”Rumah ini lebih kepada pelangi dari pada sebuah foto hitam putih, ada banyak warna di sini. Dan akan ada banyak yang takkan kita senangi, namun yakinlah, bahwa pasti ada warna yang kan kita cintai” ( Pesan sambutan seorang warga asrama pada Sebuah acara sakral Ketuk Pintu Asrama Medica)
Pagi-pagi sebelum ke Rumah Sakit, cukup menyiduk (tanpa permisi) kopi Toraja di kamar kak Joko, menambang gula di kamar mas Oji (dr Ahmad Fauzi) juga tanpa permisi, biasanya bang Gani telah siap dengan sekantong kue yang di beli selepas shalat subuh di kamarnya, langsung di eksekusi pula, lengkap sudah dengan hanya berbekal gelas dan air panas, sempurnalah pengantar pagi yang nikmat. Ditemani sebuah harian pagi di ruang tamu menikmati awal pagi, duduk bersama-sama lalu sesekali memandang keluar pintu menanti sesuatu, seperti khawatir kalau saja sang pemilik mata yang indah tak lewat pagi itu...he.he Begitulah ritual pagi yang berulang-ulang tapi selalu saja indah.
Terkesan membaca catatan Mengenang Medica...(dr Joko Hendarto) yang di posting beberapa waktu yang lalu, membacanya seolah tertarik kembali surut beberapa saat ke belakang. Saat itu, ketika masih berkumpul di rumah bersahaja Medica, rumah yang rela menampung aneka ragam keunikan ”anak-anaknya”. Keragaman karakter yang menjadi kekayaan inspirasi, setiap hari selalu ada saja hal-hal yang layak didiskusikan, diperdebatkan, diperselisihkan, diceritakan bahkan ditertawakan. Dari hal yang sepele perihal bau badan yang mencederai hak dasar saraf pembau menikmati udara segar, perseteruan klasik perebutan supremasi kejayaan kamar atas versus kamar bawah, sampai hal-hal aneh dan rasis yang agak rawan, di tema ini dr Rizal (asal Enrekang) sering menjadi otak intelektual perdebatan, dengan provokasi tanpa landasan ilmiah dan meludahi sejarah, konon katanya kekuasaan kerajaan Enrekang telah mengangkangi teritorial kerajaan Luwu bahkan menginvasi jauh menyeberangi Selat Bone menjajah tanah Buton, yang kontan di tolak mentah-mentah dr Leo Tahrium (asal Palopo) apalagi dr Laode Awal ( putra Buton) protes dengan murka, jelas tidak terima. Sampai pada hal-hal yang serius, diskusi dan perdebatan khas aktivis pergerakan tentang ideliasme, perlawanan dan peradaban juga tentang Tuhan dan candu.
Begitulah kemajemukan di rumah itu menjadi khasanah warna yang terangkai saling berangkulan dalam sinergi yang kontras namun harmonis, perbedaan takluk dalam kedewasaan saling menghormati. Saya begitu bersyukur ditakdirkan telah menjadi bagian dari jalinan warna itu, walaupun terang saya tak mencolok, justru sayalah yang banyak menyerap kekayaan warna itu. Saya kagum dengan beberapa kawan-kawan yang meneladankan karakter luar biasa; kanda dr Joko yang waktu menjadi junior asrama, selalu berusaha setia pada amanah, pagi-pagi telah selesai menyapu lantai koridor setelah sebelumnya memasak air dan membersihkan piring di ruang makan, semua dilaksanakan tanpa beban, sementara di saat yang sama waktu itu adalah ia adalah sosok yang ditokohkan di kalangan mahasiswa dan salah satu pentolan aktivis kampus, ini tentang jiwa besar. dr Suparman yang rajin mengecek jumlah SKS yang tersisa dan hasil ujian bagian, ini tentang perhatian seorang saudara. Dr Akmal yang rajin tak bosan-bosan mengingatkan kaderisasi dan pentingnya menjaga nilai-nilai baik asrama, ini tentang kepemimpinan. Dr Yakub yang tak pernah ketinggalan dan mengajak shalat berjamaah, ini tentang istiqomah. Dr Gani yang selalu rela berbagi bantal dan lauk, ini tentang persaudaraan. Dr Ambo Tuwo Nurdin yang menghabiskan begitu banyak waktu duduk di depan tumpukan textbook, ini tentang berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Serta masih ada yang lain.
Dan akhirnya melalui tulisan ini juga saya ingin menghaturkan banyak terimaksih kapada kawan-kawan senior dan junior yang secara langsung ataupun tidak, sadar ataupun tidak telah turut mencerahkan warna saya; Terkhusus kepada dr Ambo Tuwo Nurdin dan dr Safiuddin senior kamar saya. Dr ikhsan Nasir, dr Ahmad Ihsan, Kanda Priyo, dr A Fajar Wela, dr Tantowi Jauhari, dr Ade Anugrah, dr Ilham Arif, dr Hendra, dr idrus, dr Tomy Murtamin, dr Hayun, dr Irfan, dr Yusri DJ, dr Lukman ’igor’, dr Fadli Said, dr Junaidi Malik, dr. Ismail, adinda Herud, Affan, Kone, Asrul, Ucup, dan Yazid, serta kawan-kawan yang lain. Mohon maaf juga atas kebelum beresan saya menjadi seorang saudara yang baik. Rindu rasanya pada teriakan khas itu...Kumpuuul!!!
Salam untuk kawan-kawan semua. -nuas-
Timika Papua, 19:19 WIT 12 April 2009
Asrama Medica merupakan sebuah keluarga dengan ciri khas "kumpul" adalah anak Fakultas Kedokteran UNHAS yang asalanya dari luar Makassar, dengan semangat kekeluargaan yang terbina mendedikasikan diri sebagai pengabdi pandu ilmu sejati, semoga kelak menjadi dokter yang bermartabat, berguna bagi seluruh lapisan masyarakat, dan tentunya bagi agama Allah
Tampilkan postingan dengan label Warna Medica. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warna Medica. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Agustus 2009
Catatan Asrama; Sebuah kenangan lagi Bagikan
dr.Anwas Nurdin
Tanpa sengaja saya menemukan sebuah catatan kecil waktu itu, ketika masih menghabiskan hari-hari manis di Asrama Medica. Catatan yang tak penting memang, sekedar untuk mengenang kembali sebuah alasan mengapa segala rupa tingkah laku di sana terasa madu...manis nian...he.he
Rumah Susun I
Kita bertemu didepan gapura
lalu kutawarkan setangkai senyum
tapi kau tepis dalam beku
adakah bungaku tak tampak mawar?
Tamalanrea, April 2006
Rumah Susun II
Kali pertama aku melihatnya
Lewat di depan jendela
Jalan tergesa dan tunduk pandangnya
Kali kedua aku melihatnya
Di sebuah malam
Jalan tergesa, mungkin pulang dari pengajian
Kali ketiga aku melihatnya
Ketika jalan beriringan
Namun tak kudapatkan langkahnya
Berkali aku melihatnya
Bahkan nama pun aku tak mengenalnya
Dia, seorang perempuan berjilbab dengan langkah selalu tergesa.
Tamalanrea, April 2006
Tanpa sengaja saya menemukan sebuah catatan kecil waktu itu, ketika masih menghabiskan hari-hari manis di Asrama Medica. Catatan yang tak penting memang, sekedar untuk mengenang kembali sebuah alasan mengapa segala rupa tingkah laku di sana terasa madu...manis nian...he.he
Rumah Susun I
Kita bertemu didepan gapura
lalu kutawarkan setangkai senyum
tapi kau tepis dalam beku
adakah bungaku tak tampak mawar?
Tamalanrea, April 2006
Rumah Susun II
Kali pertama aku melihatnya
Lewat di depan jendela
Jalan tergesa dan tunduk pandangnya
Kali kedua aku melihatnya
Di sebuah malam
Jalan tergesa, mungkin pulang dari pengajian
Kali ketiga aku melihatnya
Ketika jalan beriringan
Namun tak kudapatkan langkahnya
Berkali aku melihatnya
Bahkan nama pun aku tak mengenalnya
Dia, seorang perempuan berjilbab dengan langkah selalu tergesa.
Tamalanrea, April 2006
Jalan Sunyi
dr. Anwas Nurdin
07 Juli 2009 jam 23:05
"Dapat kugambarkan profil mujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya -seluruh sudut hati dan jiwanya- didominasi pikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran selalu, perhatian yang besar dan persiapan yang senantiasa" ( Imam Al Banna)
Menepi dari jalan ramai dan memilih kesunyian, menapaki pendakian yang senyap, tikungannya sepi, sesekali hanya terdengar gemerisik dedaunan saling bergesek mempertegas keheningan. Ada begitu banyak duri disana, lorong-lorongnya gelap, berkelok panjang bahkan tak berani menerka ujungnya di mana. Siapkah engkau..?
Dibutuhkan keberanian, harus melimpah keteguhan dan nafas panjang kesabaran bila engkau ingin menapakinya. Namun hidup adalah pilihan, aku dan engkau pun harus memilih jalan.
Jalan Para Pahlawan
Jalan sunyi, tak banyak yang ingin ke sana karena ini adalah jalan kesungguhan, jalan yang disuguhi tantangan dan beratnya ujian, inilah jalan para pahlawan, mereka yang memilih untuk berjuang. Dan demikianlah tabiatnya, jalan kepahlawanan sungguh berat, ada banyak godaan bersamanya. Di sini harta, perasaan bahkan darah bukan hal yang mahal untuk dikorbankan.
Jalan sunyi, tak banyak yang ingin ke sana, itulah sebabnya ia sunyi. Tak ada lagu dan pujian di sini, itulah mengapa ia sepi. Juga tak ada gurau dan gincu di sini, itulah alasan ia hening. Demikianlah wataknya, manusia cenderung menjauhi kesulitan.
Siapakah pemilik jalan itu
Maka akan kau temukan di jalan itu orang-orang dengan atribut kemulian. " Pergi pulangnya, tutur bahasanya, sungguh-guraunya, tak melampaui garis batas medan juang yang ia siapkan dirinya untuk itu.... Nampak jelas pada kerut-raut wajanya, dalam kilat matanya dan terdengar pada luncuran tutur lisannya, segala indikasi kesungguhan yang lekat dan duka yang dalam, berkobar dalam hatinya serta azzam yang sungguh, semangat yang tinggi serta semangat yang jauh kedepan, sebagai luapan jiwanya".( ust Rahmat Abdullah; Pilar2 Azasi).
Adakah kita juga ingin bergabung...?-nuas-
07 Juli 2009 jam 23:05
"Dapat kugambarkan profil mujahid sejati dalam diri seseorang yang siap mengambil bekal dan memenuhi perlengkapannya. Seluruh dirinya -seluruh sudut hati dan jiwanya- didominasi pikiran seputar perjuangan. Ia dalam pemikiran selalu, perhatian yang besar dan persiapan yang senantiasa" ( Imam Al Banna)
Menepi dari jalan ramai dan memilih kesunyian, menapaki pendakian yang senyap, tikungannya sepi, sesekali hanya terdengar gemerisik dedaunan saling bergesek mempertegas keheningan. Ada begitu banyak duri disana, lorong-lorongnya gelap, berkelok panjang bahkan tak berani menerka ujungnya di mana. Siapkah engkau..?
Dibutuhkan keberanian, harus melimpah keteguhan dan nafas panjang kesabaran bila engkau ingin menapakinya. Namun hidup adalah pilihan, aku dan engkau pun harus memilih jalan.
Jalan Para Pahlawan
Jalan sunyi, tak banyak yang ingin ke sana karena ini adalah jalan kesungguhan, jalan yang disuguhi tantangan dan beratnya ujian, inilah jalan para pahlawan, mereka yang memilih untuk berjuang. Dan demikianlah tabiatnya, jalan kepahlawanan sungguh berat, ada banyak godaan bersamanya. Di sini harta, perasaan bahkan darah bukan hal yang mahal untuk dikorbankan.
Jalan sunyi, tak banyak yang ingin ke sana, itulah sebabnya ia sunyi. Tak ada lagu dan pujian di sini, itulah mengapa ia sepi. Juga tak ada gurau dan gincu di sini, itulah alasan ia hening. Demikianlah wataknya, manusia cenderung menjauhi kesulitan.
Siapakah pemilik jalan itu
Maka akan kau temukan di jalan itu orang-orang dengan atribut kemulian. " Pergi pulangnya, tutur bahasanya, sungguh-guraunya, tak melampaui garis batas medan juang yang ia siapkan dirinya untuk itu.... Nampak jelas pada kerut-raut wajanya, dalam kilat matanya dan terdengar pada luncuran tutur lisannya, segala indikasi kesungguhan yang lekat dan duka yang dalam, berkobar dalam hatinya serta azzam yang sungguh, semangat yang tinggi serta semangat yang jauh kedepan, sebagai luapan jiwanya".( ust Rahmat Abdullah; Pilar2 Azasi).
Adakah kita juga ingin bergabung...?-nuas-
Tersenyumlah.....
dr.Anwas Nurdin
Pernahkah engkau menemukan senyuman yang teramat indah, seelok merah jambu, setenang lubuk nan jauh, damai, menatapnya seolah senyum itu berkata 'aku akan menjagamu', dalam tak terduga, menerobos masuk kepori-pori perasaan, lalu berdiam disana, sejuk, tenang. ai...ini pasti senyuman yang jujur berasal dari dalam hati, bukan sekedar tarikan sudut bibir. Sungguh saya pernah menemukannya.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada saudaramu, karena ia adalah hadiah. Pemberian yang menguatkan ikatan. Senyum adalah bahasa jiwa, sapaan yang tak membutuhkan kata-kata, ungkapan kehalusan, tawaran maksud baik, pemecah kebuntuan, panawar kebekuan, pertanda keikhlasan. Ia adalah ungkapan cinta, seperti kembang tanpa duri, indah, harum, tak melukai.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada hari-hari, cita-cita dan rencanamu. Karena ia adalah bukti kesungguhan dan keteguhan. Ia merangkum kekutan dalam satu simpul. Ketenangan, kematangan, kearifan, terjalin menjadi satu, memesona.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada sang mentari yang bersinar keemasan, pada rembulan yang bercahaya keperakan, pada angin yang membawa harapan, pada bintang yang gemerlap seperti lampu bergantung tanpa tangkai, pada pelangi yang sumringah, pada pucuk yang merekah, pada gunung yang teguh nan anggun, pada burung yang terbang bebas, pada laut yang dalam tak terduga, pada semesta. Tersenyumlah pada segenap peserta jagad raya. Karena ia adalah pertanda persahabatan, ungkapan penerimaan sekaligus penjagaan.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada Tuhanmu, tersenyum dengan sepenuh prasangka baik atas segala takdirnya. Karena ia pertanda ketundukan sekaligus ungkapan kesyukuran.
Maka tersenyumlah...dan berbahagialah karena sungguh senyum itu berbuah surga.-nuas-
Pernahkah engkau menemukan senyuman yang teramat indah, seelok merah jambu, setenang lubuk nan jauh, damai, menatapnya seolah senyum itu berkata 'aku akan menjagamu', dalam tak terduga, menerobos masuk kepori-pori perasaan, lalu berdiam disana, sejuk, tenang. ai...ini pasti senyuman yang jujur berasal dari dalam hati, bukan sekedar tarikan sudut bibir. Sungguh saya pernah menemukannya.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada saudaramu, karena ia adalah hadiah. Pemberian yang menguatkan ikatan. Senyum adalah bahasa jiwa, sapaan yang tak membutuhkan kata-kata, ungkapan kehalusan, tawaran maksud baik, pemecah kebuntuan, panawar kebekuan, pertanda keikhlasan. Ia adalah ungkapan cinta, seperti kembang tanpa duri, indah, harum, tak melukai.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada hari-hari, cita-cita dan rencanamu. Karena ia adalah bukti kesungguhan dan keteguhan. Ia merangkum kekutan dalam satu simpul. Ketenangan, kematangan, kearifan, terjalin menjadi satu, memesona.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada sang mentari yang bersinar keemasan, pada rembulan yang bercahaya keperakan, pada angin yang membawa harapan, pada bintang yang gemerlap seperti lampu bergantung tanpa tangkai, pada pelangi yang sumringah, pada pucuk yang merekah, pada gunung yang teguh nan anggun, pada burung yang terbang bebas, pada laut yang dalam tak terduga, pada semesta. Tersenyumlah pada segenap peserta jagad raya. Karena ia adalah pertanda persahabatan, ungkapan penerimaan sekaligus penjagaan.
Tersenyumlah.
Tersenyum pada Tuhanmu, tersenyum dengan sepenuh prasangka baik atas segala takdirnya. Karena ia pertanda ketundukan sekaligus ungkapan kesyukuran.
Maka tersenyumlah...dan berbahagialah karena sungguh senyum itu berbuah surga.-nuas-
Bendera; Telahkah Kita Merdeka?
14 Agustus 2009 jam 23:08
dr.Anwas Nurdin
Sebuah Bendera di timur jauh
Berkibar setengah ragu
Tegak tiangnya tak tangguh
Warna merahnya pucat semu
Putihnya kelabu, berdebu
Sebuah bendera di timur jauh
Digerek pelan-pelan oleh anak setengah berbaju
Dipandu lagu pilu dan nyanyian deru peluru
Sebuah bendera di timur jauh
Berkibar menahan malu
Sebab enam puluh tahun lebih telah berlalu
Dan ia tahu, merdeka itu masih palsu.
Timur Jauh-Papua, Agustus 2009
dr.Anwas Nurdin
Sebuah Bendera di timur jauh
Berkibar setengah ragu
Tegak tiangnya tak tangguh
Warna merahnya pucat semu
Putihnya kelabu, berdebu
Sebuah bendera di timur jauh
Digerek pelan-pelan oleh anak setengah berbaju
Dipandu lagu pilu dan nyanyian deru peluru
Sebuah bendera di timur jauh
Berkibar menahan malu
Sebab enam puluh tahun lebih telah berlalu
Dan ia tahu, merdeka itu masih palsu.
Timur Jauh-Papua, Agustus 2009
Papua Juga (masih) Indonesia
dr. Anwas Nurdin
Kami juga anak Indonesia, yang ingin berkata tentang warna bendera ini, merahnya adalah darah kami seperti putihnya juga adalah belulang kami. Maka jangan tanya kadar kesetiaan, apalagi menuding atas makar dan konspirasi. Sebab negeri ini adalah tanah tempat tertumpah darah dan kuburan ari-ari kami, yang akan kami jaga dengan perisai raga bahkan sampai mati.
Kami juga anak Indonesia, yang setia dan khidmat di bawah bendera, tak kan kami gadai kehormatan apalagi menjual kedaulatan negeri demi kepingan-kepingan materi untuk sehari dua hari. Jadi jangan tanya lagi, apalagi dengan laras dan mortir yang tak punya nurani.
Sungguh kamilah yang layak bertanya wahai bapak-bapak pemangku kuasa, tentang arti merdeka dan warna bendera. Bila kita telah merdeka, kenapa mereka menebangi pohon-pohon kayu kami, membawa pergi minyak bumi dan gas alam negeri ini, tak meninggalkan kecuali kemiskinan yang tetap lestari bagi anak-anak kami. Kemarin masih terang gunung berkilau emas tertimpa cahaya, hari ini hanyalah menyisakan lembah yang tak selesai digali kemudian dibawa lari keluar negeri. Bila warna bendera kita sama wahai bapak-bapak wali amanah, mengapa tak jua datang bersua keadilan di tanah kami, pemerataan pembangunan, keseteraan pendidikan dan kelayakan kesehatan. Kesejahtraan terlampau mewah untuk kami kabarkan pada anak-anak yang terus kekurangan gizi.
Sungguh kami harus berbuat, menentukan jalan untuk berlari mengejar mimpi-mimpi, kami punya semua, dan jenuh kami akan janji yang selalu dikhianati. Sedih hati meratapi anak-anak pucat pasi, sakit digerogoti malaria setiap hari. Tanah ini kaya raya, letihlah rasa melihat para ibu hanya menggelar buang-buah pinang dan mengurus petatas dan keladi.
Sebab kami juga anak Indonesia dan warna bendera kita sama, jadi jangan buat kami merasa di bedakan.
Kami juga anak Indonesia, yang ingin berkata tentang warna bendera ini, merahnya adalah darah kami seperti putihnya juga adalah belulang kami. Maka jangan tanya kadar kesetiaan, apalagi menuding atas makar dan konspirasi. Sebab negeri ini adalah tanah tempat tertumpah darah dan kuburan ari-ari kami, yang akan kami jaga dengan perisai raga bahkan sampai mati.
Kami juga anak Indonesia, yang setia dan khidmat di bawah bendera, tak kan kami gadai kehormatan apalagi menjual kedaulatan negeri demi kepingan-kepingan materi untuk sehari dua hari. Jadi jangan tanya lagi, apalagi dengan laras dan mortir yang tak punya nurani.
Sungguh kamilah yang layak bertanya wahai bapak-bapak pemangku kuasa, tentang arti merdeka dan warna bendera. Bila kita telah merdeka, kenapa mereka menebangi pohon-pohon kayu kami, membawa pergi minyak bumi dan gas alam negeri ini, tak meninggalkan kecuali kemiskinan yang tetap lestari bagi anak-anak kami. Kemarin masih terang gunung berkilau emas tertimpa cahaya, hari ini hanyalah menyisakan lembah yang tak selesai digali kemudian dibawa lari keluar negeri. Bila warna bendera kita sama wahai bapak-bapak wali amanah, mengapa tak jua datang bersua keadilan di tanah kami, pemerataan pembangunan, keseteraan pendidikan dan kelayakan kesehatan. Kesejahtraan terlampau mewah untuk kami kabarkan pada anak-anak yang terus kekurangan gizi.
Sungguh kami harus berbuat, menentukan jalan untuk berlari mengejar mimpi-mimpi, kami punya semua, dan jenuh kami akan janji yang selalu dikhianati. Sedih hati meratapi anak-anak pucat pasi, sakit digerogoti malaria setiap hari. Tanah ini kaya raya, letihlah rasa melihat para ibu hanya menggelar buang-buah pinang dan mengurus petatas dan keladi.
Sebab kami juga anak Indonesia dan warna bendera kita sama, jadi jangan buat kami merasa di bedakan.
Langganan:
Postingan (Atom)