Kamis, 19 Maret 2009

BRAIN ABSCESS
IRA WAHYUNI-ASRUL MAPPIWALI

I.PENDAHULUAN
Abses otak adalah kumpulan nanah yang terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan otak yang disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. Abses otak biasanya akibat komplikasi dari suatu infeksi, trauma atau tindak pembedahan. Keadaan-keadaan ini jarang terjadi, namun demikian insiden terjadinya abses otak sangat tinggi pada penderita yang mengalami gangguan kekebalan tubuh (seperti penderita HIV positive atau orang yang menerima transplantasi organ). Mikroorganisme penyebab abses otak meliputi bakteri, jamur dan parasit tertentu. Mikroorganisme tersebut mencapai substansia otak melalui aliran darah, perluasan infeksi sekitar otak, luka tembus trauma kepala dan kelainan kardiopulmoner. Pada beberapa kasus tidak diketahui sumber infeksinya.Gejala klinik abses otak berupa tanda-tanda infeksi yaitu demam, anoreksi dan malaise, peninggian tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal sesuai lokalisasi abses. Terapi abses otak terdiri dari pemberian antibiotik dan pembedahan. Tanpa pengobatan, prognosis abses otak jelek.(1,2)

II. EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian yang sebenarnya dari abses otak tidak diketahui. Laki-laki lebih sering dari pada perempuan dengan perbandingan 2:1. Poerwadi melaporkan 18 kasus abses otak pada anak dengan usia termuda 5 bulan. Infeksi intra vokal serebral ditandai dengan adanya pus yang tidak berselaput didalam parenkim otak. Walaupun jarang, abses otak merupakan proses kranial supurative yang paling umum. Beberapa tahun Abses otak terjadi tidak sesering meningitis atau encephalitis. Kejadian abses otak adalah 1,3 per 100 ribu orang per-tahun. Ini terlihat pada 1500-2500 kasus per-tahun di Amerika Serikat. Secara keseluruhan insiden abses otak menurun seiring dengan penemuan antibiotik. Abses otak terjadi disebabkan karena cedera otak pada pasien yang memiliki sistem imun yang rendah.(2,3)


III.ETIOLOGI
Berbagai mikroorganisme dapat ditemukan pada abses otak, yaitu bakteri, jamur dan parasit. Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcusbeta hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan Baeteroides. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob.Jamur penyebab abses otak antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. Walaupun jarang, Entamuba histolitica,suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan abses otak secara hematogen.Kira-kira 6¬2% abses otak disebabkan oleh flora campuran, kurang lebih 25% abses otak adalah kriptogenik (tidak diketahui sebabnya).(2)







IV. ANATOMI
Abses otak adalah suatu reaksi piogenik yang terlokalisir pada jaringan otak.Dengan semakin besarnya abses otak gejala menjadi khas berupa trias abses otak yang terdiri dari gejala infeksi, peninggian tekanan intrakranial dan gejala neurologik fokal. Kelompok gejala dan tanda dapat, pada tingkat ketepatan tertentu, dihubungkan dengan anatomi dan fisiologi dalam proses melokalisasi kelainan pada otak. Otak terdiri dari 4 elemen, yang berhubungan secara anatomi dan fisiologi. Massa terbesar dari otak adalah cerebrum, tersusun atas 2 hemisfer serebral lateral. Masing-masing hemisfer memiliki lobus frontal di anterior, lobus parietal dan temporal di lateral, dan lobus oksipital di posterior. Kedua lobus frontal secara struktural menghubungkan kedua hemisfer serebral di garis pertengahan (bagian dari lobus limbik) yang secara fungsional berkaitan dengan kepribadian, emosi, dan gambaran diri. Aspek posterior dari masing-masing lobus frontal mempunyai fungsi motorik sadar untuk bagian kontralateral tubuh, di mana aspek anterior dari kedua lobus parietal mempunyai fungsi sensorik sadar untuk bagian kontralateral tubuh. Fungsi auditorik dan memori otak dimiliki oleh lobus temporal saat berinteraksi dengan lobus frontal. Pada sebagian besar orang, fungsi bicara sadar terletak di daerah frontotemporoparietal kiri dari hemisfer serebral kiri, sedangkan fungsi orientasi visuo-spasial terlateralisasi ke hemisfer serebral kanan, terutama lobus parietal kanan.


Gambar 1. Abses Otak – bagian koronal dari otak. (13)

Elemen kedua otak adalah cerebellum, terletak di posterio di bawah cerebrum. Struktur yang berpasangan ini terutama bertanggung jawab untuk koordinasi motorik tidak sadar. Di bawah dasar dari kedua hemisfer serebral, melewati bagian anterior dari serebellum menuju ke kanalis spinalis dan berlanjut menjadi korda spinalis, adalah brain stem (batang otak), elemen ke tiga. Ia berfungsi sebagai jalur utama bagi impuls-impuls saraf untuk meninggalkan otak dan memasuki korda spinalis, dan untuk sebaliknya.
Elemen terakhir dari otak adalah saraf-saraf kranial, yang melewati berbagai elemen otak lainnya menuju struktur-struktur tengkorak perifer. Mereka meneruskan impuls-impuls menuju otak bagian penglihatan, penciuman, perasa, dan pendengaran; fungsi motorik sadar otot wajah, seperti mastikasi dan sensasi; dan beberapa fungsi otonom tubuh seperti irama jantung dan peristaltis usus.
Contoh pentingnya pertimbangan lokalisasi dapat dilihat pada pasien yang mengeluhkan gangguan penglihatan. Bila pasien tersebut juga mengeluhkan kelemahan pada tangan kanan, perlu dipertimbangkan lesi di hemisfer serebral kanan yang mempengaruhi jalannya saraf penglihatan, sebab saraf ini berjalan dari mata di depan menuju lobus oksipital di aspek posterior hemisfer serebral. Pada sisi lain, pada pasien yang mengeluhkan gangguan penglihatan yang juga mengeluhkan gangguan penciuman dan perasa, perlu dipertimbangkan lesi yang lebih anterior, pada regio mata, di mana mata lebih dihubungkan dengan mukosa hidung dan mulut.(2,5,6,7)

V. PATOFISIOLOGI
Abses otak pada umumnya berkembang dari invasi oleh infeksi lokal, penyebaran bersifat hematogenesis atau trauma. Akan tetapi berdasarkan dalam suatu penelitian, sebanyak 63% dari kasus tidak memiliki infeksi pencetus. Pada kasus infeksi kepala dan leher abses otak terjadi sebagai akibat dari infiltrasi lokal suatu bakteri. Abses berkembang dari infeksi lokal apabila tidak dirawat. Selanjutnya lokasi abses sering dihubungkan dari lokasi infeksi primernya.(3)

VI. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik, pemeriksaan laboratorium disertai pemeriksaan radiologi. Foto polos kepala memperlihatkan tanda peninggian tekanan intrakranial, dapat pula menunjukkan adanya fokus infeksi ekstraserebral; tetapi dengan pemeriksaan ini tidak dapat diidentifikasi adanya abses. Pemeriksaan EEG terutama penting untuk mengetahui lokalisasi abses dalam hemisfer. EEG memperlihatkan perlambatan fokal yaitu gelombang lambat delta dengan frekuensi 1¬3 siklus/detik pada lokasi abses. Pnemoensefalografi penting terutama untuk diagnostik abses serebelum. Dengan arteriografi dapat diketahui lokasi abses di hemisfer. Saat ini, pemeriksaan angiografi mulai ditinggalkan setelah digunakan pemeriksaan yang relatif noninvasif seperti CT scan. Dan scanning otak menggunakan radioisotop tehnetium dapat mengetahui lokasi abses; daerah abses memperlihatkan bayangan yang hipodens daripada daerah otak yang normal dan biasanya dikelilingi oleh lapisan hiperderns. CT scan selain mengetahui lokasi abses juga dapat membedakan suatu serebritis dengan abses. Magnetic Resonance Imaging saat ini banyak digunakan, selain memberikan diagnosis yang lebih cepat juga lebih akurat.(2,5)

A. GAMBARAN KLINIS
Abses otak bisa menyebabkan berbagai gejala, tergantung kepada lokasinya. Gejalanya dapat berupa sakit kepala, mual, muntah, rasa mengantuk, kejang, perubahan kepribadian dan gejala kelainan fungsi otak lainnya. Gejala-gejala tersebut bisa timbul dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Pada awalnya penderita merasakan demam dan menggigil, tetapi gejala ini bisa menghilang ketika tubuh berhasil menangkal infeksi tersebut.
Respons otak terhadap penyakit dapat berupa terjadinya perubahan status mental. Perubahan tersebut biasanya berupa perubahan tingkat kesadaran. Pasien dapat menunjukkan berbagai tingkat kesadaran. Tindakan yang paling penting pada pemeriksaan fisik adalah mencari setiap perubahan intelegensi, orientasi, kewaspadaan diri atau memori. Pasien dengan kerusakan fungsi otak dapat muncul dengan gejala-gejala motorik. Sebagian besar pasien dengan kelompok gejala dan tanda tersebut akan terlihat memiliki pola paresis atau kelemahan fungsi otot. Beberapa diantaranya akan muncul, walaupun tanpa kelemahan otot yang signifikan, namun tetap terjadi pergerakan abnormal yang diakibatkan oleh kerusakan sistem syaraf, seperti spastisitas atau kejang. Otot biasanya rigid atau gerakannya menjadi tidak terkoordinasi. Pergerakan abnormal dapat terlihat selama aktivitas yang dilakukan pasien, baik disadari maupun tidak. Nyeri, seperti sakit kepala merupakan bentuk keluhan sensorik paling sering. Pasien dapat juga mengeluh adanya sensasi yang abnormal, seperti parestesia, fenomena nyeri seperti tersengat listrik atau mati rasa. Keluhan dapat timbal secara spontan atau hanya pada temuan saat dokter melakukan pemeriksaan. Keluhan sensorik lainnya mungkin melibatkan gangguan penglihatan atau pendengaran. Gangguan berbahasa merupakan keluhan yang umum ditemukan pada pasien dengan kerusakan otak. Gangguan ini dapat dikategorikan menjadi beberapa macam, namun secara umum dibedakan menjadi 3 kelompok yang disebut afasia. Pada afasia ekspresif, seseorang mempunyai kesulitan mengekspresikan dirinya, yaitu kesulitan menyusun kalimat yang koheren dan dapat dimengerti. Pasien dengan afasia reseptif mengalami kesulitan menerima masukan komunikasi dan mengolahnya menjadi bahasa yang dapat dimengerti. Ekspresi verbal pada pasien-pasien tersebut dapat normal, walaupun artikulasinya benar tapi tidak berhubungan dengan masukan yang diterima. Seorang dengan afasia global tidak memiliki kedua komponen di atas. Pada akhirnya, kerusakan otak dapat bermanifestasi sebagai gangguan kejiwaan. Kumpulan gejala dan tanda di atas sering dihubungkan dengan emosi, gangguan realita dan perubahan pandangan terhadap diri.Pasien dengan kelompok gejala tunggal jarang; lebih sering terjadi gabungan beberapa gejala. Sebagai contoh, pasien menderita tumor yang mengenai otak kanan dapat mengeluh letargi, sakit kepala, mati rasa dan kelemahan lengan dan tungkai kanan, kehilangan sebagian lapangan pandang, afasia ekspresif dan depresi. (7,8,10,14)



B. PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Pemeriksaan radiologi pada kelainan otak dapat dibagi atas :
1. Konvensional
-- tanpa kontras (foto polos)
-- dengan kontras (positif atau negatif)
2. CT scanning
3.MRI
4. Radioisotop
Indikasi paling sering untuk melakukan pemeriksaan-pemeriksaan ini adalah kelainan karena trauma dan tumor (proses desak ruang). Dalam jumlah kecil dilakukan pada kelainan-kelainan bawaan serta degeneratif. Kelainan akibat infeksi, sekalipun sering ditemukan di Indonesia jarang dilakukan pemeriksaan radiologik karena kurangnya manifestasi langsung yangdapat dilihat. (11)

1. FOTO POLOS
Perubahan-perubahan yang tampak pada gambaran radiologik adalah merupakan akibat dari peninggian tekanan intrakranial. Keadaan ini telah diketahui sejak tahun tiga puluhan oleh Schuller, dan makin lama makin banyak fakta-fakta yang terungkap pada kelainan tersebut. Sepertiga dari penderita-penderita dengan tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial, baik itu disebabkan tumor, abses atau hidrosefalus, pada orang dewasa atau kanak-kanak, akan menunjukkan tanda-tanda tersebut pada foto polos kepala. Sedangkan pada 20% penderita yang dengan pemeriksaan radiologik menunjukkan tanda-tanda kenaikan tekanan intrakranial, pada pemeriksaan klinis belum didapatkan adanya edema papil.



TANDA-TANDA RADIOLOGIK
Pada foto polos kepala kelainan intrakranial dapat menimbulkan perubahan yang sifatnya umum atau lokal.

Perubahan umum :
1. Peninggian tekanan intrakranial.
a. Terjadi pelebaran dari ukuran sela tursika (ballooning).
b. Pelebaran dari sutura.
c. Ekspansi rongga tengkorak.
d. Penipisan tulang batok kepala.
e. Pelebaran dari foramina.
2. Atrofi atau perkembangan jaringan otak yang terhambat.
a. Penebalan tulang batok kepala.
b. Rongga tengkorak yang kecil dengan kompensasi pertumbuhan struktur organ-organ
didalamnya.
c. Sutura cepat menutup.

Perubahan setempat :
1. Didapatkan tanda-tanda terdorongnya struktur normal oleh proses desak ruang.
a. Korpus pineale mungkin terdorong sebagai akibat langsung dari tumor, atau sekunder karena herniasi jaringan otak melalui tentorium serebri.
b. Pendorongan pada pleksus koroideus, falks atau tentorium yang semuanya berkalsifikasi.
2. Erosi setempat pada tulang akibat penekanan.
3. Penipisan setempat atau penonjolan setempat tulang akibat penekanan massa yang berlangsung lama.
4. Adanya tumor atau malformasi arteriovenosa akan menimbulkan kelainan pada tulang tengkorak.
5. Hiperostosis.
6. Adanya struktur tulang tengkorak yang abnormal dapat mengakibatkan kelainan neurologik yang sekunder.
7. Akibat peradangan pada organ-organ yang berdekatan seperti mastoid atau sinus frontalis.
8. Adanya fraktur atau akibat penyembuhan dari fraktur.
9. Pembentukan tulang yang abnormal (anomali) dengan kelainan neurologik.
10. Adanya kalsifikasi patologik intrakranial.


2. GAMBARAN CT- SCAN
CT-scan dikembangkan pada awal tahun 1970 yang berperan penting pada pemeriksaan penyakit intrakranial serta neuroradiologi. Pemeriksaan ini sensitif dalam mendeteksi lokasi dari lesi intrakranial. Keuntungan pemeriksaan ini adalah bersifat non-invasif, tidak ada rasa tidak nyaman , morbiditasnya rendah (jika tidak diperlukan kontras intra vena). CT scan lebih baik dari radio isotop scaning sehingga mulai banyak digunakan pada negara-negara maju. Sebagai pemeriksaan awal, CT scan sangat baik untuk kasus trauma kapitis dalam mendeteksi dan melokalisasi lesi perdarahan dari trauma intrakranial akut mencapai 100%. Dengan menggunakan CT scan kita dapat membedakan terjadinya edema pada kasus perdarahan serebral, juga bisa didapatkan gambaran hematoma subdural dan ekstradural. Hasil yang abnormal didapatkan pada 2-3 pasien dengan perdarahan sub arachnoid. Apabila pemeriksaan CT scan dilakukan pada hari ke -4 atau hari ke -5 kita dapat melihat daerah perdarahan. Dengan angiografi kita dapat mengetahui penyebab , dan keadaan pembuluh darah pada kasus aneurisma serta angioma. Pada kasus stroke kita dapat membedakan perdarahan serebral dengan infark. CT merupakan pilihan untuk mendeteksi pasien yang dicurigai menderita tumor kepala yang tingkat akurasi dapat mencapai 90%. Pada kasus abses serebral tingkat akurasinya mencapai 100%. CT scan sangat membantu untuk penanganan kasus hidrocephalus serta evaluasi setelah pelaksanaan operasi. (4,12)


(a) (b)
Gambar 2. (a)Penebalan cincin yang khas pada abses serebral pada lobus
frontal disekitar/sekeliling edema serebral (b)Abses serebral multipel


(a) (b)
Gambar 3. (a)CT scan. Abses serebral yang luas (b)Abses serebral multiokular



KEKHASAN CT PADA DIAGNOSIS NEOPLASMA INTRAKRANIAL
1. Lokasi yang khas. Lokasi tumor merupakan salah satu kekhasan CT yang sangat membantu untuk mendeferensiasi diagnosis suatu neoplasma. Lokasi ekstraaksial adalah khas untuk tumor tumor jinak (sela tursika, sudut serebelopontin dan daerah di sekitar duramater). Lokasi intraaksial di dalam substansi otak bagian dalam biasanya khas untuk neoplasma ganas.
2.Usia penderita saat pertama kali menunjukkan gejala.
3.Absorpsi radiasi yang khas (density) sebelum dan sesudah enhancement media kontras.
4.Komposisi tumor.
5.Konfigurasi tumor. Tepi yang rata biasanya suatu tumor jinak, sedangkan tepi yang ireguler dan berbatas tidak tegas biasanya suatu tumor ganas.
6.Multiplikasi. Multiplikasi suatu tumor intraaksial biasanya suatu Metastasis (12,16)


3. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI banyak digunakan untuk pemeriksaan lebih lanjut. MRI lebih sensitif dalam mendeteksi serebritis awal. Lesi fossa posterior mungkin tidak dapat terlihat pada CT scan sehingga memerlukan MRI untuk menetapkan diagnosis yang tepat.
Penebalan cincin lesi pada CT scan dapat menjadi diferensial diagnosis meliputi abses versus tumor primer atau metastasis. Penambahan Gadalinium pada MRI membantu mengenali lesi ini. Pada gambaran difusi, abses pyogenik memiliki sinyal yang sangat kuat , sedangkan yang nonpyogenik memiliki sinyal yang lemah atau gabungannya. Walaupun belum terdapat di unit gawat darurat, spektroskopi resonansi magnetik proton dapat digunakan untuk membedakan jenis abses. (9,14)


MRI – T1 MRI - T1 SETELAH KONTRAS

MRI – T2 MRI – T1
Gambar 5. MRI – T1:Signal rendah, MRI – T2:Signal tinggi (15)
4. PEMERIKSAAN JARINGAN OTAK DENGAN RADIO-ISOTOP
Apabila sejumlah kecil isotop radio aktif mencapai aliran darah maka ia akan segera disebar keseluruh tubuh dalam jumlah yang berbeda-beda. Banyak sedikitnya zat radio aktif dalam jaringan dapat diketahui dari jumlah radiasi yang dapat ditangkap kamera, sehingga akan tercipta suatu pola penyebaran radio aktif dalam jaringan. RISA (radio iodinated Serum albumen) serta technetium 99dalam bentuk pertechnetate merupakan materi yang digunakan untuk mendeteksi adanya tumor otak. Adanya proses patologik pada otak, seperti tumor, mengakibatkan bertambahnya cairan ekstra seluler. Komponen radio aktif diatas akan mengalami kumulasi terutama pada cairan ekstra seluler tadi, karena itu bagian ini akan memancarkan sinar radio aktif paling tinggi yang akan tampak sebagai hot-spot. Sebaliknya gambaran cold-spot menunjukkan daerah dengan vaskuler yang rendah pada daerah tersebut.
Kegunaan pemeriksaan radioisotop pada jaringan otak terutama pada tumor primer (glioma, meningioma), metastasistumor. Pada abses dan hematoma jarang dilakukan karena kurang spesifik. (11)


C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Terutama pemeriksaan darah perifer yaitu pemeriksaan lekosit dan laju endap darah; didapatkan peninggian lekosit dan laju endapan darah. Pemeriksaan cairan serebrospinal pada umumnya memperlihatkan gambaran yang normal. Bisa didapatkan kadar protein yang sedikit meninggi dan sedikit pleositosis, glukosa dalam batas normal atau sedikit berkurang
kecuali bila terjadi perforasi dalam ruangan ventrikel. (2)



VII. DIAGNOSIS BANDING
1. Gangguan pembuluh darah otak, yang bersifat oklusi dan perdarahan, terutama pada penderita abses otak dengan penyakit jantung bawaan sianotik. Jarang terjadi sebelum usia 2 tahun. Serangan nerolgik timbulnya mendadak, pada abses otak perlahan.
2. Hidrosefalus.
Gejala klinik abses otak di bawah 2 tahun, kadang-kadang sukar dibedakan dari hidrosefalus.
3. Tumor otak seperti astrositoma mempunyai gambaran klinik seperti abses otak. Dengan pemeriksaan CT scan dapat dibedakan keduanya.
4. Kelainan lain yang harus dibedakan dari abses otak adalah proses desak ruang intrakranial seperti hematoma subdural, abses subdural dan abses epidural serta hematoma epidural. (2)


VIII. PENGOBATAN
Kebanyakan abses otak berhubungan dengan higiene mulut yang buruk, infeksi sinus yang kompleks atau gangguan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, pencegahan yang terbaik adalah menjaga dan membersihkan rongga mulut dan gigi yang baik serta secara teratur mengunjungi dokter gigi. Infeksi sinus diobati dengan dekongestan dan antibiotika yang tepat. Infeksi HIV dicegah dengan tidak melakukan hubungan seks yang tidak aman.

Ada 2 pendekatan yang dilakukan dalam terapi abses otak, yaitu:
1. Antibiotika untuk mengobati infeksi. Jika diketahui infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri yang spesifik, maka diberikan antibiotika yang sensitif terhadap bakteri tersebut, paling tidak antibiotika berspektrum luas untuk membunuh lebih banyak kuman penyakit. Antibiotik seperti penisilin, nafsilin, metronidazol, dan sefalosporin.
Paling sedikit antibiotika diberikan sebanyak 6 hingga 8 minggu untuk meyakinkan bahwa infeksi telah terkontrol.
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan pemberian antibiotik, sebagai berikut:
- Bila gejala klinik belum berlangsung lama (kurang dan 1 minggu) atau kapsul belum terbentuk.
- Sifat-sifat abses:
a)Abses yang lokasinya jauh dalam jaringan otak merupakan kontraindikasi operasi.
b)Besar abses.
c)Soliter atau multipel; pada abses multipel tidak dilakukan operasi
2) Aspirasi atau pembedahan untuk mengangkat jaringan abses. Jaringan abses diangkat atau cairan nanah dialirkan keluar tergantung pada ukuran dan lokasi abses tersebut. Jika lokasi abses mudah dicapai dan kerusakan saraf yang ditimbulkan tidak terlalu membahayakan maka abses diangkat dengan tindakan pembedahan. Pada kasus lainnya, abses dialirkan keluar baik dengan insisi (irisan) langsung atau dengan pembedahan yaitu memasukkan jarum ke lokasi abses dan cairan nanah diaspirasi (disedot) keluar. Jarum ditempatkan pada daerah abses oleh ahli bedah saraf dengan bantuan neurografi stereotaktik, yaitu suatu tehnik pencitraan radiologi. Keberhasilan pengobatan dilakukan dengan menggunakan MRI scan atau CT scan untuk menilai keadaan otak dan abses tersebut. CT scan atau MRI dilakukan tiap 2 minggu. Antikonvulsan diberikan untuk mengatasi kejang dan penggunaannya dapat diteruskan hingga abses telah berhasil diobati. (8)




IX. PROGNOSIS
Tergantung dari:
1) Cepatnya diagnosis ditegakkan
2) Perubahan patologis
3) Soliter atau multipel
4) Penanganan yang adekuat.
Dengan alat-alat canggih dewasa ini abses otak pada stadium dini dapat lebih cepat didiagnosis sehingga prognosis lebih baik. Prognosis abses otak soliter lebih baik dan mu1ipe1.
Tanpa pengobatan yang adekuat, abses otak berakibat fatal. Saat ini, dengan pemeriksaan diagnostik dan antibiotika yang canggih, banyak penderita abses otak terobati dengan sangat baik. Sayangnya, masalah-masalah neurologis jangka lama sering terjadi setelah abses diangkat dan infeksi telah diobati. Misalnya, gejala-gejala sisa yang menyangkut fungsi tubuh, perubahan kepribadian atau kejang akbat jaringan parut atau kerusakan lain yang terbentuk pada jaringan otak. (1,2)







DAFTAR PUSTAKA

1.Brain Abscess. [serial online]. 2007. [cited 2008 oct 21]; Available from: URL: http://www.thebrainmatters.org/
2.Kamaluddin MT, Abses otak. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from: URL: http://www.yahoo.com
3. Riechers RG, II, Jarell AD, Ling GS.F. Infections of the Central Nervous System. In : Suares JI, eds. Critical Care Neurology and Neurosurgery. Inc.;2004:524-526
4. Simon G. Special neuroradiological investigations. In : Wightman AJ.A, eds. Clinical Radiology. Fourth Edition. London Boston Durban Sydney Toronto Wellington : Butterworths : 283
5. Kaye AH. Infection of the Central Nervous System. In : Kaye AH, eds. Essential Neurosurgery. Inc.; 2005 : 173
6. Wilkinson I. Infections of the Central Nervous System. In : Lennox G, eds. Essential Neurology. Inc.; 2005 : 240
7. Brain Injury. [serial online]. 2000. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.freewebs.com
8. Abses otak. [serial online]. [cited 2008 oct 22]; Available from : URL : http://www.tanyadokter.com
9. Brain abscess. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.emedicine.com
10. Abses otak. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.medicastore.com
11. Peranan Radiologik Pada Kelainan Otak. [serial online]. [cited 2008 oct 2001]; Available from : URL : http://www.yahoo.com
12. Peran CT scan pada Diagnosis T umor Otak. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.yahoo.com
13. Brain Abscess. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.hku.hk/patho/pracs/CNS/prac 1/49 a.htm
14. Benign Skull Tumors. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www. Emedicine.com
15. Pyogenic Brain Abscess. [serial online]. 2008 jan 10. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.radswiki.net/main/index.php?title=pyogeni
16. Double jeopardy ; Brain abscess and subdural empyema presenting with painful enlargement of orbital varices in a patient with known encephalocele. [serial online]. [cited 2008 oct 21]; Available from : URL : http://www.yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar