tube oleh zat yang menyerupai agar-agar yang disebut cardiac jelly. Kemudian zat-zat ini dimasuki mesenchym sehingga dinding endocardial tube terdiri dari 3 lapisan yaitu:
1. Endocardium yang membentuk lapisan endothel jantung
2. Myocardium yang memebntuk lapisan otot jantung
3. Epicardium yang merupakan lapisan pembungkus luar jantung.

Perkembangan endocardial tube
Pada mulanya endocardial tube berbentuk lurus di dalam cav. pericardii. Bagian yang terletak di dalam cav. pericardii akan mengalami pelebaran membentuk bulboventricularis yang kelak akan menjadi ventricle sederhana. bagian yang akan menjadi atirum dan sinus venosum masih merupakan pembuluh kembar dan terletak di luar cav. pericardii. Pada perkembangan selanjutnya , bagian bulboventricularis tumbuh dengan pesat sedangkan ke dua ujungnya terfixir pada jaringan sekitarnya di luar cav. pericardii, sehingga terbentuk suatu lengkungan dimana bagian cranial membengkok ke arah ventral dan caudal serta agak ke kanan. Endocardial tube yang tadinya merupakan pipa yang lurus akan menjadi pipa yang berkelok yang disebut cardiac loop. Akibat pembengkokan dan perputaran ini maka pertemuan antara bagian atrium dan bagian ventricle disebut atrioventriculare junction akan terletak di sisi kiri, sedangkan sisi kanannya ditempati oleh bulbus ventricularis. Di bagian luar nampak alur yang disebut sulcus bulboventricularis dan di bagian dalam terbentuk plica bulboventricularis.
Cardiac loop dapat dibagi menjadi: Bagian yang ascendern disebut bulbus cordis dan bagian descendern disebut ventricle sederhana. Sewaktu cardiac loop terbentuk, terjadi perubahan-perubahan penting dan nampak pelebaran-pelebaran lokal di sepanjang endocardial tube. bagian atrial yang tadinya berbentuk kembar di luar cav. pericardii akan menjadi satu membentuk atrium tunggal ( disebut atrium comunis). Sewaktu penyatuan berlangsung, atrium masuk ke dalam cav. pericardii dan bergeser ke arah dorso cranial. Dengan demikian atrioventricular junction terletak lebih ke cranial. Persambungan ini tetap sempit dan membentuk canalis atrio ventricularis yang menghubungkan antara sisi kiri atrium tunggal dan ventricle sederhanan. Persambungan antara ventricle dan bulbus cordis yang di sebelah luar ditandai oleh sulcus bulboventricularis juga tetap sempit membentuk foramen interventriculare primer.
Bulbus cordis bagian cranial juga menyempit kecuali 1/3 bagian proximal. Bagian ini akan membentuk ventricle dextra. Ventricle sederhana akan membentuk ventricle sinistra. Bagian tengah bulbus dikenal sebagai conus cordis akan membentuk saluran keluar dari ke dua ventricle. Bagian distal bulbus disebut truncus arteriosus akan membentuk pangkal aorta dan a. pulmonalis. Pada akhir pembentukan cardiac loop sekalipun jantung masih terdiri dari satu saluran tunggal yang berkelok, permukaan luarnya sudah memberikan bayangan akan terbentuknya susunan berongga 4 dikemudian hari. Bagian truncus dan conus pada mulanya terletak di sisi kanan cav. pericardii. Bagian ini secara beramgsur-angsur bergeser ke arah medial diakibatkan oleh pembentukan dua buah pelebaran atrium yang melintang yang menonjol di sisi kiri dan kanan bulbus cordis. Akhirnya truncus arteriosus kini terletak di dalam lekukan antara ke dua atrium, sedangkan conus cordis terletak miring diantara atap ventricle kiri dan dinding anteromedial atrium.

Pembentukan sekat di dalam atrium dan canalis atrioventriculare
Pembentukan atrium di ke dua sisi truncus arteriosus menimbulkan suatu lekuk pada atap atrium. Lekuk ini makin lama makin dalam sehingga di sebelah dalam rongga atrium nampak merupakan tonjolan yang berbentuk bulan sabit yang disebut septum primum. Penonjolan ini terbentuk akibat penyatuan ke dua dinding atrium. Septum primum akan mekuas ke arah caudal menuju endocardial cushion di dalam canalis atrioventricularis. Di antara septum primum dan endocardial cushion terbentuk lubang yang disebut ostium primum. Dalam perkembangan selanjutnya perluasan-perluasan dari endocardial cushion yang berproliferasi secara aktif tumbuh meliwati ujung septum primum, dan lambat laun menutupi ostium primum. Akan tetapi sebelum penutupan ostium primum secara sempurna, timbullah lubang pada septum primum yang kemudian menjadi satu membentuk ostium secundum, sehingga tetap terdapat hubungan bebas antara atrium sederhana kiri dan kanan. Selanjutnya lipatan ke dalam dari atap atrium membentuk tonjolan baru yang disebut septum secundum. Septum ini tidak pernah membentuk pemisah lengkap di dalam rongga atirum, tetapi mempunyai pinggir bebas yang cekung. pinggir cekungan bebas ini menutupi sebagian ostium secundum dan hubungan antara ke dua rongga atrium menjadi sebuah lubang yang miring berbentuk oval dan disebut formen ovale.
Setelah lahir jika peredaran darah melalui paru-paru mulai bekerja dan tekanan di dalam atrium sinistra meningkat, pinggir atas septum primum tertekan pada septum secundum, sehingga foramen ovale tertutup dan memisahkan atrium sinistra dan dextra. Sementara atrium dextra meluas, atrium sinistra juga meluas. Suatu vena pulmonalis primitivum tunggal berkembang sebagai tonjolan keluar dinding belakang atrium sinistra tepat di sebelah kiri septum primum. Selanjutnya v. pulmonalis primitivum masuk ke dalam atrium sinistra dan membentuk dinding atrium.
Bergandengan dengan perluasan dan pembentukan septum pada atrium nampaklah dua bantalan mesenchym pada tepi atas dan tepi bawah canalis atrioventricularis yang disebut atrioventricular endocardial cushion superior dan inferior. Selain endocardial cushion superior dan inferior terbentuk pula bantalan lain yang disebut endocardial cushion laterale. Lambat laun semua bantalan ini bersatu membentuk orificium atrioventricularis dextra dan sinistra. Tepi bebas septum atrium bersatu dengan endocardial cushion yang telah bersatu dan dengan demikian menutup foramen primum.

PEMBENTUKAN SEKAT DI DALAM VENTRICLE.
Pada embryo 5 mm hubungan antara ventricle primitivum sinistra dan dextra melalui foramen interventricularis. Menjelang minggu ke 4 ke dua ventricle primitiva mulai melebar. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan terus menerus dari otot-otot myocarium di sebelah luar dan pembentukan balok-balok mesenchym di sebelah dalam. Dinding medial ventricle kanan dan kiri saling berhimpit dan berangsur-angsur bersatu sambil membentuk septum interventriculare pars muscularis.

PEMBENTUKAN SEKAT DI DALAM TRUNCUS ARTERIOSUS DAN CONUS CORDIS
Mula-mula terdapat sepasang tonjolan yang berhadapan di bagian atas truncus yang disebut truncus ridge. Yang satu letaknya di sebelah kanan atas dan yang lainnya di sebelah kiri bawah. Tonjolan-tonjolan (rigi) ini membesar dengan cepat dan dalam perkembangannya truncus ridge yang sebelah kanan atas tumbuh ke distal dan belok ke kanan. Oleh karena itu dalam pertumbuhannya tonjolan-tonjolan ini berputar satu terhadap yang lainnya. Sementara pembentukan tonjolan truncus ridge , terbentuk pula tonjolan-tonjolan pada dinding dorsal kanan dan yang satu lagi pada dinding ventral kiri pada conus cordis. setelah septum truncus sudah terbentuk, tonjolan conus tumbuh saling mendekati dan ke arah distal menuju ke septum truncus. Tonjolan conus dorsal kanan bersatu dengan truncus ridge kanan atas, dan tonjolan conus ventral kiri bersatu dengan truncus kiri bawah. Setelah penyatuan tonjolan –tonjolan ini lengkap, terbentuklah suatu sekat yang disebut septum aorticopulmonalis (septum truncus yang berbentuk spiral) yang membagi truncus menjadi canalis aorta dan canalis a. pulmonalis. Ujung proximal tonjolan conus dorsalis kanan berakhir pada pinggir atas orificium atrioventricularis kanan. Tonjolan conus kiri ventral meluas ke proximal sepanjang sisi kanan septum interventricularis. Setelah ke dua tonjolan conus bersatu terbentuklah sekat yang membagi conus menjadi dua bagian
1. Bagian anterolateral yang bersama-sama ventricle kanan sederhana
membentuk ventricle dextra definitivum
2. Bagian posteromedial bersatu dengan ventricle kiri sederhana
membentuk ventricle sinistra definitivum.
Foramen interventriculare yang terdapat di atas septum interventriculare pars muscularis akan menutup. Setelah foramen menutup daerah ini menjadi tebal dan dikemudian hari sebagian dari padanya akan menjadi tipis dan berserabut membentuk septum intrventriculare pars membranacra.

KATUP-KATUP ATRIOVENTRICULARE
Setelah orificium atrioventriculare terbagi dalam orificium kanan dan kiri yang disebabkan oleh karena bersatunya endocardial cushion, setiap orificium dikelilingi pertumbuhan jaringan mesenchym setempat. kemudian jaringan mesenchym ini mengambil bentuk cekung dan terbentuk katup-katup yang hanya melekat pada dinding ventricle melalui tali-tali otot. kemudian tali-tali otot berdegenerasi dan diganti jaringan padat membentuk chorda tendinae, yang ditutupi oleh endocardium dan berhubungan dengan batang-batang otot tebal pada dinding ventricle yaitu musculus papillaris. Selanjutnya terbentuklah dua lembar daun katup pada orificium atrioventricularis kiri yaitu valvula bicuspidalis (valvula Mitralis). Pada orificium atrioventricularis kanan terbentuklah tiga lembar katup yang disebut valvula tricuspidalis.

KATUP-KATUP SEMILUNARIS
Ketika pembagian truncus hampir selesai terdapat tonjolan kecil yang bakal menjadi katup semilunaris. Tonjolan ini terdapat baik pada canalis aorta maupun pada a. pulmonalis. Pada setiap canalis timbul tiga tonjolan yang berangsur-angsur menjadi tonjolan yang cekung dan kemudian membentuk valvula semilunaris.

PERKEMBANGAN RONGGA COELOMA
Pada perkembangan mesoderm, mesoderm laterlais terbagi atas dua lembaran yaitu: lamina parietalis dan lamina visceralis. Ke dua lembaran ini membentuk suatu ruangan yang disebut rongga coeloma intra embryonal. Lamina visceralis akan berkembang menjadi mesoderm dinding saccus vitellinus. Sedangkan lamina parietalis melanjutkan diri menjadi mesoderm extra embryonal yang melapisi dinding cav. amnion.
Pada mulanya cav. coeloma intra embryonal di sebelah kanan dan kiri mempunyai hubungan yang luas dengan coeloma extra embryonal, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya setelah embryo mengalami lekukan dan lipatan, hubungan tersebut terputus, dan rongga coeloma kemudian membentuk rongga intra embryonal yang besar yang terbentang dari daerah thorax hingga pelvis.
Sel-sel mesoderm parietal (somatik) yang membatasi cav. coeloma menjadi mesothel dan kelak akan membentuk selaput-selaput serosa yang membatasi bagian luar cav. peritonealis, cav. pleura, cav. pericardii. Dengan cara yang sama sel-sel mesoderm visceral akan membentuk mesothel yang melapisi alat-alat dalam dari gaster, pulmo dan cor. Hubungan antara bagian thorax dan abdomen untuk sementara dihubungan oleh canalis pericardioperitoneale yang terletak di samping usus sederhana (foregut). Selama perkembangan selanjutnya sekat pemisah antara rongga thorax dan rongga abdomen dibentuk oleh diaphragma, dan antara cav. pleura dan cav. pericardii dibatasi oleh membrana pleuropericardiale.

DIAPHRAGMA
Komponen diaphragma yang paling utama dibentuk oleh septum transversum. Septum transversum adalah suatu lempeng yang tebal (jaringan mesoderm) yang terletak antara cav. pericardii dan tangkai yolk sac. Pada masa embryo septum ini belum memisahkan sepenuhnya antara rongga thorax dan rongga abdomen, tetapi tetap terdapat saluran-saluran penghubung yang terletak di samping kanan dan kiri foregut. Saluran ini dikenal sebagai canalis pericardio peritoneale. Segera setelah terbentuk canalis ini, tunas paru-paru meluas ke dalam canalis ini . Sebagai akibat pertumbuhan tunas-tunas paruparu yang cepat, canalis pericardio peritoneale segera menjadi sempit dan mulailah mengadakan perluasan ke dalam mesenchym dinding tubuh ke arah dorsal, lateral dan ventral.
Perluasan ke arah dorsal menyebabkan pembentukan mesenterium oesophagea yang pendek. Perluasan ke arah ventral dan lateral terjadi pada suatu bidang yang terletak di sebelah lateral dari plica pleuropericardiale. Canalis pericardioperitoneale berangsur-angsur berisikan sebagian besar pulmo. Saat ini disebut cav. pleura primitivum. Ke arah caudal perluasan canalis pericardioperitonelae dibatasi oleh lipatan berbentuk bulan sabit yang disebut plica pleuro peritonelae. Pada perkembangan selanjutnya lipatan ini meluas ke arah tengah dan depan dan bersatu dengan mesenterium oesophagea, dan dengan septum transversum. Oleh karena itu hubungan antara bagian thorax dan bagian abdomen rongga coeloma ditutup oleh membrana pleuroperitoale. Dengan perluasan cav. pleura ke dalam mesenchym dinding tubuh, myoblast-myoblast yang berasal dari dinding tubuh menembus membrana pleuroperitoneale untuk membentuk bagian otot diaphragma. Komponen otot ini dipersarafi oleh n. intercostalis. Akhirnya diaphragma untuk orang dewasa berasa; dari:
1. Septum transversum yang membentuk centrum tendineum
2. Membrana pleuroperitonele
3. Komponen otot dati dinding tubuh lateral dan dorsal
4. Mesenterium oesophagea yang akan berkembang menjadi crus diaphragmatica.

MEMBRANA PLEURO PERICARDIALE
Cav. coeloma pada daerah thorax dibagi menjadi cav. pericardii dan cav. pleura oleh membrana pleuro peritoneale. Mula-mula membrana ini timbul sebagai tonjolan kecil menonjol ke arah cav. thoracis primitivum. Dengan meluasnya cav. pleura primitivum mesoderm dinding tubuh dibelah menjadi dua komponen yaitu:
1. Dinding thorax yang tetap
2. Selaput mesoderm tipis yang disebut plica pleuro pericardiale.
Selanjutnya sebagai akibat turunnya jantung dan perubahan-perubahan letak sinus venosus, plica pleuro pericardiale memanjang menyerupai mesenterium disebut membrana pleuro pericardiale. Akhirnya ke dua plika kanan dan kiri ini bertemu. Dengan demikian cav. thoracis terbagi menjadi cav. pericardii dan cav. pleura. Pada orang dewasa membrana pleuro pericardiale membentuk pericardium fibrosum.

Paru-paru (PULMO)
Mula-mula primordium systema respiratorius terbentuk sebagai tonjolan pada dinding ventral foregut yang disebut Diverticulum tracheo bronchialis. Oleh karena itu systema respiratorius berasal dari entoderm. Pada mulanya diverticulum ini berhubungan dengan foregut, tetapi segera terpisah dengan tumbuhnya septum oesophagotrachealis kecuali pada daerah larynx tetap ada hubungan melalui aditus laryngeus. Dengan demikian foregut terbagi dua: Bagian ventral primordium respiratorius dan bagian dorsal adalah oesophagus.

Trachea, Bronchus
Selama pemisahannya dari foregut, primordium respiratorius mulai tumbuh ke arah caudal, sambil membentuk trachea dan dua kantong pada ujungnya yang disebut tunas paru-paru (lung buds). Tunas paru-paru dextra selanjutnya bercabang menjadi tiga bronchus primer, sedangkan tunas paruparu kiri bercabang menjadi dua bronchus primer. Segera setelah pembentukannya tunas paru-paru terdiri dari bronchus-bronchus entodermal yang dikelilingi oleh mesoderm lamina visceralis. Tunas-tunas ini tumbuh ke arah caudolateral sambil menembus ke dalam rongga coeloma yang dikenal sebagai canalis pericardioperitoneale. Pada perkembangan selanjutnya tunas paru-paru semakin meluas memenuhi canalis pericardioperitoenale yang kini disebut Cav. Pleura sederhana. Mesoderm lamina visceralis berkembang menjadi pleura visceralis berkembang menjadi pleura visceralis yang melekat erat dengan permukaan luar paru-paru. Mesoderm lamina parietalis yang meliputi dinding tubuh sebelah dalam menjadi pleura parietalis. Dalam perkembangan selanjutnya bronchus primer membelah terus menerus dan menjelang akhir bulan ke 6 terbentuk kira-kira 17 generasi anak cabang. Akan tetapi sebelum susunan percabangan bronchus mencapai bentuk akhirnya, terbentuk 6 anak cabang tambahan. Cabag ini baru nampak setelah lahir. Mesoderm di sekitar cabang-cabang bronchus berdiferensiasi menjadi cartilago, jaringan otot dan pembuluh darah.

Alveoli
Pada perkembangan minggu ke 7 ujung distal bronchus terminalis meluas ke dalam alveoli yang dilapisi oleh sel-sel epithel gepeng yang berasal dari entoderm. Pada mulanya disangka bahwa sel-sel epithel alveoli menghilang sehingga membiarkan dinding endothel capiler berhubungan langsung dengan udara di dalam alveoli. Tetapi sekarang disepakati bahwa sel-sel epithel alveoli tetap ada dan berhubungan erat dengan endothel dinding capiler di sekitarnya. Di antara alveoli terdapat sel-sel yang diduga menghasilkan zat yang dapat menurunkan tegangan permukaan pada perbatasan alveoli – udara. Zat ini disebut surfactant. Kekurangan surfactant diduga merupakan sebab dari penyakit hyalin membrane disease pada bayi prematur. Seluruh alveoli akan berkembang menjelang hari ke tiga setelah lahir.

Circulasi Foetalis
Sebelum lahir, darah yang kaya oxygen dari placenta dialirkan ke foetus melalui v. umbilicalis. Pada saat mendekati hepar, sebagian besar darah ini mengalir melalui ductus venosus (Arrantii) masuk ke dalam v. Cava inferior, dan sebagian kecil masuk ke dalam sinusoid-sinusoid hepar dan bercampur dengan darah yang datang dari intestinum melalui v. porta. Darah dari v. cava inferior masuk ke Atrium dextra . Dari atrium dextra sebagian besar akan masuk ke dalam Atrium Sinistra melalui for. Ovale dan sebagian kecil saja yang masuk ke dalam ventricle dextra. Dari Atrium Sinistra, darah yang telah bercampur dengan darah dari v. pulmonalis akan masuk ke dalam ventricle sinistra. Dari ventricle Sinistra akan dipompakan masuk ke dalam Aorta, seterusnya ke Arcus Aorta, menuju ke seluruh tubuh janin.
Darah dari tubuh janin yang kaya dengan CO2 melalui V. Cava Superior dan V. Cava Inferior mengalir masuk ke dalam Atrium Dextra , seterusnya sebagian akan masuk ke dalam ventricle dextra, kemudian masuk ke dalam a. pulmonalis. Oleh karena tahanan di dalam pembuluh darah pulmo sangat tinggi, sebagian besar darah dari a. pulmonalis ini melintas langsung masuk ke dalam aorta descendens melalui ductus arteriosus (Botalli) dan bercampur dengan darah dari bagian proximal Aorta. Dari sini darah mengalir ke Placenta melalui a. umbilicalis.
Selama perjalanan dari placenta ke alat-alat dalam janin kadar oxygen yang tinggi di dalam v. umbilicalis berangsur-angsur menurun karena bercampur dengan CO2 pada beberapa tempat yaitu:
1. di dalam Hepar bercampur dengan darah dari v. porta.
2. Pada v. cava inferior yang mangangkut darah dengan CO2 yang tinggi dari Ren, Pelvis dan anggota tubuh bagian inferior.
3. di dalam atrium sinistra bercampur dengan darah dari v. pulmonalis.
4. pada muara ductus arteriosus ke dalam aorta descendens.

Perubahan-perubahan waktu bayi lahir
Pada waktu bayi lahir terjadi perubahan-perubahan tiba-tiba pada systema circulasi bayi disebabkan oleh karena:
1. terputusnya aliran darah dari placenta.
2. dimulainya pernapasan melalui pulmo.
Akibatnya:
1. Terjadi penutupan a. umbilicalis. Bagian distal akan menjadi ligamentum umbilicale laterale dextra dan sinistra, sedangkan bagian proximal akan menjadi a. vesicaalis superior.
2. Terjadi penutupan v. umbilicalis, membentuk Lig. Teres Hepatis.
3. Terjadi penutupan ductus venosus membentuk Lig. Venosum Arrantii.
4. Terjadi penutupan foramen ovale. Ini disebabkan karena meningkatnya tekanan di dalam atrium sinistra yang disertai penurunan tekanan di dalam atirum dextra. Bersamaan dengan tarikan napas dalam yang pertama, septum primum ditekan sehingga melekat pada septum secundum. Akan tetapi selama hari-hari pertama kelahiran, penutupan ini belum menetap. Penutupan ini akan berlangsung secara berangsur-angsur sampai waktu kira-kira satu tahun. Akan tetapi kira-kira 20-25% ditemukan tidak terjadi penutupan sempurna.
5. Terjadi penutupan ductus arteriosus yang akan menjadi ligamentum arteriosum Botalli.

KELAINAN-KELAINAN CONGENITAL
1. Kelainan pada septum atrium:
a. foramen primum tidak menutup
b. common atrium
c. penutupan foramen ovale premature.
2. Kelainan canalis atrioventricularis : atresia tricuspidalis
3. Kelainan pada septum ventricle:
a. ventricle septal defect
b. common ventricle
4. Kelainan pada truncus dan conus: - Tetralogy of Fallot: terdiri dari:
stenosis pulmonalis
VSD
Overriding aortae
Hypertrophy ventricle dextra
- Transposisi pembuluh-pembuluh besar
5. Kelainan pada valvula semilunaris:
- Atresia valvula pulmonalis
- Stenosis valvula aorta
6. Kelainan letak jantung : - Dextro cardia
- Ectopia cordis

7. Hernia diaphragmatica
8. Hernia parasternalis Morgagni
9. Atresia oesophagus, Fistula oesophago trachealis
10. Trachea berujung buntu
11. Tidak terbentuk paru-paru
12. Kelainan percabangan tracheobronchiale.
13. Kista-kista paru congenitalis

embryology 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar