Jumat, 29 Mei 2009

Jusuf Kalla – Wiranto Saturday, 30 May 2009

dikutip dari SINDO

SEBAGAI wakil presiden (wapres) Jusuf Kalla kerap kali de facto berperan presiden (seperti implisit diharapkan para tokoh, termasuk Lee Kwan Yew).

Pada Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009 Partai Golkar menampilkan Jusuf Kalla sebagai capres untuk masa jabatan kepresidenan 2009–2014. Meski terkesan Kalla sendiri tidak terlalu berambisi menjadi presiden, namun akhirnya pengusaha sukses Sulawesi Selatan ini mematuhi kehendak partainya untuk tampil sebagai capres.

Dengan sendirinya kemungkinan melanjutkan jabatan wapres mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung gugur. Maka tiba giliran Jusuf Kalla terpaksa memilah dan memilih siapa yang layak dan bersedia menjadi pasangan dirinya sebagai cawapres. Setelah melirik ke kanan dan ke kiri, akhirnya pilihan Jusuf Kalla jatuh pada Wiranto . Di dalam khazanah politik kepemimpinan Nusantara, sosok Wiranto legendaris. Sejak Presiden Soeharto lengser,Wiranto sudah tampil sebagai tokoh yang dianggap memenuhi syarat untuk menjadi presiden RI.

Bahkan berbagai tokoh politik, termasuk lagilagi Lee Kwan Yew, secara implisit mengharapkan Wiranto melakukan coup d’etat, merebut tampuk kepemimpinan negara di masa kemelut transisi Orde Baru ke Orde Reformasi sedang anarkistis! Pada masa ontran-ontranitu hanya Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang dianggap mampu menguasai dan mengendalikan situasi-kondisi negara.

Tetapi dengan alasan mencegah pertumpahan darah akibat hadirnya dua kubu di ABRI pada masa pasca-Orba itu,Wiranto tidak mau merebut kekuasaan melalui jalur inkonstitusional, apalagi kekerasan. Maka melengganglah BJ Habibie menjadi presiden, menggantikan Soeharto yang kemudian digantikan melalui pemilu oleh Gus Dur sebelum dilengserkan DPR yang menobatkan Megawati Soekarnoputri.

Pada Pemilu 2004 Wiranto tampil sebagai capres, tetapi kandas menghadapi Susilo Bambang Yudhoyono. Wiranto tidak putus asa, maka kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk masa jabatan 2009–2014 dengan didukung parpol yang dia dirikan: Partai Hanura. Setelah pemilihan umum legislatif, tampak gejala kurang kondusif bagi Wiranto untuk meneruskan perjuangannya sebagai capres, sebagai politikus yang realistis, Wiranto bersedia menurunkan ambisinya untuk menjadi cawapres memenuhi pinangan Jusuf Kalla, yang berkendaraan Partai Golkar.

Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto tidak bisa dianggap remeh karena merupakan perpaduan dua tokoh yang memiliki kekuatan, meskipun tentu juga kelemahan tersendiri. Jusuf Kalla populer di Indonesia Timur, diyakini potensial menjaring banyak suara di kawasan timur Nusantara,sementara Wiranto di Pulau Jawa juga potensial memperoleh cukup banyak dukungan para anggota ”Wiranto Fans Club”.

Pengalaman dan prestasi nyata Jusuf Kalla sebagai wapres merupakan daya tarik tersendiri bagi para pemilih, sementara track record kepemimpinan Wiranto di karier militer juga memesona mereka yang gemar gaya kedisiplinan militer. Di masa Wiranto sebagai wapres, dapat diharapkan suasana keamanan relatif langgeng seperti di masa SBY sebagai presiden berkat keduanya memang sama-sama jenderal purnawirawan. Tetapi sayang, selera politik rakyat memang tidak semuanya sama dan sebangun seperti seragam militer.

Bisa saja malah menganggap Jusuf Kalla sebaiknya tetap wapres seumur hidup saja seperti di masa mendampingi SBY. Itu terutama selera masyarakat Jawa yang bukan minoritas lazimnya malah lebih cenderung memilih orang sepulau,bukan dari luar pulau. Kemerosotan perolehan suara Partai Golkar di Pemilu 2009 bisa menjadi momen buruk bagi sang ketua umum yang diusung ke tahta kepresidenan. Mereka yang semula fanatik Golkar secara psikologis bisa saja terpengaruh realita perolehan suara di pemilihan caleg. Sedangkan kegagalan Wiranto sebagai capres juga potensial memicu keraguan para pemilih.

Namun ibarat bola bundar di kompetisi sepak bola, sulit diprediksi secara terjamin tepat dan benar. Kompetisi para capres-cawapres juga sulit diprediksi secara terjamin tetap dan benar. Apa pun upaya manusia, tetap saja keberhasilan atau kegagalan sepenuhnya tergantung pada kehendak Yang Mahakuasa.(*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar