Kamis, 19 Maret 2009

DISPEPSIA-CASE REPORT

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. Abdul Rasyid
Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Ternate
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan VI No. 9A
No. Reg. : 011013
Umur : 24 thn
Laki/ Perempuan : Laki-laki
Tgl. Penerimaan : 27 Oktober 2008

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri Ulu Hati
Ananmesis Terpimpin : Nyeri Ulu Hati dialami kurang lebih 1 bulan yang lalu, dan memberat 1 minggu terakhir, tidak terus menerus, sering diikuti dengan perasaan panas hingga tenggorokan, rasa mual(+) dan kadang-kadang sampai muntah, rasa penuh di perut (+), kembung (+), melena(-).
Riwayat minum obat promag tapi keluhan tidak berkurang
Pasien sering makan tidak teratur dan merasa stress karena sedang menyelesaikan skripsi.
BAK: Lancar, kesan Normal
BAB: Biasa, kesan Normal


Pemeriksaan Fisis :
- Status present : Sakit sedang / gizi cukup/ composmentis
(B= 50 kg, TB=160 cm, IMT= 19,5 kg/m2)
- Tanda Vital : TD= 110/70 P=20x/menit
N = 78x/menit S=36,8oC
- Kepala : Konjungtiva anemis (-)
Sklera ikterus (- )
Bibir sianosis (-)
- Leher : MT (-)
NT (-)
DVS R-2 cm H2O
- Thoraks : I = Simetris, kiri = kanan
P = Massa tekan (-),Nyeri Tekan (-), vokal fremitus kiri=kanan
P = Sonor, Batas Paru Hepar ICS VI kanan depan.
A = Bronkovesikuler, Rh -/- Wh -/-.
- Jantung : I = Ictus cordis tidak tampak
P = Ictus cordis tidak teraba
P = Pekak
A = BJ I/II, murni regular, bising (-)
- Abdomen : I = Datar, ikut gerak nafas
A = Peristaltik (+), kesan normal
P = MT (-), NT (+) epigastrium, Hepar/Lien tidak teraba
P = Tympani
- Ekstremetas : udema (-), fraktur (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

DIAGNOSIS
Dispepsia

PENATALAKSANAAN
Pengobatan nonfarmakologi berupa saran kepada pasien untuk :
1. Makan secara teratur, mengonsumsi makanan berserat tinggi, bervitamin, dan memperbanyak minum air putih.
2. Mengurangi konsumsi makanan berlemak, kecut, pedas, dan mengandung gas, serta minuman berkafein seperti kopi dan teh pekat.
3. Mengontrol kesehatan secara teratur.
Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah :
1. Antasida syrup 4x1 sdm
2. Ranitidin 150mg 3x1
3. Vitamin B com C 2x1

HASIL KUNJUNGAN RUMAH
I. Kunjungan Rumah hari I ( 29 Oktober 2008 )
Keluhan : Nyeri ulu hati berkurang
Pemeriksaan fisis :
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Pernapasan : 16 x/mnt
Nadi : 88 x/mnt
Suhu : afebris
Kepala : anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)
Leher : tidak ada kelainan
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Dalam batas normal
Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : Tidak ada kelainan

Saran:
1. Atur pola makan seteratur mungkin.
2. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung
(coklat, keju, dan lain-lain).
3. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon, semangka, dan lain-lain).
4. Hindari makanan yang terlalu pedas.
5. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol.
6. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan ketoprofen. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung.
7. Kelola stress psikologi se-efisien mungkin

Kunjungan Rumah hari II (31 Oktober 2008)
Keluhan : Tidak ada keluhan
Pemeriksaan fisis :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Pernapasan : 18x/mnt
Nadi : 92 x/mnt
Suhu : afebris
Kepala : anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)
Leher : tidak ada kelainan
Thorax : vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Cor : SI/II reguler, murni
Abdomen : Dalam batas normal
Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas : Tidak ada kelainan
Saran:
1. Atur pola makan
2. Makan makanan bergizi
3. Kelola stress sebaik mungkin.

Profil Keluargaa
Tn. Rasid merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara dikeluarganya, seluruh keluarga besarnya tinggal dan menetap di Ternate, Tn. Rasid melanjutkan kuliah di Makassar dan tinggal di kost-kostan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampusnya.

Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga
Tn. Rasid merupakan mahasiswa fakultas perikanan di Universitas Muslim Indonesia, Ayahnya bekerja sebagai petani dan demikian pula dengan ibunya. Tn. Rasid melanjutkan kuliah dengan beasiswa dari daerahnya.
Tn. Rasidal tinggal di kost-kostan yang lumayan luas dengan 2 kamar, serta 1 dapur. Tn, Rasid tinggal berdua dengan temannya. Ventilasi dan pencahayaan di kamar tersebut mencukupi karena pada kamar tersedia jendela Kebersihan lingkungan dan kamar kostan lumayan terjaga. Sumber air yang di gunakan adalah air PAM. Untuk minum dan memasak, mereka menggunakan air galon yang steril.

Riwayat Penyakit Keluarga
Berdasarkan informasi dari Tn. Rasid, riwayat penyakit keluarga kurang jelas, namun, berdasarkan anamnesa lanjut, bahwa ternyata Tn. Rasid pernah dirawat di rumah sakit dengan serangan Asma, selain itu, sekitar 1 bulan yang lalu, Tn. Rasid pernah demam kurang lebih 1 minggu dan tidak melakukan pemeriksaan ke dokter sehingga tidak diketahui diagnose penyakitnya.


Pola Konsumsi Makanan Keluarga
Menu makanan sehari-hari Tn. Rasid bervariasi karena hanya membeli makanan di warung, yang terdiri dari ikan, sayur, tahu, tempe, ayam, dll. Namun, akhir-akhir ini pola makan Tn. Rasid tidak teratur disebabkan kesibukan menyelesaikan skripsinya. Sehingga terkadang menu makanan yang dimakan hanya mie instan.

Psikologi dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga
Hubungan Tn. Rasid dengan teman-teman di kostan tergolong baik, Tn. Rasid orang yang mudah bergaul, namun, karena sibuk dengan skripsinya, maka akhir-akhir ini Tn. Rasid kurang bercengkrama dengan teman-teman di kostannya. Hal ini sangat dimengerti oleh teman-teman kostannya sehingga teman-teman kostannya kadang membantu Tn. Rasid dalam tugas-tugasnya.

Lingkungan
Lingkungan tempat tinggal Tn. Rasid masuk dalam penilaian baik. Rumah kostan tersebut terdiri dari 6 kamar yang masing-masing terakses langsung dengan halaman. Halaman rumah tergolong bersih, dengan saluran air/selokan tertata rapi,

DISKUSI
Tn. Rasid didiagnosa dengan dyspepsia, karena dari anamnesis pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati yang dalam ilmu kedokteran berada pada regio epigastrium, sehingga dapat memberikan gambaran secara anatomi keluhan berasal dari lambung/gaster. Hal ini diperkuat dengan anamnesa selanjutnya ditemukan perasaan panas(heartburn), mual(+), hingga kadang-kadang muntah, rasa penuh, dan kembung. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada dispepsia terjadi produksi asam lambung yang meningkat, sehingga menyebabkan keluhan-keluhan tersebut. Hal ini kemungkinan besar dipicu oleh factor stress yang sedang dihadapi oleh Tn. Rasid yaitu sedang menyelesaikan skripsinya, pola makan yang tidak teratur, dan jenis makanan yang kurang memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Faktor-faktor tersebut diatas sangat berperan dalam sekresi asam lambung yang berlebihan dan akhirnya timbul dsebagai gejala dispepsia Beberapa studi mengatakan stres yang lama menyebabkan perubahan aktifitas vagal, berakibat gangguan akomodasi dan motilitas gaster. Tn. Rasid sebelumnya telah mengkonsumsi obat maag (promag) namun keluhan tidak berkurang disebabkan karena setelah diobservasi lanjut, Tn. Rasid hanya meminumnya 3 kali dalam 1 minggu, tanpa usaha-usaha untuk memperbaiki pola makannya.
Pasien ini kemudian mendapat terapi antasida syrup, hal ini dengan pertimbangan bahwa bentuk syrup lebih mudah bekerja dan lebih cepat. Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk mengurangi rasa nyeri.
Pasien ini mendapat terapi ranitidine yang merupakan golongan antagonis reseptor H2 yang berfungsi untuk menghambat sekresi asam lambung. Disamping itu, pasien juga mendapat terapi B com C dengan tujuan untuk menjaga daya tahan tubuh pasien.
Hal yang paling penting dan tidak boleh terlupakan adalah member saran pada pasien untuk mengatur pola makanan, dengan mengurangi makanan yang dapat mengiritasi lambung seperti makanan yang berlemak, pedas, kopi, the, coklat, alcohol, serta yang paling penting adalah membantu/member support pada pasien agar tidak terlalu stress dengan tugas-tugasnya.





LINGKUNGAN RUMAH




























PEMBAHASAN PENYAKIT

DISPEPSIA

Definisi
Dispepsia merupakan gejala/simtom atau sindrom yang terdiri dari keluhan nyeri ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, rasa penuh/ begah dan rasa panas/terbakar di dada/epigastrium. Keluhan ini tidak perlu selalu semua ada pada tiap pasien, dan bahkan pada satu pasien pun keluhan dapat bervariasi dari segi jenisnya ataupun kualitasnya dari waktu ke waktu. Sindrom dispepsia ini secara garis besar dapat disebabkan oleh gangguan lokal atau sistemik serta oleh gangguan yang bersifat organik atau fungsional.1,2,3,4
Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi.

Etiologi
Penyebab Dispepsia adalah :1,2,3
- Gangguan pada lumen saluran cerna: tukak peptik, tumor, gastritis, hiatus hernia, esofagitis refluks.
- Obat-obatan: anti-inflamasi nonsteroid, antibiotik, digitalis, teofilin.
- Penyakit pada hati, pankreas, dan saluran empedu.
- Penyakit sistemik: diabetes melitus, penyakit tiroid, penyakit jantung koroner.
- Fungsional: dispepsia fungsional atau dispepsia non-ulkus.
- Mungkin disebabkan makanan yang mengiritasi mukosa lambung (kafein, alkohol, makanan yang sulit dicerna, dan lain-lain).
- Faktor mekanik seperti makan terlalu banyak, makan dengan cepat dan kesalahan mengunyah mungkin menyebabkan timbulnya gejala-gejala.
- Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
- Infeksi Helicobacter pylory

Gejala dan Tanda
Gejala dispepsia antara lain adalah :1,2,3,4
• Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya.
• Rasa penuh setelah makan dan flatulensi.
• ‘Heartburn; regurgitasi
• Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, muntah, sembelit, dan diare.

Diagnosis1,2
• Anamnestik akurat untuk menilai apakah keluhan ini lokal atau berdasarkan gangguan sistemik.
• Pemeriksaan fisis untuk mengidentifikasi kelainan intralumen yang padat misalnya massa intraabdomen, tanda peritonitis, organomegali.
• Laboratorium: mengidentifikasi adanya faktor infeksi (leukositosis), pankreatitis (amilase/lipase), keganasan (CEA, CA 19.9, AFP).
• Ultrasonografi: pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi dengan baik kelainan pada hati (sirosis hati, tumor), pankreas (pankreatitis), dan saluran empedu (kolesistitis, batu).
• Endoskopi: pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk segera dikerjakan bila dispepsia tersebut disertai pula oleh adanya anemia, berat badan yang turun, muntah hebat diduga adanya obstruksi, adanya muntah darah, atau keluhan sudah lama dan terjadi pada usia > 45 tahun. Keadaan itu kita sebut sebagai alarm symptom karena sangat dicurigai suatu keadaan gangguan organik terutama keganasan. Pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi kelainan organik intra lumen seperti tukak, tumor, lesi inflamasi, adanya obstruksi saluran cerna bagian atas. Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa esofagus, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori.
• Barium enema untuk memeriksa esofagus, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan.

Penatalaksanaan
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:1,4,5,6,7,8,9,10
1. Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
2. Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.
3. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin.
4. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.
5. Sitoprotektif
Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
6. Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, domperidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance) (Mansjoer et al, 2007).
7. Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti- depresi dan cemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena tidak jarang keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan seperti cemas dan depresi
8. Akupuntur dapat mengatasi mual dan mengurangi kadar asam lambung.

Pengobatan farmakologis untuk pasien dispepsia fungsional belum begitu memuaskan. Hasil penelitian controlled trials secara umum masih mengecewakan dan hanya menemukan manfaat yang relatif kecil mengenai placebo dengan histamin antagonis reseptor H2, penghambat pompa asam (proton-pump inhibitors), dan pemberantasan Helicobacter pylori. Walaupun sejumlah penelitian acak (randomized), controlled trials, dan meta-analisis telah menunjukkan keunggulan sisaprid dibandingkan placebo, sekarang kegunaan sisaprid terlarang di kebanyakan negara karena mengakibatkan efek samping pada jantung. (Holtmann et al, 2006)
Di Jepang, itoprid, yang merupakan dopamin antagonis D2 dengan kerja menghambat acetylcholinesterase, sering diresepkan untuk pasien dispepsia fungsional. Walaupun obat ini telah menunjukkan merangsang kemampuan gerak spontan (motality) lambung, penelitian yang dirancang secara tepat, acak, dan controlled trials terhadap pasien dispepsia fungsional masih lemah. Di Jepang, itoprid diresepkan 50 mg untuk tiga kali sehari. Bagaimanapun, respon kecil terhadap pemberian dosis harus dipandang dari populasi lainnya. (Holtmann et al, 2006)
Penelitian yang dilakukan oleh Holtmann dkk membandingkan antara pasien dispepsia fungsional yang diberi resep placebo dan itoprid. Pasien dispepsia fungsional secara acak menerima pengobatan itoprid (50,100, atau 200 mg untuk tiga kali sehari) atau placebo. Setelah delapan minggu pengobatan, tiga poin efikasi utama dianalisa: perubahan dasar berbagai gejala dispepsia fungsional (seperti yang diujikan melalui Leeds Dyspepsia Questionnaire), pengujian global dari efikasi pasien (proporsi pasien tanpa gejala atau tanda peningkatan gejala), dan berbagai keluhan nyeri dan sakit yang dihitung dalam skala tingkat lima. Setelah delapan minggu, 41 persen dari pasien yang menerima placebo ternyata bebas gejala, sebagai perbandingan dengan 57 persen, 59 persen, dan 64 persen yang menerima itoprid dosis 50, 100, 200 mg untuk tiga kali sehari (P<0.05 untuk semua oerbandingan antara placebo dan itoprid). (Holtmann et al, 2006)
Walaupun penilaian bebas gejala secara siginifikan terjadi di keempat kelompok, analisis keseluruhan menyingkap bahwa itoprid lebih unggul secara signifikan daripada placebo, dengan nilai perkembangan bebas gejala untuk kelompok 100 dan 200 mg (-6.24 dan -6.27) versus (-4.50) untuk kelompok placebo; P=0.05. Analisis akhir dan lengkap menunjukkan bahwa itoprid menghasilkan nilai respon yang lebih baik daripada placebo (73 persen versus 63 persen, P=0.04) (Holtmann et al, 2006).

Pencegahan
Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia :1
1. Atur pola makan seteratur mungkin.
2. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung
(coklat, keju, dan lain-lain).
3. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon, semangka, dan lain-lain).
4. Hindari makanan yang terlalu pedas.
5. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol.
6. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan ketoprofen. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung.
7. Kelola stress psikologi se-efisien mungkin.
8. Jika anda perokok, berhentilah merokok.
9. Jika anda memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu tidur.
10. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan terlalu banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu cepat, atau makan sesaat sebelum olahraga.
11. Pertahankan berat badan sehat
12. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk mengurangi stress dan mengontrol berat badan, yang akan mengurangi dispepsia.
13. Ikuti rekomendasi dokter Anda mengenai pengobatan dispepsia. Baik itu antasid, PPI, penghambat histamin-2 reseptor, dan obat motilitas.






















DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, Arif et al. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Edisi Ketiga. Jakarta.: 488-491

2. Djojoningrat, Dharmika. Dispepsia fungsional. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, editors. Buku Ajar llmu Penyakit Dalam, jilid 1. 4th. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 354-6.

3. Mubin H. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. 2nd. Jakarta: EGC; 2008. p. 277.

4. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Panduan Pelayanan Medik. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.

5. Mycek MJ, Harvey RA, Champe PC. Farmakologi Ulasan Bergambar. 2nd. Jakarta: Penerbit Widya Medika; 2001. p. 239-43.

6. Neal MJ. At a Glance Farmakologi Medis. 5th. Jakarta: Erlangga; 2006. p. 30-1.

7. Fisher RS, Parkman HP.1998. Management of Nonulcer Dyspepsia. http://content.nejm.org/cgi/content/full/339/19/1376

8. Friedman LS. 1998. Helicobacter pylori and Nonulcer Dyspepsia. http://content.nejm.org/cgi/content/full/339/26/1928.


9. Holtmann, Gerald. 2006. A Placebo Controlled Trial of Itopride in Functional Dyspepsia. http://content.nejm.org/cgi/content/short/354/8/ 832, 23 Februari 2006

10. Longstreth, George F. 2006. Functional Dyspepsia — Managing the Conundrum. http://content.nejm.org/cgi/content/short/354/8/791, 23 Februari 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar