Kamis, 20 Agustus 2009

Rumah Penuh Warna; Sebuah Catatan Sertaan Mengenang Medica...(dr Joko Hendarto)

”Rumah ini lebih kepada pelangi dari pada sebuah foto hitam putih, ada banyak warna di sini. Dan akan ada banyak yang takkan kita senangi, namun yakinlah, bahwa pasti ada warna yang kan kita cintai” ( Pesan sambutan seorang warga asrama pada Sebuah acara sakral Ketuk Pintu Asrama Medica)


Pagi-pagi sebelum ke Rumah Sakit, cukup menyiduk (tanpa permisi) kopi Toraja di kamar kak Joko, menambang gula di kamar mas Oji (dr Ahmad Fauzi) juga tanpa permisi, biasanya bang Gani telah siap dengan sekantong kue yang di beli selepas shalat subuh di kamarnya, langsung di eksekusi pula, lengkap sudah dengan hanya berbekal gelas dan air panas, sempurnalah pengantar pagi yang nikmat. Ditemani sebuah harian pagi di ruang tamu menikmati awal pagi, duduk bersama-sama lalu sesekali memandang keluar pintu menanti sesuatu, seperti khawatir kalau saja sang pemilik mata yang indah tak lewat pagi itu...he.he Begitulah ritual pagi yang berulang-ulang tapi selalu saja indah.

Terkesan membaca catatan Mengenang Medica...(dr Joko Hendarto) yang di posting beberapa waktu yang lalu, membacanya seolah tertarik kembali surut beberapa saat ke belakang. Saat itu, ketika masih berkumpul di rumah bersahaja Medica, rumah yang rela menampung aneka ragam keunikan ”anak-anaknya”. Keragaman karakter yang menjadi kekayaan inspirasi, setiap hari selalu ada saja hal-hal yang layak didiskusikan, diperdebatkan, diperselisihkan, diceritakan bahkan ditertawakan. Dari hal yang sepele perihal bau badan yang mencederai hak dasar saraf pembau menikmati udara segar, perseteruan klasik perebutan supremasi kejayaan kamar atas versus kamar bawah, sampai hal-hal aneh dan rasis yang agak rawan, di tema ini dr Rizal (asal Enrekang) sering menjadi otak intelektual perdebatan, dengan provokasi tanpa landasan ilmiah dan meludahi sejarah, konon katanya kekuasaan kerajaan Enrekang telah mengangkangi teritorial kerajaan Luwu bahkan menginvasi jauh menyeberangi Selat Bone menjajah tanah Buton, yang kontan di tolak mentah-mentah dr Leo Tahrium (asal Palopo) apalagi dr Laode Awal ( putra Buton) protes dengan murka, jelas tidak terima. Sampai pada hal-hal yang serius, diskusi dan perdebatan khas aktivis pergerakan tentang ideliasme, perlawanan dan peradaban juga tentang Tuhan dan candu.

Begitulah kemajemukan di rumah itu menjadi khasanah warna yang terangkai saling berangkulan dalam sinergi yang kontras namun harmonis, perbedaan takluk dalam kedewasaan saling menghormati. Saya begitu bersyukur ditakdirkan telah menjadi bagian dari jalinan warna itu, walaupun terang saya tak mencolok, justru sayalah yang banyak menyerap kekayaan warna itu. Saya kagum dengan beberapa kawan-kawan yang meneladankan karakter luar biasa; kanda dr Joko yang waktu menjadi junior asrama, selalu berusaha setia pada amanah, pagi-pagi telah selesai menyapu lantai koridor setelah sebelumnya memasak air dan membersihkan piring di ruang makan, semua dilaksanakan tanpa beban, sementara di saat yang sama waktu itu adalah ia adalah sosok yang ditokohkan di kalangan mahasiswa dan salah satu pentolan aktivis kampus, ini tentang jiwa besar. dr Suparman yang rajin mengecek jumlah SKS yang tersisa dan hasil ujian bagian, ini tentang perhatian seorang saudara. Dr Akmal yang rajin tak bosan-bosan mengingatkan kaderisasi dan pentingnya menjaga nilai-nilai baik asrama, ini tentang kepemimpinan. Dr Yakub yang tak pernah ketinggalan dan mengajak shalat berjamaah, ini tentang istiqomah. Dr Gani yang selalu rela berbagi bantal dan lauk, ini tentang persaudaraan. Dr Ambo Tuwo Nurdin yang menghabiskan begitu banyak waktu duduk di depan tumpukan textbook, ini tentang berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Serta masih ada yang lain.

Dan akhirnya melalui tulisan ini juga saya ingin menghaturkan banyak terimaksih kapada kawan-kawan senior dan junior yang secara langsung ataupun tidak, sadar ataupun tidak telah turut mencerahkan warna saya; Terkhusus kepada dr Ambo Tuwo Nurdin dan dr Safiuddin senior kamar saya. Dr ikhsan Nasir, dr Ahmad Ihsan, Kanda Priyo, dr A Fajar Wela, dr Tantowi Jauhari, dr Ade Anugrah, dr Ilham Arif, dr Hendra, dr idrus, dr Tomy Murtamin, dr Hayun, dr Irfan, dr Yusri DJ, dr Lukman ’igor’, dr Fadli Said, dr Junaidi Malik, dr. Ismail, adinda Herud, Affan, Kone, Asrul, Ucup, dan Yazid, serta kawan-kawan yang lain. Mohon maaf juga atas kebelum beresan saya menjadi seorang saudara yang baik. Rindu rasanya pada teriakan khas itu...Kumpuuul!!!
Salam untuk kawan-kawan semua. -nuas-

Timika Papua, 19:19 WIT 12 April 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar